Warga Muhammadiyah DIY Gelar Salat Istisqa, Berdoa Memohon Turun Hujan

Warga Muhammadiyah DIY Gelar Salat Istisqa, Berdoa Memohon Turun Hujan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Warga Muhammadiyah di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar salat istisqa pada hari Jumat (23/10) sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan setelah berlangsungnya musim kemarau panjang. 

Salat istisqa menjadi momentum bagi warga Muhammadiyah untuk berdoa bersama, memohon pertolongan Allah Swt., sekaligus melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, dan memperkuat hubungan dengan Allah.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A., menekankan bahwa menghadapi persoalan air dan hujan tidak hanya membutuhkan ikhtiar lahiriah, tetapi juga kesadaran spiritual. Melalui salat istisqa, umat Islam diajak kembali kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, serta menyadari besarnya nikmat iman dan Islam yang telah diberikan.

Istisqa merupakan permohonan kepada Allah agar menurunkan hujan. Namun, menurut Ikhwan, makna istisqa tidak semata-mata berkaitan dengan kekeringan atau kekurangan air.

"Secara lebih luas, istisqa merupakan bentuk pengakuan atas ketergantungan manusia kepada Allah ketika menghadapi persoalan air di luar kendalinya, baik ketika air sulit diperoleh maupun ketika curah hujan berlebihan menimbulkan musibah," kata Ikhwan dalam khutbah salat Istiqa di Lapangan Bintang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ia juga menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mencontohkan berbagai cara untuk memohon hujan. Di antaranya dengan keluar ke lapangan untuk melaksanakan salat dan menyampaikan khutbah, berdoa ketika khutbah Jumat, serta memanjatkan doa memohon hujan di masjid maupun dalam situasi lainnya.

Salah satu pesan utama dalam khutbah tersebut adalah pentingnya memperbanyak istighfar dan taubat. Ikhwan mengajak jamaah menjadikan salat istisqa sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri, menyadari kesalahan, dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt.

Pesan tersebut merujuk pada Surah Hud ayat 52, yang mengisahkan seruan Nabi Hud kepada kaumnya agar memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Dalam ayat tersebut, taubat dikaitkan dengan janji turunnya hujan yang berlimpah serta bertambahnya kekuatan. Pesan serupa juga terdapat dalam Surah Nuh ayat 10–12, ketika Nabi Nuh mengajak kaumnya memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun.

“Ayat-ayat tersebut menggambarkan bahwa istighfar tidak hanya dikaitkan dengan turunnya hujan, tetapi juga dengan keberkahan lain, seperti kelimpahan rezeki, keturunan, kebun-kebun, dan aliran sungai,” tuturnya.

Melalui kedua kisah tersebut, jamaah diingatkan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan lisan, melainkan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kehidupan. Taubat menjadi momentum untuk mengakui kesalahan, meninggalkan perbuatan dosa, serta berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik.

Dalam konteks salat istisqa, pesan tersebut mengajak umat Islam untuk tidak hanya memohon perubahan keadaan, tetapi juga melakukan perubahan dalam diri. Permohonan kepada Allah perlu disertai kesungguhan untuk memperbaiki perilaku, meningkatkan ketakwaan, dan menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari.

Ikhwan turut mengajak jamaah dan warga Muhammadiyah menyadari besarnya nikmat iman dan Islam. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong umat untuk semakin bersyukur, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi perbuatan zalim.

Jamaah juga diajak bermuhasabah atas berbagai kesalahan yang mungkin dilakukan selama ini. Ajakan tersebut bukan untuk memastikan bahwa kekeringan merupakan akibat langsung dari kesalahan seseorang, melainkan sebagai pengingat agar manusia senantiasa mengevaluasi diri dan tidak melupakan pentingnya taubat dalam kehidupan beragama.

Sikap tersebut selaras dengan semangat salat istisqa sebagai ibadah yang melibatkan doa, kerendahan hati, dan pengakuan atas keterbatasan manusia. Ketika menghadapi keadaan yang sulit dikendalikan, umat Islam diajak memperkuat ikhtiar sekaligus menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.

Pada bagian doa, jamaah bersama-sama memohon agar Allah menurunkan hujan yang baik, lebat, segera, dan membawa manfaat. Hujan diharapkan menjadi rahmat yang mengairi kehidupan manusia dan hewan, menyuburkan bumi, serta menghidupkan kembali wilayah yang mengalami kekeringan maupun yang dilanda bencana kebakaran.

Pelaksanaan salat istisqa di berbagai wilayah DIY, termasuk di UMY, menjadi wujud ikhtiar spiritual warga Muhammadiyah dalam menghadapi persoalan kekeringan. Melalui doa bersama tersebut, warga Muhammadiyah juga diajak memperkuat keimanan, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow