Film DARWISY Ungkap Masa Kecil KH Ahmad Dahlan, Tayang di Bioskop November 2027
YOGYAKARTA — Sebelum dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dulunya adalah seorang anak yang bernama Muhammad Darwisy. Masa kecil tokoh besar Islam ini akan diangkat ke layar lebar melalui film DARWISY, yang menawarkan perspektif berbeda tentang perjalanan hidup sang pendiri Muhammadiyah.
Bukan sekadar mengulang sejarah, film produksi Langit Pictures Indonesia ini mengajak penonton mengenal kehidupan Darwisy ketika masih anak-anak, mulai dari hubungan keluarga dan persahabatan hingga karakter serta spiritualitas yang mulai tumbuh sejak dini.
Film DARWISY diperkenalkan dalam rangkaian Silaturahmi Nasional (Silatnas) Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah di Student Dormitory UMY Hotel Convention, Yogyakarta, Sabtu (24/10). Proyek film ini dikembangkan bersama Yayasan KHA Dahlan serta Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (LPEK) PP Muhammadiyah.
Berbeda dengan film Sang Pencerah yang dirilis pada 2010, DARWISY mengambil latar waktu yang lebih awal, yakni masa kanak-kanak Muhammad Darwisy sebelum dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan dan mendirikan Muhammadiyah.
Cicit sekaligus perwakilan keluarga keturunan KH Ahmad Dahlan, Nur Aisyah Haifani, mengatakan masyarakat perlu mengenal sosok Darwisy sebelum memahami perjalanan hidupnya hingga menjadi tokoh berpengaruh.
“Kita harus mengenali seseorang yang selama ini sudah tampil menjadi dewasa. Dicari ke belakang, siapa dia? Ternyata Darwisy,” kata Nur Aisyah.
Menurutnya, film ini diharapkan dapat memperkenalkan Muhammad Darwisy sebagai seorang anak, bukan langsung menghadirkannya sebagai sosok KH Ahmad Dahlan yang telah dikenal masyarakat luas.
“Bahkan ketika orang masuk, mereka enggak tahu itu Kiai Haji Ahmad Dahlan,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, penonton diharapkan dapat mengikuti cerita Darwisy sebagai seorang anak terlebih dahulu, sebelum menyadari identitas tokoh yang menjadi pusat kisah. Cara ini diharapkan membuat perjalanan hidup Darwisy terasa lebih dekat dan manusiawi.
Produser film DARWISY, Ferly Halim, menegaskan bahwa film ini bukan sekuel Sang Pencerah. Alih-alih menceritakan kembali perjalanan Ahmad Dahlan ketika dewasa, film ini berfokus pada kehidupan Darwisy sebagai seorang anak yang tumbuh bersama keluarga dan teman-temannya.
“Film DARWISY itu adalah film yang bergenre anak-anak, inspirasi, dan bertualang,” kata Ferly.
Ia menjelaskan, cerita tidak berfokus pada persoalan politik ataupun kehidupan Ahmad Dahlan setelah dewasa. Tim produksi justru ingin menggambarkan proses pertumbuhan seorang anak dan pembentukan karakternya.
“Kita enggak ada bicara politik. Kita enggak ada bicara tentang seseorang yang sudah menjadi seseorang, tetapi kita benar-benar membicarakan seseorang yang masih berproses,” ujarnya.
Penonton akan diajak melihat kehidupan Darwisy melalui hubungannya dengan orang tua, pertemanan, serta karakter yang mulai menonjol sejak kecil.
“Bagaimana dia berbakti dengan orang tua, bagaimana spiritualnya yang tajam, bagaimana dia menjadi seorang anak yang memang sudah menonjol,” ungkap Ferly.
Menurutnya, cerita sengaja tidak langsung menggambarkan Darwisy sebagai tokoh besar. Penonton akan mengikuti perjalanan seorang anak yang menjalani fase pertumbuhan sebagaimana manusia lainnya.
“Darwisy adalah kita semua. Seseorang pasti melewati fase untuk bertumbuh,” katanya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa setiap tokoh besar memiliki perjalanan panjang. Masa kanak-kanak menjadi bagian penting dalam proses pembentukan kepribadian, termasuk bagi Muhammad Darwisy sebelum dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan.
Untuk mengembangkan cerita, tim produksi melakukan riset selama sekitar enam hingga tujuh bulan di Yogyakarta. Penelitian tersebut melibatkan keluarga KH Ahmad Dahlan, budayawan, sejarawan, organisasi, hingga museum.
“Kami bikin beberapa klaster yang berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda juga,” kata Ferly, menjelaskan proses pengumpulan informasi untuk membangun cerita.
Ia mengungkapkan, pengembangan naskah masih berlangsung. Tim terus mengevaluasi dan menyusun ulang premis agar cerita memiliki kekuatan dramatis sekaligus menyampaikan pesan yang bermakna bagi penonton.
Penulis naskah DARWISY, Ali Ghifari, mengatakan keterbatasan catatan sejarah mengenai kehidupan Muhammad Darwisy pada masa kanak-kanak menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penulisan cerita.
Menurut Ali, masyarakat pada masa itu belum mengetahui bahwa Darwisy kelak akan dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan dan mendirikan Muhammadiyah. Karena itu, kehidupan masa kecilnya tidak terdokumentasikan secara lengkap.
“Orang-orang di zaman itu tidak tahu bahwa Muhammad Darwisy kelak akan mendirikan organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah,” kata Ali.
Ia menjelaskan, tidak semua fragmen kehidupan Darwisy dapat ditemukan melalui sumber sejarah yang tersedia. Kondisi tersebut membuat tim harus mengembangkan cerita secara hati-hati, terutama dalam menghubungkan informasi sejarah dengan kebutuhan penceritaan film.
“Jadi enggak ada yang nyatet bahwa, ‘Wah, anak kecil ini nanti akan jadi hero.’ Pada akhirnya, fragmen-fragmen masa kecil Muhammad Darwisy itu tidak bisa diceritakan utuh karena banyak sekali yang kami enggak bisa temukan,” ujarnya.
Meski demikian, keterbatasan sumber sejarah tersebut juga membuka ruang kreativitas bagi tim untuk mengembangkan alur cerita yang menarik tanpa kehilangan nilai pembelajaran.
“Di situlah akhirnya kita punya kebebasan kreatif untuk menciptakan satu cerita yang bisa disajikan tetap jadi hiburan, tetapi juga bisa diambil pelajaran di dalamnya,” ungkap Ali.
Ali menegaskan, DARWISY tidak hanya ditujukan kepada penonton anak-anak, tetapi juga dikembangkan sebagai film keluarga ramah anak yang dapat dinikmati bersama.
“Film DARWISY yang akan kita hadirkan nanti adalah film yang bukan hanya ditonton anak-anak, tetapi ini film keluarga ramah anak,” katanya.
Ia berharap film ini dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh anggota keluarga. Orang tua diharapkan memperoleh bahan refleksi mengenai proses tumbuh kembang anak, sedangkan anak-anak dapat menemukan inspirasi yang bisa dibagikan kepada teman-teman mereka.
“Jadi ketika nanti datang ke bioskop, orang tuanya punya sesuatu untuk dibawa pulang, anaknya punya sesuatu untuk ngajak teman-temannya nonton,” ujarnya.
Ferly menambahkan, DARWISY tidak akan menjadi film biopik yang sekadar menyusun fakta-fakta sejarah kehidupan Ahmad Dahlan. Tim produksi ingin menghadirkan pendekatan penceritaan yang berbeda dari film sejarah pada umumnya.
“Jangan berharap menonton film biopik yang sifatnya memapar hanya fakta sejarah saja. Kami akan kasih sesuatu yang beda yang biasanya enggak dilakukan sama film-film sejarah di Indonesia untuk merangkum sebuah tokoh,” kata Ferly.
Film DARWISY ditargetkan tayang di bioskop pada November 2027. Setelah menggarap versi live action, tim produksi juga berencana mengembangkan kisah tersebut dalam format animasi.
Melalui penggambaran masa kecil Muhammad Darwisy, Langit Pictures berharap masyarakat dapat mengenal sisi lain KH Ahmad Dahlan. Film ini sekaligus ingin menyampaikan pesan bahwa perjalanan menjadi tokoh besar bermula dari proses bertumbuh, pengalaman, dan pembentukan karakter sejak dini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow