Musykerwil II Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY Evaluasi dan Konsolidasi Gerakan Menuju Musywil
YOGYAKARTA — Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNA DIY) bersiap untuk memasuki saat-saat terakhir di periode 2023-2026. Dalam sisa periode tersebut, ada beberapa agenda yang harus dituntaskan menjelang Musyawarah Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY pada akhir tahun 2026.
Salah satunya menggelar Musyawarah Kerja Wilayah II pada Sabtu (24/10). Berlangsung sehari, agenda tersebut digelar di Amphiteater Lantai 7 Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan, dihadiri Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah DIY, Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, perwakilan organisasi otonom Muhammadiyah DIY, dan para kader Nasyiatul ‘Aisyiyah se-DIY.
Sebanyak 125 peserta dari PWNA DIY dan Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah se-DIY mengikuti Musykerwil II. Forum ini menjadi ruang untuk mengevaluasi dan mengonsolidasikan program kerja, memperkuat koordinasi organisasi, meninjau kembali arah gerakan, serta memetakan tantangan dan merumuskan strategi Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY ke depan.
Ketua Umum PWNA DIY, Dr. Syahdara Annisa Makruf, S.Pd.I., M.Pd.I., mengatakan Musykerwil II merupakan agenda penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merefleksikan gerakan yang telah dijalankan para kader.
“Musykerwil II menjadi salah satu agenda penting Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY sebagai ruang evaluasi dan refleksi kader. Jika kita melihat sebuah gerakan, tantangan terbesar bukan selalu menghadapi perubahan zaman, tetapi juga keberanian kita untuk mengevaluasi diri di tengah kesibukan menjalankan program,” ujarnya.
Syahdara juga menegaskan bahwa Musykerwil II menjadi ruang untuk menyiapkan estafet kepemimpinan menjelang Musywil Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY. Menurutnya, organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bergantung pada satu figur, melainkan organisasi yang mampu melahirkan banyak pemimpin dengan kapasitas, integritas, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
“Menjelang Musywil, pertanyaan penting bagi kita bukan siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan, melainkan apakah kita telah menyiapkan kader yang cukup kuat untuk meneruskan perjuangan,” tutur dosen Universitas Islam Indonesia tersebut.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah, Monica Subastia, M.Pd., berpesan agar momentum menjelang Musywil dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi gagasan, evaluasi capaian, dan penguatan silaturahmi antarkader.
Menurutnya, hasil Musykerwil II akan menjadi bahan penting dalam merumuskan materi yang dibahas pada Musywil Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY. Ia meyakini, pelaksanaan Musywil di DIY tidak hanya dinantikan oleh kader di daerah tersebut, tetapi juga oleh Nasyiatul ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia.
“Saya yakin Musywil di DIY ini tidak hanya dinanti-nanti oleh kader-kader DIY, tetapi juga oleh Nasyiatul ‘Aisyiyah se-Indonesia. Kita tahu Nasyiatul ‘Aisyiyah lahir di Daerah Istimewa Yogyakarta,” ungkapnya.
Monica menjelaskan bahwa DIY bukan sekadar tanah kelahiran, melainkan juga menjadi bagian penting dari ruh gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah. Semangat perjuangan, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan dakwah pembaruan yang diajarkan KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan pertama kali tumbuh di Yogyakarta.
“Maka, ada dua idealitas yang harus selalu dibawa oleh DIY, yaitu sebagai sentra dan spirit gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah,” jelasnya.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, Aris Madani, S.Pd.I., M.S.I., mengapresiasi penyelenggaraan Musykerwil II. Ia menilai tema Inovatif, Kolaboratif, dan Berdampak sangat merepresentasikan arah gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY.
Menurut Aris, inovasi harus menjadi karakter perempuan muda yang tidak hanya mengikuti perkembangan media sosial, tetapi juga mampu berkontribusi dalam membangun peradaban.
“Nasyiatul ‘Aisyiyah bukan kumpulan perempuan muda yang sekadar suka berkumpul, tetapi berkumpul untuk membuat inovasi. Kami berharap dari Musykerwil II lahir inovasi yang menjawab kegelisahan perempuan muda hari ini,” ujarnya.
Ia juga mendorong kader Nasyiatul ‘Aisyiyah untuk aktif berdakwah melalui berbagai platform digital, termasuk grup WhatsApp dan media sosial. Menurutnya, kader harus mampu memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan pesan kebaikan dan tidak membiarkan ruang tersebut didominasi konten yang merusak.
Terkait kolaborasi, Aris mengingatkan agar perempuan muda tidak hanya berfokus pada pencapaian individu, tetapi juga mampu bekerja sama dan merangkul berbagai pihak untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas.
“Jangan menjadi perempuan muda yang hebat sendirian. Kita harus menunjukkan kolaborasi dan mengajak orang lain. Ini adalah pesan Kiai Dahlan bahwa Muhammadiyah merupakan persyarikatan yang menghimpun orang-orang untuk bekerja sama. Kehebatan kita terletak pada kebersamaan dengan prinsip kolaborasi,” tuturnya.
Ia berharap Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY semakin terbuka dalam membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Baginya, perempuan yang kuat adalah mereka yang mampu merangkul dan berkolaborasi dengan siapa pun demi kebermanfaatan bersama.
Lebih lanjut, Aris menekankan bahwa keberhasilan gerakan harus diukur dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Musykerwil tidak cukup hanya menghasilkan rumusan program, tetapi juga harus mendorong lahirnya aksi yang membantu menjawab persoalan masyarakat.
“Musykerwil II diukur dari setelah ini, adakah masyarakat yang terbantu ekonominya karena gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah, dan sebagainya. Gerakan yang berdampak membuat orang lain berkata, ‘Alhamdulillah, untung ada Nasyiatul ‘Aisyiyah di kampung kami’,” ungkapnya.
Ia pun berpesan agar seluruh kader senantiasa menjaga tiga hal dalam menjalankan gerakan, yakni keikhlasan, kekompakan, dan keperempuanan.
Usai pembukaan, rangkaian Musykerwil II dilanjutkan dengan peluncuran logo dan lagu tema Musywil Nasyiatul ‘Aisyiyah DIY. Peluncuran ini menjadi bagian dari persiapan menyambut agenda permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat wilayah tersebut.
Musykerwil Ii kemudian dilanjutkan dengan studium generale yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia UAD, Dr. Norma Sari, S.H., M.Hum. yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 2012–2016.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow