Gita Danu Pranata Ingatkan Dakwah Santun Bukan Berarti Mubaligh Muhammadiyah Lemah
BANTUL — Dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah. Di dalamnya terdapat proses mengajak, membimbing, mencerdaskan, dan menggerakkan umat menuju kehidupan yang lebih baik. Karena itu, dakwah Muhammadiyah harus mencerminkan semangat Islam Berkemajuan.
Hal tersebut disampaikan Gita Danu Pranata, S.E., M.M., Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Pelatihan dan Sertifikasi Mubaligh Muhammadiyah di Tabligh Institute, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Ahad (11/10).
Dalam materinya berjudul “Psikologi Mad'u, Retorika, dan Adab Muballigh di Era Digital”, Gita menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah memiliki manhaj dakwah yang jelas, yakni menyampaikan ajaran Islam dengan hikmah dan nasihat yang baik. Bahkan, dalam diskusi sekalipun, mubaligh harus mengedepankan cara yang santun, bukan saling berbenturan atau mempertajam perbedaan.
Namun, terkadang masih ada yang menilai ceramah mubaligh Muhammadiyah terlalu datar, kurang keras, atau kurang tegas dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar.
“Padahal, kita tidak perlu khawatir. Dakwah yang santun bukan berarti lemah. Justru, kita harus menegaskan bahwa pendekatan yang bijaksana merupakan bagian dari karakter dakwah Muhammadiyah,” kata Gita.
Menurutnya, jejak digital para mubaligh Muhammadiyah menunjukkan bahwa banyak di antara mereka telah menyampaikan pesan dakwah sesuai dengan prinsip tersebut, meskipun tidak semuanya viral atau menggunakan identitas resmi Muhammadiyah.
Karena itu, keberhasilan dakwah tidak perlu diukur hanya dari popularitas atau jumlah penonton. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian pesan, manfaat yang diberikan, serta perubahan positif yang dihasilkan.
Salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki mubaligh adalah memahami psikologi mad'u, orang yang menjadi sasaran dakwah.
Jemaah memiliki karakteristik beragam, dari tingkat pendidikan, usia, kondisi sosial, dan pengalaman keagamaan hingga kemampuan menggunakan teknologi. Perbedaan tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan materi, bahasa, dan metode penyampaian dakwah.
Karena itu, mubaligh perlu mengenali kebutuhan jemaah sebelum menentukan materi ceramah.
Dalam praktiknya, setiap mubaligh juga memiliki kemampuan dan karakteristik masing-masing. Ada yang cocok mengisi pengajian ibu-ibu, ada yang kuat dalam menyampaikan kajian mendalam, ada yang mampu menjangkau generasi muda, dan ada pula yang lebih sesuai untuk pengajian umum.
Menurut Gita, perbedaan tersebut bukan kelemahan, melainkan potensi yang perlu dikembangkan.
“Kita tidak harus memaksakan semua mubaligh mempunyai gaya yang sama. Yang perlu dilakukan adalah memetakan potensi mereka, kemudian menempatkan setiap mubaligh sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik jemaah,” jelasnya.
Selain memahami karakteristik jemaah, mubaligh juga perlu menyadari bahwa kondisi masyarakat di setiap wilayah tidak selalu sama. Masyarakat yang tumbuh di lingkungan Kauman, Karangkajen, atau Kotagede, misalnya, dapat memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda dengan masyarakat di wilayah lain yang mempunyai tradisi dan lingkungan sosial berbeda.
Karena itu, pendekatan dakwah tidak bisa disamaratakan. Ada kalanya mubaligh perlu menyampaikan materi secara langsung dan tegas. Namun, dalam situasi lain, pendekatan yang lebih lentur justru diperlukan agar pesan dapat diterima dengan baik.
Prinsipnya, mubaligh harus mampu memilih cara yang tepat untuk mengajak masyarakat menuju pemahaman dan pengamalan Islam yang lebih baik.
Gita mengingatkan pentingnya menerapkan prinsip naffiru, basysyiru, wa la tunaffiru, artinya menggembirakan, menyampaikan kabar baik, dan tidak membuat orang menjauh. Semangat tersebut perlu menjadi bagian dari pendekatan dakwah Muhammadiyah.
Mubaligh tidak boleh hanya berorientasi pada benar atau salah secara tekstual, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi, kemampuan, dan kesiapan masyarakat dalam menerima penjelasan.
Hal tersebut bukan berarti mengabaikan prinsip agama. Sebaliknya, mubaligh perlu mencari cara agar ajaran Islam dapat dipahami dan diamalkan dengan lebih baik oleh masyarakat.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta itu juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang membuka ruang dakwah makin luas.
Berkaca dari pengalamannya, konten yang viral terkadang bukanlah konten yang dipersiapkan dengan sangat matang. Ada video yang dibuat secara spontan menggunakan ponsel, kemudian memperoleh puluhan ribu penayangan. Sebaliknya, ada pula konten yang telah dipersiapkan dengan baik, tetapi tidak mendapatkan perhatian sebanyak yang diharapkan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan konten digital tidak selalu dapat diprediksi.
Namun, setiap konten yang diunggah dapat menjadi jejak digital yang bertahan lama. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), juga menunjukkan bahwa materi dakwah dapat tetap relevan dan ditemukan kembali oleh masyarakat, bahkan bertahun-tahun setelah disampaikan.
Karena itu, mubaligh perlu memahami bahwa dakwah digital bukan sekadar mengikuti tren, melainkan juga menjadi sarana menyebarkan pengetahuan dan meninggalkan jejak kebaikan.
Para mubaligh pun didorong untuk mulai membangun budaya dakwah digital secara konsisten.
“Tidak harus menunggu mempunyai peralatan canggih atau studio profesional untuk memulai. Jika punya ponsel, bisa merekam, dan memiliki materi yang bermanfaat, kita sudah dapat memulai dakwah digital. Jika memungkinkan, kita juga dapat meminta bantuan untuk merekam, menyunting, dan mengunggah materi dakwah,” ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow