HIDIMU Kota Yogyakarta Resmi Dikukuhkan, Perkuat Advokasi dan Pemberdayaan Difabel
YOGYAKARTA — Suasana haru sekaligus penuh semangat mewarnai Aula Panti Asuhan Yatim (PAY) Putra Muhammadiyah Yogyakarta di Jalan Lowanu, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Ahad (26/7). Pada kesempatan tersebut, Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) Kota Yogyakarta periode 2024–2029 resmi dikukuhkan sebagai tonggak baru dalam memperkuat advokasi, pemberdayaan, dan pembinaan penyandang disabilitas di Kota Yogyakarta.
Prosesi diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) kepengurusan HIDIMU Kota Yogyakarta periode 2024–2029 oleh Sekretaris Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, Niam. Pembacaan SK tersebut menjadi penegasan resmi atas amanah yang diemban kepengurusan baru untuk lima tahun ke depan.
Ketua HIDIMU Daerah Istimewa Yogyakarta, Jati, dalam sambutannya menekankan bahwa pengukuhan harus menjadi awal dari kerja nyata, bukan sekadar seremoni. Ia mendorong pengurus segera menyusun program kerja yang memberi manfaat langsung bagi anggota, salah satunya melalui pengajian rutin sebagai sarana pembinaan spiritual.
Selain itu, Jati mengingatkan pentingnya menjaga koordinasi dan sinergi dengan MPKS PDM Kota Yogyakarta agar setiap program HIDIMU berjalan sejalan dengan visi dan misi Muhammadiyah dalam bidang kesejahteraan sosial.
Sementara itu, Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta, Edi Sukoco, menyampaikan tausiah yang mengajak seluruh hadirin mensyukuri nikmat Allah tanpa memandang kondisi fisik seseorang. Mengutip Surah Ar-Rahman, ia menjelaskan bahwa firman Allah, "Fa bi ayyi alaa'i rabbikuma tukadzdziban" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?), ditujukan kepada seluruh manusia tanpa membedakan kesempurnaan maupun keterbatasan fisik.
Menurutnya, Islam memandang kemuliaan seseorang bukan dari kondisi tubuh, melainkan dari ketakwaannya. Karena itu, Al-Qur'an juga melarang manusia saling merendahkan ataupun memberikan stigma negatif kepada mereka yang memiliki perbedaan fisik.
Edi turut mengutip Surah Al-Mulk sebagai pengingat akan kebesaran Allah yang menciptakan alam semesta tanpa cela. Ia menegaskan bahwa kehidupan dan kematian merupakan ujian untuk mengetahui siapa yang terbaik amalnya, sekaligus mengingatkan bahwa Allah menjamin rezeki dan perlindungan bagi seluruh hamba-Nya.
Acara pengukuhan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto seluruh pengurus serta tamu undangan. Momen tersebut menjadi penanda dimulainya langkah baru HIDIMU Kota Yogyakarta dalam merangkul, mendampingi, dan memberdayakan penyandang disabilitas melalui berbagai program yang inklusif dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar organisasi, HIDIMU Kota Yogyakarta diharapkan menjadi rumah bersama bagi para penyandang disabilitas untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, serta mengembangkan potensi tanpa rasa minder ataupun terasing. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, HIDIMU berkomitmen membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya, melainkan dapat menjadi sumber kekuatan, kesabaran, dan inspirasi bagi banyak orang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow