Jaga Idealisme Pers, Suara Muhammadiyah Perkuat Diversifikasi Usaha
YOGYAKARTA — Suara Muhammadiyah tengah memperkuat diversifikasi usaha di luar sektor media sebagai strategi menjaga idealisme pers sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis di tengah tantangan industri media modern.
Strategi tersebut disampaikan Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah, Deni Asy’ari, M.A., Dt. Marajo, dalam Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di Ballroom SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Kamis (13/8) malam.
Menurut Deni, diversifikasi usaha menjadi langkah penting agar kepentingan finansial perusahaan tidak mengorbankan independensi dan idealisme redaksi.
“Kadang-kadang dapur redaksi itu mudah dikalahkan oleh dapur perusahaan karena kepentingan finansial, sehingga idealisme jurnalisme itu kadang-kadang runtuh,” katanya.
Ia menegaskan, Suara Muhammadiyah tidak ingin berada dalam situasi tersebut. Karena itu, penguatan sektor usaha di luar media dipandang sebagai salah satu jalan untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kokoh.
“Ke depan kita akan melihat Suara Muhammadiyah dalam bentuk properti, bangunan, restoran, dan berbagai jenis usaha lain,” ungkap Deni.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari konsep “dakwah bil hal”, yang melengkapi dakwah melalui tulisan atau “dakwah bil kalam” yang selama ini menjadi kekuatan Suara Muhammadiyah.
Deni juga menilai Milad ke-111 Suara Muhammadiyah memiliki makna khusus karena bertepatan dengan Hari Pers Muhammadiyah yang diperingati setiap 13 Agustus. Tanggal tersebut merujuk pada kelahiran Majalah Suara Muhammadiyah.
“Kalau Hari Pers Nasional ditetapkan 9 Februari, kalau Hari Pers Muhammadiyah ditetapkan tanggal 13 Agustus, karena bertepatan dengan kelahiran Majalah Suara Muhammadiyah,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deni turut menyinggung penganugerahan Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Menurut Deni, kartu tersebut tidak diberikan semata-mata karena posisi Haedar sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Proses pengajuannya pun berlangsung panjang dan membutuhkan waktu hampir tiga tahun.
“Untuk memperoleh Kartu Wartawan Utama ini memang tidak mudah, bukan karena Pak Haedar Ketua Umum. Kalau alasannya karena Ketua Umum, mungkin semua Ketua Umum PP Muhammadiyah dapat Kartu Wartawan Utama,” ujarnya.
Gagasan pengembangan bisnis Suara Muhammadiyah tersebut mendapat dukungan langsung dari Haedar Nashir. Dalam amanat Milad ke-111, Haedar mengungkapkan cita-citanya bersama Deni untuk membawa Suara Muhammadiyah menjadi sebuah ekosistem korporasi besar.
Cita-cita tersebut menjadi penegasan bahwa keberlanjutan media dakwah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan redaksi, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem usaha yang sehat dan mandiri.
Semangat ekspansi tersebut turut tercermin melalui peluncuran batik bermotif Kelor Palu, hasil kolaborasi Suara Muhammadiyah dengan PWM Sulawesi Tengah. Motif tersebut mengangkat kearifan lokal Sulawesi Tengah untuk diperkenalkan melalui jejaring Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia.
Ketua PWM Sulawesi Tengah Muh. Amin Parakkasi menyebut inisiatif tersebut turut digagas oleh Deni Asy’ari sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi lokal melalui jejaring Muhammadiyah.
Arah pengembangan tersebut sejalan dengan tema Milad ke-111 Suara Muhammadiyah, “Melangkah Lebih Jauh, Tumbuh Lebih Tangguh.” Bagi Suara Muhammadiyah, tema tersebut bukan sekadar slogan perayaan, tetapi menjadi semangat untuk memperluas gerak, memperkuat kemandirian, dan menjaga keberlanjutan pers dakwah di tengah perubahan zaman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow