Gelar Rakerwil, MPI PWM DIY Soroti Literasi Digital Warga Muhammadiyah
YOGYA - Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPI PWM) DI Yogyakarta bersiap untuk melancarkan aksinya di tahun 2024 ini. Terbaru, MPI PWM DIY melaksanakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada Sabtu (24/2) di Aula Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Rakerwil yang dilaksanakan MPI PWM DIY ini merupakan gelombang terakhir rapat kerja yang dilaksanakan seluruh majelis / lembaga di lingkungan PWM DIY.
Mengangkat tema “Menggairahkan Tradisi Literasi sebagai Penguatan Gerakan Mencerahkan Semesta Digital”, Ketua MPI PWM DIY Afan Kurniawan, M.T. mengatakan tema ini sejalan dengan tantangan dan kondisi zaman pada saat ini.
Dimana sebagian besar warga masyarakat itu mendapatkan benturan informasi yang sangat luar biasa. “Sehingga kita semua pasti punya banyak grup WhatsApp di wilayah, daerah, dan sebagainya. Dari (grup) itu kadang-kadang masih sering menunjukkan bahwa sebagian besar warga Muhammadiyah membutuhkan pendampingan informasi,” kata Afan.
Kemudahan dari akses teknologi dan informasi saat ini membuat cara berpikir masyarakat, khususnya milenial ini berubah. Karena, dengan keterbukaan informasi saat ini, masyarakat bisa menjadi tahu akan banyak hal, dan bahkan bisa menjadi seorang ‘pakar’ tanpa harus sekolah.
Tentunya hal ini harus diperhatikan oleh semua pihak, khususnya Muhammadiyah. Karena penyebaran informasi tanpa tanggung jawab bisa menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Maka, Muhammadiyah sebagai organisasi perlu memberikan bimbingan literasi informasi di masyakarat, di samping juga perlu modernisasi dan inovasi organisasi.
Modernisasi organisasi juga sangat tergantung pada literasi digital untuk berkomunikasi, berinovasi, dan beradaptasi dengan berbasis teknologi ini. Dalam rangka apa menjalankan langkah yang cepat dari organisasi tersebut, karena kalau tidak, maka Muhammadiyah akan ketinggalan zaman.
“(Dengan) berkembangnya teknologi digital saat ini, kita juga harus paham bahwa digitalisasi adalah sebuah keniscayaan yang kita tidak mungkin lagi untuk menghindarinya. Kita harus memahami dan memanfaatkannya, karena kalau tidak, kita tidak berdaya dan menjadi tidak optimal dalam pemanfaatan teknologi,” jelas Kepala Museum Muhammadiyah itu.
Dari Rakerwil ini, MPI PWM DIY berupaya untuk menyamakan persepsi dengan daerah dan cabang dalam program kerja terkait teknologi digital dan literasi. Ada sekitar 40 peserta dari perwakilan daerah serta majelis / lembaga lainnya hingga ortom yang hadir. Diharapkan, ada banyak ide dan gagasan yang dari peserta untuk disampaikan. (*)
Wartawan: Dzikril Firmansyah
What's Your Reaction?
-
Like
-
Dislike
-
Funny
-
Angry
-
Sad
-
Wow