10 dari 29 Puskesmas Rusak, EMT Muhammadiyah Perkuat Layanan Kesehatan Pascagempa
MANGGARAI TIMUR — Pemulihan layanan kesehatan menjadi salah satu tantangan utama setelah gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Di Manggarai Timur, kerusakan fasilitas kesehatan membuat sebagian pelayanan harus dilakukan dalam kondisi darurat.
Dari 29 puskesmas yang berada di Manggarai Timur, 12 di antaranya mengalami kerusakan parah atau masuk kategori merah. Peralatan kesehatan di sejumlah fasilitas tersebut juga tidak dapat diselamatkan. Puskesmas Dampek dan Puskesmas Beleng termasuk fasilitas kesehatan yang terdampak.
Kondisi tersebut membuat keberadaan layanan kesehatan darurat menjadi sangat penting bagi masyarakat yang masih bertahan di pengungsian. Salah satu dukungan datang dari Muhammadiyah melalui Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah Type 1 Fixed yang mengoperasikan Rumah Sakit Lapangan di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur Tintin mengatakan kehadiran EMT Muhammadiyah membantu mempercepat pemulihan layanan kesehatan masyarakat setelah gempa.
“Hadirnya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), EMT Muhammadiyah, serta berbagai universitas dan relawan sangat membantu kami. Layanan Rumah Sakit Lapangan dari EMT membuat pemulihan masyarakat jauh lebih cepat teratasi,” ujarnya.
Menurut Tintin, penanganan pada masa awal bencana menghadapi sejumlah kendala. Terputusnya jaringan komunikasi dan keterbatasan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat menjadi tantangan dalam memberikan layanan kepada masyarakat terdampak.
Di Kecamatan Lamba Leda Utara, dampak gempa juga masih dirasakan secara luas. Camat Lamba Leda Utara Emilianus Sarjanit menyebut sebanyak 2.294 rumah mengalami kerusakan parah. Sementara itu, 8.333 jiwa masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
“Kami benar-benar jatuh pascagempa. Bingung harus ke mana, dan uluran kasih dari Tim Muhammadiyah membangkitkan semangat kami kembali. Terima kasih telah menghapus air mata kami,” kata Emilianus.
Untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah diterjunkan dengan mengacu pada standar World Health Organization (WHO). Layanan tersebut dijalankan dalam dua rotasi tim selama satu bulan, dengan melibatkan tenaga kesehatan lokal dan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budi Setiawan mengatakan Muhammadiyah telah mengaktifkan jaringan koordinasi sejak hari pertama gempa. Koordinasi dilakukan melalui Posko Nasional di Yogyakarta, Posko Wilayah di Ende, serta Posko Daerah di sejumlah kabupaten terdampak.
“Bagi kami, kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang tidak boleh berhenti saat bencana,” ujar Budi.
Karena itu, respons Muhammadiyah tidak hanya diarahkan pada layanan medis. Bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Muhammadiyah juga merancang pembangunan ruang kelas darurat agar proses pendidikan anak-anak dapat kembali berlangsung dan dampak psikologis akibat bencana dapat ditekan.
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hilman Latief mengatakan respons tersebut merupakan bagian dari gerakan kolektif Muhammadiyah dalam menghadapi situasi kebencanaan.
“Misi kemanusiaan Muhammadiyah didasari spirit tolong-menolong dalam kebajikan. Menghadapi situasi sulit (aqabah) membutuhkan ketahanan mental dan kerja sama yang kuat,” kata Hilman.
Menurutnya, EMT Muhammadiyah dipersiapkan secara matang selama bertahun-tahun dengan mengacu pada standar WHO sehingga dapat memberikan layanan profesional di berbagai situasi bencana.
Muhammadiyah juga memastikan dukungan bagi penyintas tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Pendampingan akan dilanjutkan hingga masyarakat memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammadiyah melalui LAZISMU juga menyerahkan dukungan operasional Posko Muhammadiyah untuk EMT Muhammadiyah Type 1 Fixed serta 1.400 paket RendangMu kepada penyintas. Bantuan tersebut diserahkan di Pos Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah, Dampek, Ahad (6/9).
Penyaluran ini melanjutkan rangkaian respons kemanusiaan Muhammadiyah melalui program Indonesia Siaga yang sebelumnya telah menyalurkan RendangMu, Family Kit, School Kit, serta berbagai kebutuhan lainnya bagi masyarakat terdampak gempa.
Sebanyak 27 personel relawan medis EMT Muhammadiyah turut terlibat dalam pelayanan di lapangan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya menjaga agar layanan kesehatan tetap tersedia ketika sebagian fasilitas kesehatan masyarakat belum dapat berfungsi secara normal.
Di tengah kerusakan fasilitas publik dan ribuan warga yang masih mengungsi, pemulihan layanan kesehatan dan pendidikan menjadi bagian penting dari proses membangun kembali kehidupan masyarakat Manggarai Timur setelah gempa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow