DPD IMM DIY Hadirkan Risalah Banten, Rumuskan Arah Strategis Masa Depan IMM di Tanwir XXXIV
TANGERANG — Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPD IMM DIY) membawa gagasan strategis mengenai arah masa depan Ikatan dalam gelaran Tanwir XXXIV IMM di Kota Tangerang, Banten, 2–5 September 2026. Gagasan tersebut dirumuskan dalam "Risalah Banten: Meneguhkan Arah, Menggerakkan Perubahan" yang disampaikan sebagai sumbangan pemikiran DPD IMM DIY bagi kepemimpinan dan gerakan IMM ke depan.
Naskah Risalah tersebut disusun oleh Ahsan Taqwim Al-Akid (Ketua Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik) dan Muhammad RM Fayasy Failaq (Ketua Bidang Hukum dan HAM).
Risalah Banten berangkat dari kegelisahan terhadap perubahan zaman yang menuntut IMM untuk terus membaca ulang posisi, relevansi, dan arah gerakannya. DPD IMM DIY melihat bahwa IMM memiliki modal besar berupa energi kader, tradisi intelektual, jejaring gerakan, serta infrastruktur perkaderan yang terus berkembang. Namun, modal tersebut belum otomatis menjadi kekuatan kolektif apabila tidak disertai kepemimpinan yang mampu memberikan arah dan makna bersama.
Risalah Banten memetakan setidaknya lima tantangan gerakan IMM saat ini, yakni epistemologi gerakan di tengah arus informasi dan dunia digital, fragmentasi kader dan tradisi intelektual, paradoks otoritas dan keteladanan pemimpin, aktivisme dalam demokrasi yang belum bermakna, serta tantangan mentransformasikan produksi pengetahuan menjadi praksis gerakan.
Menurut DPD IMM DIY, tantangan tersebut tidak cukup dijawab dengan mempertahankan pola gerakan yang telah berjalan. IMM perlu melakukan pembaruan agar tradisi ilmu, ideologi, dan aktivisme yang dimilikinya mampu menghasilkan pengaruh nyata dalam kehidupan publik.
Salah satu gagasan utama dalam Risalah Banten adalah mendorong IMM menjadi knowledge-based civil society, kekuatan masyarakat sipil yang menjadikan pengetahuan sebagai sumber daya strategis gerakan. Dalam kerangka tersebut, riset tidak boleh berhenti sebagai produk akademik, gagasan tidak berhenti sebagai wacana, dan advokasi tidak berhenti sebagai respons sesaat. Ketiganya harus dipertemukan dalam praksis yang mampu menghubungkan ilmu dengan kepentingan publik.
DPD IMM DIY juga mendorong perubahan orientasi gerakan dari protest politics menuju politics of ideas, IMM tidak cukup hanya menyuarakan persoalan, tetapi harus memiliki kapasitas untuk menghasilkan rekomendasi strategis, menawarkan alternatif kebijakan, membangun wacana publik, dan memengaruhi arah kebijakan.
Gagasan tersebut sekaligus menegaskan kembali posisi ilmu dalam tradisi gerakan IMM. Semangat tajdid dan Islam Berkemajuan, menurut Risalah Banten, harus diterjemahkan bukan hanya dalam pembaruan pemikiran, tetapi juga dalam kemampuan membaca realitas dan menghadirkan kemaslahatan.
Oleh karena itu, DPD IMM DIY mendorong pengembangan research-driven leadership dan knowledge-based movement yang menghubungkan pengetahuan dengan kebijakan, kritik dengan advokasi, serta gagasan dengan perubahan.
Persoalan kepemimpinan menjadi bagian penting dalam gagasan yang dibawa DPD IMM DIY. IMM DIY melihat adanya paradoks antara semakin besarnya otoritas kepemimpinan dengan semakin pentingnya keteladanan moral, visi, dan tanggung jawab sosial. Kepemimpinan, karena itu, tidak boleh berhenti pada kemampuan administratif dalam mengelola organisasi.
Kepemimpinan nasional IMM perlu hadir sebagai transformational leadership yang mampu membangun visi bersama, menghidupkan kesadaran kolektif, dan menggerakkan kader untuk menerjemahkan nilai-nilai ideologis menjadi kekuatan perubahan.
DPD IMM DIY juga menekankan pentingnya strategic leadership yang mampu membaca perubahan zaman, menentukan posisi gerakan, dan mengarahkan energi kader pada persoalan strategis umat dan bangsa. Dengan demikian, kepemimpinan IMM diharapkan tidak sekadar menghasilkan organisasi yang berjalan, tetapi gerakan yang memiliki arah, keteladanan, dan daya pengaruh.
Selain menawarkan perubahan orientasi gerakan, Risalah Banten membawa sejumlah rekomendasi mengenai pembenahan kelembagaan IMM. Salah satunya adalah mekanisme pemilihan formatur dan Ketua Umum DPP IMM yang berbasis prinsip fairness. DPD IMM DIY menilai ketimpangan hak suara antardaerah dapat menciptakan kompetisi yang tidak setara dan berpotensi mempertahankan patronase kelompok besar.
Oleh karena itu, Risalah Banten mengusulkan penataan hak pilih dengan memberikan hak memilih calon formatur dan Ketua Umum kepada peserta dari DPD dan DPP, sementara Pimpinan Cabang tetap memiliki ruang partisipasi dalam forum permusyawaratan untuk menentukan arah organisasi.
Pada saat yang sama, DPD IMM DIY mendorong affirmative action bagi Immawati dalam pencalonan formatur DPP IMM. Melalui risalah tersebut, IMM DIY mengusulkan agar sekurang-kurangnya 30% calon formatur yang direkomendasikan merupakan Immawati yang memenuhi persyaratan pencalonan. Kebijakan afirmatif tersebut dipandang sebagai upaya memperluas kesempatan perempuan dalam kepemimpinan nasional IMM, dengan tetap mempertahankan prinsip kompetensi, integritas, kapasitas, dan meritokrasi.
Dalam konteks penguatan ekosistem gerakan, DPD IMM DIY juga mengusulkan pendirian Sekretariat DPP IMM di Daerah Istimewa Yogyakarta. Usulan ini tidak semata-mata berkaitan dengan lokasi sekretariat, tetapi diarahkan untuk memperkuat fungsi ideologisasi, kaderisasi, intelektualisasi, kelembagaan, dan konsolidasi organisasi nasional. Yogyakarta dinilai memiliki posisi strategis karena keterkaitan historisnya dengan perkembangan Muhammadiyah dan IMM serta karakter sebagai wilayah dan ruang temu gerakan keilmuan dan gerakan kemahasiswaan.
Keberadaan sekretariat di Yogyakarta diharapkan dapat menjadi ruang konsolidasi kader, pengembangan gagasan, penguatan jejaring intelektual, sekaligus penghubung antara agenda nasional DPP IMM.
Melalui Risalah Banten ini, IMM DIY menyampaikan bahwa IMM memiliki posisi dan peran sebagai bagian penting dari kekuatan masyarakat sipil Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan. Dalam kerangka Darul Ahdi wa Syahadah, DPD IMM DIY memandang kebangsaan bukan sekadar identitas, tetapi ruang untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bersama.
Karena itu, IMM didorong untuk tumbuh sebagai civil society power yang mampu mengartikulasikan kepentingan publik, memperkuat representasi generasi muda, membangun wacana, dan mengawal kebijakan secara kritis.
Agenda tersebut kemudian diperluas melalui dorongan untuk memperkuat partisipasi Pimpinan Cabang IMM Luar Negeri, melakukan penataan bidang-bidang DPP secara adaptif, serta memastikan struktur organisasi mampu merespons perubahan sosial, politik, ekonomi, teknologi, dan perkembangan keilmuan.
Pada akhirnya, seluruh gagasan tersebut bermuara pada empat agenda besar: penguatan representasi dan keadilan dalam kepemimpinan IMM, tata kelola organisasi yang adaptif, perluasan ruang partisipasi kader, serta pengembangan IMM sebagai ruang perjumpaan dan gerakan kebangsaan yang inklusif.
Ketua Umum DPD IMM DIY, Mayda Dwi Hadiyanti, menegaskan bahwa Risalah Banten bukan dimaksudkan sebagai jawaban final atas seluruh persoalan Ikatan, namun sebagai sumbangan gagasan dan rekomendasi strategis untuk membaca kebutuhan IMM hari ini sekaligus menyiapkan arah gerak Ikatan ke depan.
“Risalah ini hadir sebagai ruang untuk merumuskan kembali kepemimpinan dan arah gerakan IMM yang lebih adil, adaptif, inklusif, dan transformatif serta menegaskan bahwa IMM memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pertumbuhan organisasi senantiasa berjalan seiring dengan penguatan gagasan, kepemimpinan, dan kebermanfaatan bagi kehidupan kebangsaan," ucap Mayda.
Risalah Banten pada akhirnya hendak menempatkan masa depan IMM bukan sekadar pada kemampuan mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi pada kapasitasnya mengubah potensi menjadi kekuatan, pengetahuan menjadi praksis, dan nilai menjadi kebermanfaatan. Dengan pijakan tersebut, IMM diharapkan mampu terus meneguhkan arah gerakan sekaligus menghadirkan perubahan bagi umat, persyarikatan, dan bangsa.
Risalah Banten bisa dibaca dan diunduh lengkap di sini.
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow