Iwan Setiawan: Tanpa 'Aisyiyah, Muhammadiyah akan Kehilangan Arah

Iwan Setiawan: Tanpa 'Aisyiyah, Muhammadiyah akan Kehilangan Arah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. Iwan Setiawan, M.S.I., menegaskan bahwa perempuan punya peran penting dalam Muhammadiyah melalui ‘Aisyiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah, bahkan menjadi ruh dari gerakan persyarikatan. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Musyawarah Kerja Wilayah II Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY, Sabtu (24/10). 

Menurut Iwan, sebagaimana yang tertuang dalam lirik lagu Mars ‘Aisyiyah, kewajiban ‘Aisyiyah adalah menjadi tiang utama. Artinya tanpa ‘Aisyiyah, Muhammadiyah akan kehilangan arah.

“Tanpa adanya perempuan, laki-laki seperti kehilangan arah. Muhammadiyah tanpa adanya ‘Aisyiyah juga begitu, karena keduanya itu saling melengkapi,” ujar Iwan.

Maka, menurutnya, tak salah ketika dulu KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan mengajak kaum perempuan untuk berorganisasi. Untuk para perempuan, melalui Pengajian Sopo Tresno yang jadi cikal bakal ‘Aisyiyah, sedangkan perempuan muda ke dalam Siswa Projo Wanita yang kemudian menjadi Nasyiatul ‘Aisyiyah. Hal ini menjadikan Muhammadiyah sangat anggun sekali karena ada perempuan yang ikut bergerak.

Karena itu, Iwan menilai Nasyiatul ‘Aisyiyah bersama Pemuda Muhammadiyah memiliki lahan dakwah yang sebenarnya sangat spesifik sekali. Bila Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) spesifik ke sekolah dan remaja, begitu juga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di lingkungan mahasiswa, maka Nasyiatul ‘Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah sangat spesifik sekali dari kampung ke kampung atau masjid ke masjid.

Terlebih, PWM DIY punya program prioritas yang salah satunya aktivasi Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah 100 persen di tingkat cabang atau kecamatan, lalu 60 persen di ranting atau desa/kelurahan. Ini adalah usaha Muhammadiyah untuk membuat dakwah di masyarakat makin dinamis sehingga keberadaan Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah di akar rumput jadi penting.

“Karena memang tanpa ada kegiatan (Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah) di akar rumput, nanti kita kehilangan kader-kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di tingkat ranting, cabang, ataupun juga di tingkat daerah,” tutur Iwan.

Agar kegiatan di akar rumput hidup, maka kader Muhammadiyah, khususnya Nasyiatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah harus menjadi contoh yang baik. Sesederhana ketika ada acara di kampung, acara masjid, dan sebagainya, tentunya akan diundang untuk mengisi kultum, kajian, dan khutbah Jumat. 

Tidak hanya di dunia nyata, di dunia Maya juga harus menjadi role model. Dengan internet dan media sosial, membuat ruang dakwah Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah bisa dikembangkan lebih lanjut. 

“Saya rasa penting menghidupkan media sosial kita untuk menyampaikan nilai-nilai yang baik di masyarakat. Itu bisa menjadi kampanye yang sederhana berkaitan dengan Nasyiatul ‘Aisyiyah, jadi perlu merancang bagaimana mengemasnya agar (konten media) individu ataupun organisasi bisa bermakna dan bisa mempengaruhi publik,” papar Iwan.

Mewakili PWM DIY, Iwan Setiawan mengucapkan selamat atas terselenggaranya Musykerwil II Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY, dalam rangka persiapan menuju Musyawarah Wilayah pada akhir 2026 nanti. Iwan berharap hasil dari Musykerwil memuat gagasan kader Nasyiatul ‘Aisyiyah terhadap isu terkini dan menguatkan organisasi di masa kini maupun mendatang.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow