Khutbah Iduladha dari Kader IMM DIY Soroti 'Arogansi Epistemik' dan Krisis Keadilan Sosial
YOGYAKARTA — Khutbah Salat Iduladha 1447 H di Masjid Al Jumal Sorosutan, Yogyakarta, Rabu (27/5), menghadirkan refleksi kritis tentang makna kurban di tengah situasi sosial-politik bangsa.
Sekretaris Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DI Yogyakarta, Dafa Isandi Ananto, S.Hum., mengajak jamaah mereaktualisasi spirit kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan upaya menyembelih kesombongan diri dan membangun peradaban yang berkeadaban.
Dalam khutbah bertajuk “Reaktualisasi Spirit Qurban: Menyembelih Arogansi Epistemik, Membangun Kedaulatan Peradaban”, Mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada itu menegaskan bahwa Iduladha harus dimaknai sebagai momentum menundukkan ego dan kekuasaan yang arogan.
“Qurban bukan sekadar transaksi spiritual atau ritual tahunan. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, tetapi ketakwaan kita,” ujarnya mengutip QS. Al-Hajj ayat 37.
Menurut Dafa, inti kurban adalah kesediaan manusia menyembelih ego, kesombongan, dan kepentingan diri demi nilai yang lebih besar. Ia menilai, jika setelah berkurban seseorang masih merasa paling benar, paling saleh, dan merendahkan orang lain, maka sejatinya yang disembelih baru hewannya, bukan egonya.
Dalam khutbahnya, Dafa memperkenalkan istilah arogansi epistemik, yakni kesombongan dalam pengetahuan yang merasa diri paling benar dan menolak mendengar pandangan lain.
Ia mengutip pemikiran ilmuwan politik James C. Scott dalam buku Seeing Like a State, yang menjelaskan bahwa banyak kegagalan tata kelola negara bersumber dari keyakinan penguasa bahwa mereka paling mengetahui kebutuhan rakyat.
“Arogansi epistemik terjadi ketika penguasa merasa realitas rakyat bisa dipahami sepenuhnya dari meja birokrasi, sementara suara masyarakat kecil diabaikan,” katanya.
Dafa kemudian mengaitkan hal itu dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS. Menurutnya, Ibrahim bukan hanya sosok yang taat kepada Allah, tetapi juga pribadi yang berani menggugat kemapanan dan kesombongan zamannya.
Ia mengutip QS. Ash-Shaffat ayat 103: "Maka tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya.”
“Kata aslama dalam ayat itu menunjukkan ketundukan total. Tidak ada arogansi di hadapan Allah,” ujarnya.
Dalam khutbah tersebut, Dafa menjelaskan tiga bentuk arogansi yang menurutnya harus “disembelih” dalam spirit Iduladha.
Pertama, arogansi individual, yakni merasa lebih baik, lebih pintar, atau lebih mulia dibanding orang lain. Sikap ini disebutnya sebagai penyakit yang menyerupai kesombongan Iblis ketika menolak sujud kepada Nabi Adam.
Kedua, arogansi kolektif, yaitu fanatisme kelompok, suku, golongan, maupun organisasi yang merasa paling benar. Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan manusia diciptakan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling merendahkan.
Ketiga, arogansi struktural-kekuasaan, yakni kesombongan yang muncul dalam kebijakan publik dan praktik pemerintahan yang tidak mendengar suara rakyat.
“Arogansi kekuasaan membuat rakyat hanya dianggap angka statistik, bukan manusia yang memiliki hak dan martabat,” tegasnya.
Khutbah itu juga menyinggung berbagai persoalan sosial yang belakangan ramai diperbincangkan, mulai dari demonstrasi mahasiswa, keresahan buruh, konflik agraria, hingga persoalan lingkungan hidup.
Dafa menyebut, berbagai gejolak tersebut memperlihatkan adanya jarak antara pengambil kebijakan dan suara masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ruang demokrasi dan kebebasan menyampaikan kritik. Menurutnya, mimbar keagamaan tidak boleh kehilangan keberpihakan terhadap nilai keadilan.
“Mimbar ini adalah warisan para nabi yang berdiri di hadapan kekuasaan dan mengatakan kebenaran,” katanya.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad ﷺ : “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Di akhir khutbah, Dafa mengajak jamaah memahami kurban sebagai jalan membangun kedaulatan peradaban, yakni kemampuan umat menjadi subjek yang menentukan arah sejarahnya sendiri.
Menurutnya, Nabi Ibrahim telah memberi teladan tentang keberanian membangun peradaban berbasis tauhid, bahkan ketika harus menghadapi tekanan kekuasaan.
“Kekuasaan adalah amanah, bukan kepemilikan. Jabatan adalah ujian, bukan trofi,” ujarnya.
Ia pun mengajak jamaah menyembelih ketakutan, sikap apatis, dan kepentingan pribadi demi membangun masyarakat yang adil dan bermartabat.
“Jika puasa mengajak kaum muslimin merasakan lapar seperti saudara yang kekurangan, maka ibadah kurban mengajak mereka merasakan kenyang,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow