42 Tahun Jadi Wartawan, Haedar Nashir: Saya Jurnalis, Maka Saya Ada
YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. mengenang perjalanan 42 tahunnya di dunia jurnalistik dalam amanat Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di Ballroom SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Kamis (13/8) malam.
Amanat tersebut sekaligus menjadi ungkapan syukur Haedar atas penganugerahan Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers yang diterimanya pada hari yang sama.
Di awal amanat, Haedar menyampaikan terima kasih atas testimoni yang diberikan sejumlah tokoh, di antaranya Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah, dan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah Muchlas MT.
Haedar kemudian membuka kembali lembaran perjalanan panjangnya sebagai jurnalis. Sejak 1984, ia menekuni dunia jurnalistik, mulai dari wartawan, redaktur, hingga dipercaya menjadi pemimpin redaksi.
Ia mengaku pernah memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan kartu wartawan resmi. Namun, situasi pada masa Orde Baru membuat proses tersebut tidak mudah.
“Sebenarnya saya ingin sekali punya kartu wartawan, tapi saat itu era Orde Baru, untuk jadi wartawan resmi harus ikut proses lewat Kementerian Penerangan, dan itu tidak mudah. Jadi ya sudah, saya jadi wartawan beneran tapi tidak punya kartu,” kenang Haedar.
Penantiannya akhirnya terwujud pada 2026. Setelah 42 tahun menjalani profesi jurnalistik, Haedar memperoleh kartu wartawan resmi dari Dewan Pers.
“Saya jadi teringat filosofi seorang filsuf: saya berpikir, maka saya ada. Saya jurnalis, maka saya ada,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga membagikan sisi personal dari perjalanan kepenulisannya. Ia mengaku sejak kecil memiliki kemampuan mengingat apa yang dibacanya. Kemampuan tersebut kemudian menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan intelektual dan karier menulisnya.
Ia juga mengenang sebuah mesin tik bersejarah yang dimilikinya. Mesin tik tersebut dibeli menggunakan uang beasiswa pertama yang diterimanya ketika kuliah.
Benda itu sempat hilang setelah dipinjam seorang kader dan kemudian digadaikan. Namun, setelah melalui perjalanan panjang, mesin tik tersebut akhirnya kembali ke tangan Haedar.
“Nanti saya taruh bersama kartu wartawan ini, karena sama-sama bersejarah,” katanya.
Tak hanya mengenang perjalanan personal, Haedar juga menyoroti tantangan dunia jurnalistik dan komunikasi di era digital. Menurutnya, sikap objektif dan kritis harus menjadi fondasi dalam kerja jurnalistik maupun keilmuan.
Ia mengingatkan bahaya manipulasi opini dan informasi yang mengatasnamakan ilmu maupun prinsip agama. Karena itu, Haedar mengajak MPI PP Muhammadiyah mengembangkan konsep “Al-Hujurat Ethics”, yakni elaborasi etika komunikasi yang bersumber dari nilai-nilai dalam Surat Al-Hujurat ayat 1–13.
Konsep tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan komunikasi di era media sosial, terutama dalam menghadapi hoaks, informasi yang belum terverifikasi, serta kecenderungan menerima informasi secara gegabah.
Bagi Haedar, tradisi pers Muhammadiyah tidak cukup hanya menghasilkan informasi, tetapi juga harus membangun budaya komunikasi yang berlandaskan etika, ketelitian, dan tanggung jawab.
Menutup amanatnya, Haedar menegaskan komitmennya bersama Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah Deni Asy’ari untuk terus mengembangkan Suara Muhammadiyah.
Ia berharap media yang telah berusia 111 tahun tersebut tidak hanya mampu bertahan, tetapi berkembang menjadi ekosistem korporasi besar tanpa meninggalkan idealisme pers dan dakwah Muhammadiyah.
“Saya punya cita-cita besar bersama Mas Deni, ingin ini jadi korporasi besar,” ujarnya.
Haedar juga berharap tetap dapat memberikan kontribusi bagi Suara Muhammadiyah meskipun kelak telah menyelesaikan masa tugasnya di PP Muhammadiyah.
Dengan perjalanan 42 tahun di dunia jurnalistik dan penganugerahan Kartu Wartawan Utama Khusus, malam Milad ke-111 Suara Muhammadiyah menjadi momentum personal sekaligus simbolis bagi Haedar. Perjalanan panjang sebagai jurnalis, penulis, dan intelektual Muhammadiyah kembali diteguhkan dalam satu kalimat sederhana: “Saya jurnalis, maka saya ada.”
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow