Silaturahmi Idulfitri 1447 H PWM DIY Soroti Tantangan Pendidikan dan Penguatan Organisasi Muhammadiyah
YOGYAKARTA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) menggelar Silaturahmi Idulfitri 1447 H pada Sabtu (4/4) di Aula Masjid K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kegiatan ini dihadiri oleh segenap pimpinan dan warga Muhammadiyah se-DIY serta para sesepuh PWM DIY, menjadi momentum refleksi sekaligus konsolidasi gerakan persyarikatan ke depan.
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadikan momen Syawal sebagai titik evaluasi kinerja Muhammadiyah, khususnya dalam bidang pendidikan. Ia mengingatkan bahwa waktu kepemimpinan yang tersisa relatif singkat, sehingga diperlukan kerja-kerja konkret yang berdampak.
Menurutnya, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah apakah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), baik di bidang pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi, mengalami peningkatan baik secara kuantitas maupun kualitas, atau justru mengalami penurunan.
“Lingkungan berubah sangat cepat. Perilaku masyarakat dalam memilih layanan pendidikan dan kesehatan juga berubah. Namun, kita terkadang belum cukup responsif terhadap perubahan tersebut. Akibatnya, lembaga pendidikan kita mulai ditinggalkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketatnya persaingan lembaga pendidikan di Yogyakarta yang kian dipenuhi institusi premium. Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah dinilai perlu lebih adaptif dan inovatif agar tidak tertinggal.
Nurmandi menegaskan bahwa solusi tidak terletak pada sikap protes terhadap kebijakan, melainkan pada kemampuan menghadirkan inovasi dan diferensiasi. “Kita harus menemukan apa yang tidak dilakukan oleh orang lain, sehingga menjadi keunggulan kita,” katanya.
Sementara itu, Ketua PWM DIY, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A. menyampaikan bahwa dinamika dakwah di luar Muhammadiyah juga berkembang pesat, sehingga menuntut respons strategis dari persyarikatan. Terlebih, dengan fenomena “login” Muhammadiyah dari masyarakat khususnya anak-anak muda membuat persyarikatan harus bisa memanfaatkan peluang ini dengan meningkatkan kualitas di berbagai aspek.
"PWM DIY memberikan kepercayaan penuh kepada perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk berkembang secara mandiri, sembari tetap bersinergi dalam menguatkan citra Muhammadiyah di tingkat nasional maupun internasional," jelas Ikhwan.
Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah di DIY telah menunjukkan capaian luar biasa, termasuk dalam membangun reputasi global dan memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Dalam aspek organisasi, PWM DIY terus melakukan pembenahan tata kelola agar lebih efektif dan efisien. Salah satu langkah yang ditempuh adalah upaya meraih sertifikasi ISO sebagai bagian dari peningkatan kualitas manajemen.
Selain itu, PWM DIY juga merencanakan pembangunan Muhammadiyah Training Center yang ditargetkan dimulai pada akhir 2026 atau awal 2027. Fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan kepada umat dan mitra dakwah.
Di sisi lain, PWM DIY juga memperluas jejaring kerja sama, termasuk dengan Pemerintah DIY. Salah satu bentuk kolaborasi yang telah berjalan adalah program pemberdayaan mubaligh selama Ramadan yang didukung pendanaan dari pemerintah secara signifikan.
Namun demikian, Ikhwan mengingatkan adanya pekerjaan rumah besar terkait partisipasi politik warga Muhammadiyah, terutama untuk tahun 2029 mendatang. Ia menyoroti jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari kalangan Muhammadiyah di DIY yang dinilai masih rendah dibandingkan potensi yang ada.
“DIY dikenal sebagai basis Muhammadiyah, tetapi partisipasi kita belum maksimal. Ini menjadi tantangan bersama untuk menggerakkan potensi jamaah yang besar,” tegasnya.
Memasuki sesi tausiyah silaturahmi Idulfitri, Dr. Khoiruddin Bashori, M.Si. Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah, menyampaikan refleksi mendalam tentang makna Syawal sebagai momentum peningkatan kualitas diri.
Ia menjelaskan bahwa secara makna, Syawal mengandung arti “peningkatan” atau “mengangkat ke atas”. Namun dalam realitasnya, banyak orang justru mengalami penurunan kualitas pasca-Ramadan. “Seringkali yang justru meningkat hanya berat badan, sementara kualitas ibadah menurun,” ujarnya dengan nada reflektif.
Khoiruddin mengutip pandangan ulama yang memaknai Syawal sebagai “sisa” atau bekas dari sesuatu, diibaratkan seperti sisa minuman dalam wadah. Artinya, bekas atau jejak ibadah Ramadan seharusnya masih terlihat dalam kehidupan seorang Muslim setelah Ramadan berakhir.
“Sayangnya, dalam banyak kasus, bekas itu tidak lagi tampak. Setelah Ramadan, kita kembali ke ‘settingan awal’,” ungkap Dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan itu.
Ia mengajak warga Muhammadiyah untuk menjadikan silaturahmi sebagai sarana saling menguatkan (tawâshau) dalam kebaikan, sekaligus mendorong penguatan basis keilmuan Muhammadiyah sebagai kunci keberlanjutan gerakan.
Mengutip surat Al Baqarah ayat 112 dalam Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil, tetapi oleh keikhlasan dan kesungguhan dalam beramal. Ia menekankan pentingnya totalitas dalam berislam dan ber-Muhammadiyah.
“Kita lakukan yang terbaik di posisi masing-masing, dengan niat lurus dan usaha optimal. Soal hasil, itu urusan Allah,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa orang yang beriman dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan ketenangan, tidak diliputi rasa takut terhadap masa depan maupun kesedihan terhadap masa lalu.
Sebagai penutup, Khoiruddin mengingatkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan dalam Muhammadiyah. Menurutnya, meskipun seseorang tidak lagi aktif mengajar, semangat mencari dan mengembangkan ilmu harus tetap hidup.
“Cita-cita Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu (harakatul ‘ilm) harus terus dijaga. Tradisi keilmuan tidak boleh berhenti sampai kapan pun,” pungkasnya.
Pada kesempatan ini, PWM DIY turut memberikan penghargaan untuk Unit Pembantu Usaha (UPP) atau majelis/lembaga yang berhasil menorehkan pencapaian yang luar biasa.
Untuk kategori UPP terbaik, penghargaan diberikan kepada:
- Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM DIY sebagai MPKSDI Terbaik Nasional kategori Perkaderan Inovatif
- Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal PNF PWM DIY sebagai Juara Umum Olympicad VIII Nasional 2026
- LAZISMU PWM DIY sebagai Terbaik Nasional 2025
- Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM DIY sebagai LDK Terbaik Nasional bidang lingkungan dan pembinaan mualaf
Sementara itu, tujuh majelis/lembaga berprestasi juga mendapat apresiasi, di antaranya:
- Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) PWM DIY melalui penyelenggaraan Muhammadiyah Jogja Expo #4 sebagai event terbesar yang diadakan Muhammadiyah se-Indonesia
- Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PWM DIY dengan program HIDIMU (Himpunan Difabilitas Muhammadiyah) sebagai Piloting Program Nasional
- Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM DIY melalui literasi lingkungan berkelanjutan
- Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM DIY dengan program pendampingan mantan narapidana terorisme
- Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) PWM DIY dengan inovasi aplikasi SIMAM (Sistem Informasi Manajemen Aset Muhammadiyah)
- Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PWM DIY dalam respons kemanusiaan yang cepat dan tepat menangani bencana, khususnya saat bencana banjir dan longsor di Sumatra
- Lembaga Pengembang UMKM PWM DIY melalui inovasi pengembangan usaha, baik untuk warga Muhammadiyah maupun non-Muhammadiyah
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow