Silatnas Pariwisata dan Ekraf Muhammadiyah Perkuat Kolaborasi Menuju Wisata Berkemajuan
YOGYAKARTA — Muhammadiyah mulai memperkuat konsolidasi potensi pariwisata dan ekonomi kreatif melalui Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah yang dibuka pada Sabtu (25/10) di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Agenda ini menjadi momentum untuk mempertemukan potensi pelaku usaha, memperluas jejaring, dan membangun ekosistem pariwisata yang ramah muslim serta berkelanjutan.
Pembukaan Silatnas dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., beserta jajaran, perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Ketua Lembaga Ekonomi Kreatif PP Muhammadiyah, Warsangka, S.Si., menyampaikan bahwa Silatnas menjadi ruang untuk merajut kolaborasi dan menggerakkan potensi yang dimiliki Muhammadiyah dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Melalui tema “Merajut Kolaborasi Menggerakkan Potensi Menuju Pariwisata yang Berkemajuan”, kegiatan ini diharapkan mampu mempertemukan berbagai potensi di daerah dan membangun jejaring usaha yang saling menguatkan.
“Jadi, kita ingin mempertemukan berbagai potensi yang ada di wilayah dan daerah, kemudian berjaringan bersama untuk mewujudkan pariwisata berkemajuan yang bermanfaat bagi masyarakat dan umat,” ujarnya.
Warsangka berharap, konsolidasi tersebut dapat melahirkan rumusan dan langkah bersama untuk mengembangkan pariwisata yang ramah lingkungan sekaligus ramah muslim. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki potensi untuk turut mendorong pengembangan pariwisata ramah muslim melalui kekuatan jaringan organisasi dan para pelaku usaha yang tersebar di berbagai daerah.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Eling Priswanto, S.E., M.M., menilai kehadiran Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (LPEK) Muhammadiyah menjadi langkah strategis dalam memperluas medan pengabdian Persyarikatan.
Ia menegaskan, pariwisata dan ekonomi kreatif tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Kedua sektor tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan potensi manusia, memperkuat identitas budaya, membangun kemandirian ekonomi, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Menurutnya, Silatnas dapat menjadi ruang konsolidasi gagasan, pertukaran pengalaman, penguatan jejaring, sekaligus titik temu berbagai potensi Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Dengan jaringan organisasi yang luas, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, komunitas kewirausahaan, serta sumber daya manusia yang tersebar di berbagai daerah, Muhammadiyah dinilai memiliki modal sosial dan kelembagaan untuk membangun ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang saling terhubung, inovatif, dan berdaya saing.
Bagi DIY, pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif memiliki posisi strategis. Yogyakarta memiliki kekayaan sejarah, kebudayaan, pendidikan, serta kreativitas masyarakat yang menjadi daya tarik daerah. Selain itu, sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah, Yogyakarta menyimpan jejak sejarah perjuangan dan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang dapat dikembangkan melalui wisata sejarah, religi, dan edukasi.
Eling berharap, pertemuan nasional tersebut mampu mempererat kolaborasi antara pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif Muhammadiyah, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta komunitas kreatif.
Kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi digital, serta penciptaan produk kreatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan etika, keluhuran budaya, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan lingkungan sebagai landasan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kemajuan industri, lanjutnya, perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter masyarakat dan pemerataan manfaat ekonomi. Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menghadirkan kesejahteraan yang berkeadilan.
Eling turut berharap agar Silatnas ditindaklanjuti melalui kerja sama konkret, program terukur, dan jejaring usaha yang saling menguatkan. Dengan begitu, potensi besar Muhammadiyah dapat dikonsolidasikan menjadi kekuatan ekonomi kolektif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula bahwa DIY menerima penghargaan sebagai salah satu daerah yang masuk dalam 10 besar Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. Capaian ini menjadi salah satu modal untuk memperkuat pengembangan pariwisata ramah muslim di Yogyakarta.
Kolaborasi antara Muhammadiyah, pemerintah daerah, dan pelaku usaha diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas layanan serta fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim.
Sinergi tersebut juga diharapkan mampu memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang tidak hanya mengandalkan kekayaan budaya dan sejarah, tetapi juga menghadirkan pengalaman berwisata yang nyaman, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Pengembangan pariwisata ramah muslim diharapkan tetap berjalan seiring dengan pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Silatnas Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Ahad (25-26/10) dengan sejumlah agenda yang menarik. Mulai dari Senam dan Wellness Kolosal 1.500 Perempuan Berkemajuan, Run and Walk for Flores, Lomba Crafting TK ABA se-DIY, Muhammadiyah Stand Up Comedy Show, Festival Animasi Pelajar, diskusi panel, serta peneguhan ideologi.
Selain itu, tersedia bazar yang menghadirkan berbagai produk barang dan jasa terkait pariwisata dan ekonomi kreatif. Bazar ini menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang kerja sama dan memperluas jangkauan pasar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow