Gita Danu Pranata: Omahmu Pagerono Mangkok, Ojo Tok Pageri Bongkok

Gita Danu Pranata: Omahmu Pagerono Mangkok, Ojo Tok Pageri Bongkok

Smallest Font
Largest Font

KULON PROGO — Kerukunan antarwarga menjadi salah satu kunci terciptanya kehidupan yang nyaman, tenteram, dan penuh keberkahan. Untuk mewujudkannya, setiap orang perlu membangun hubungan baik dengan tetangga melalui akhlak Islami, sikap saling menghormati, serta semangat gotong royong.

Pesan tersebut disampaikan Gita Danu Pranata, S.E., M.M., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, dalam Pengajian Ahad Pon bertema “Hidup Rukun Tetangga, Nyaman, Berkah Melimpah” di Aula Kantor Kalurahan Bumirejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Ahad (18/10).

Dalam pengajian tersebut, Gita mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai guyub rukun dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hubungan baik dengan tetangga tidak cukup diwujudkan melalui sapaan dan pertemuan, tetapi juga harus tercermin dalam kepedulian, sikap saling membantu, serta upaya menjaga perasaan dan kenyamanan bersama.

Ia mengingatkan bahwa Islam telah memberikan tuntunan yang jelas mengenai pentingnya berbuat baik kepada tetangga. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ ayat 36 yang memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, serta tetangga dekat dan tetangga jauh.

Ajaran tersebut menegaskan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian dari pengamalan agama. Kebaikan tidak boleh dibatasi hanya kepada keluarga atau orang-orang yang memiliki kedekatan tertentu, tetapi juga perlu diwujudkan dalam hubungan dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal.

Gita juga mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tetangganya.

Menurutnya, memuliakan tetangga tidak harus menunggu seseorang memiliki kekayaan berlimpah. Kepedulian dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membantu ketika tetangga mengalami kesulitan, berbagi sesuai kemampuan, menjaga kebersihan lingkungan, serta hadir ketika warga membutuhkan pertolongan.

Semangat tersebut selaras dengan kearifan Jawa yang mengajarkan pentingnya hidup rukun dan saling menghargai. Salah satu ungkapan yang disampaikan dalam materi pengajian ialah, “Omahmu pagerono mangkok, ojo tok pageri bongkok.” Ungkapan ini mengandung pesan agar rumah dan kehidupan bertetangga lebih mengedepankan keterbukaan untuk berbagi daripada membangun sekat yang menjauhkan hubungan antarsesama.

Selain mengajak berbuat baik, Gita mengingatkan bahwa menjaga kerukunan juga berarti tidak menyakiti atau mengganggu tetangga. Ia mengutip hadis riwayat Imam al-Bukhari yang berisi peringatan Rasulullah ﷺ tentang orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas keimanan juga tercermin dalam perilaku sosial. Karena itu, setiap warga perlu menjaga ucapan, menghindari tindakan yang merugikan orang lain, serta tidak mudah menyebarkan prasangka yang dapat memicu perselisihan.

“Jangan sampai kehadiran kita justru membuat tetangga merasa tidak nyaman. Kerukunan harus dibangun dengan saling menjaga, menghormati, dan memahami keadaan satu sama lain,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi pengajian tersebut.

Lebih lanjut, Gita mengaitkan kerukunan bertetangga dengan semangat Risalah Islam Berkemajuan Muhammadiyah yang diputuskan dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah pada 2022. Islam, dalam perspektif tersebut, tidak hanya mengajarkan ibadah secara personal, tetapi juga mendorong hadirnya kemaslahatan dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah nilai yang dapat diterapkan untuk membangun lingkungan yang rukun dan berkemajuan.

Pertama, menjadikan tauhid sebagai landasan akhlak. Berbuat baik kepada tetangga hendaknya dilandasi kesadaran bahwa kebaikan merupakan perintah Allah SWT, bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian atau balasan dari orang lain.

Kedua, mengembangkan sikap adil dan seimbang dalam menyikapi persoalan. Warga perlu menghindari kebiasaan memihak tanpa memahami masalah, menyebarkan prasangka, atau menghakimi orang lain sebelum mengetahui duduk perkaranya.

Ketiga, mendorong pembaruan dalam menyelesaikan persoalan bersama. Permasalahan seperti sampah, keamanan lingkungan, kesehatan, dan komunikasi antarwarga dapat diatasi melalui musyawarah, kerja sama, serta pemanfaatan teknologi yang bermanfaat.

Keempat, menghidupkan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat. Pengajian perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap pendidikan anak, perhatian kepada warga lanjut usia, bantuan bagi keluarga yang mengalami kesulitan, dan upaya mewujudkan lingkungan yang sehat.

Kelima, menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua. Kerja sama dalam urusan kemanusiaan dan kemasyarakatan perlu dibangun dengan menghormati perbedaan latar belakang serta tanpa merendahkan siapa pun.

Menurut Gita, nilai-nilai tersebut sejalan dengan kearifan lokal Jawa yang menjunjung tinggi guyub, rukun, tepa selira, dan gotong royong. Kearifan tersebut dapat menjadi modal sosial untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow