Ikhwan Ahada: Amil Harus Profesional, Unggul, dan Amanah dengan Itqan serta Ihsan
YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. M. Ikhwan Ahada, M.A. menegaskan pentingnya profesionalisme, keikhlasan, dan kualitas unggul bagi para amil dalam Kuliah Umum Sekolah Amil Profesional LAZISMU DIY yang digelar di SD Muhammadiyah Sokonandi Unit 2, Sabtu (9/5).
Dalam pemaparannya, Ikhwan Ahada menyebut program Sekolah Amil Profesional sebagai inovasi dakwah Muhammadiyah yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat.
“Ini inovasi dakwah yang sangat bagus. Muhammadiyah terus berikhtiar mengembangkan dakwah dengan cara-cara yang berbeda dan berkemajuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa profesionalisme dalam Muhammadiyah memiliki landasan ideologis yang kuat, salah satunya tercermin dalam Surah An-Naml ayat 88 yang menggambarkan Allah sebagai Dzat Yang Maha Sempurna dalam menciptakan segala sesuatu.
Menurutnya, konsep profesionalisme juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ tentang pentingnya bekerja secara itqan atau optimal dan sungguh-sungguh.
“Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja melakukannya dengan itqan, dilakukan secara maksimal dan sempurna,” katanya.
Ikhwan menjelaskan, konsep itqan dan ihsan menjadi fondasi penting dalam membangun profesionalisme amil Muhammadiyah. Itqan dimaknai sebagai kesungguhan menyempurnakan pekerjaan secara optimal, sedangkan ihsan berarti menjalankan proses dengan baik, benar, dan sesuai aturan.
“Profesional itu bukan hanya hasilnya sempurna, tetapi prosesnya juga harus baik,” tegasnya.
Ia mengibaratkan konsep tersebut seperti proses memasak yang bukan hanya menghasilkan makanan enak, tetapi juga harus melalui proses yang halal, bersih, sehat, dan dilakukan dengan cara yang benar.
“Kerja maksimal dan sempurna harus dibarengi proses yang baik. Itulah makna itqan dan ihsan,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Ikhwan juga menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri memiliki DNA gerakan sosial dan pemberdayaan umat. Ia menyebut gagasan membangun hospital (rumah sakit), amhuis (rumah miskin) dan weeshuis (rumah yatim) yang diwariskan KH Sudja' menjadi bagian penting dari perjalanan Persyarikatan.
Ikhwan juga mengingatkan konsekuensi menjadi bagian dari Muhammadiyah adalah menjalankan empat misi utama atau “4M”, yakni menguatkan akidah, meluruskan ibadah, mengoptimalkan amal saleh, dan menggembirakan kehidupan berjamaah.
“Kesungguhan itu mengalir sejak era Kiai Dahlan hingga sekarang dan akan terus berjalan sampai akhir zaman,” ujarnya.
Dalam hal ini, lanjut Ikhwan, posisi amil sangat strategis dalam Muhammadiyah karena menjadi ujung tombak pengelolaan amanah umat.
“Amil itu ibarat imam dalam salat. Salat berjalan baik karena imam, zakat tersalurkan amanah karena amil,” katanya.
Ia juga menyoroti sistem organisasi Muhammadiyah yang tertib, berjalan di atas regulasi, SOP, dan tata kelola yang kuat. Menurutnya, sistem tersebut menjadikan Muhammadiyah mampu berkembang menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
“Muhammadiyah bukan superman, tetapi supertim,” tegasnya.
Ikhwan mengapresiasi capaian LAZISMU DIY yang selama ini mampu mempertahankan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) melalui audit internal maupun eksternal.
“LAZISMU memiliki sistem yang rapi dari A sampai Z. Bahkan hal-hal kecil dan detail diperhatikan. Itu yang menjadikan lembaga ini unggul,” jelasnya.
Ia mengingatkan para peserta agar tidak minder dan harus percaya diri dalam membawa serta menyampaikan program-program dakwah Muhammadiyah kepada masyarakat.
“Kita ini orang-orang yang dipercaya membawa gerbong jamaah menuju surga,” ucapnya.
Lebih jauh, Ikhwan menekankan bahwa menjadi unggul adalah konsekuensi dari bergabung dalam Muhammadiyah. Keunggulan tersebut, menurutnya, lahir dari pola pikir terbuka, fokus terhadap amanah, serta kesiapan menerima evaluasi dan masukan.
“Untuk menjadi unggul, pemikiran harus terbuka dan inklusif. Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan ilmu, maka jangan berhenti belajar,” katanya.
Ia kemudian merangkum tiga prinsip penting menuju predikat khair atau unggul, yakni selektif, kompetitif, dan komparatif. Dari keinginan untuk jadi unggul inilah, Islam Berkemajuan yang digagas Muhammadiyah lahir dari semangat untuk menghadirkan kembali Islam sebagai nakhoda peradaban.
Menutup kuliah umumnya, Ikhwan Ahada berpesan kepada seluruh peserta Sekolah Amil Profesional agar senantiasa menjaga niat, fokus pada tanggung jawab, dan terus meningkatkan kualitas diri.
“Ikhlaskan niat, fokus pada pekerjaan, dan bukalah pemikiran. Itulah resep untuk menjadi pribadi unggul,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow