Muhammadiyah Gandeng Polda Jateng Perkuat Deteksi Dini Kaki Pengkor pada Bayi

Muhammadiyah Gandeng Polda Jateng Perkuat Deteksi Dini Kaki Pengkor pada Bayi

Smallest Font
Largest Font

SEMARANG — Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggandeng Kepolisian Daerah Jawa Tengah untuk memperluas deteksi dini dan penanganan Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau kaki pengkor pada bayi.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman sekaligus peluncuran program Polda Jateng Peduli CTEV di Gedung Borobudur Polda Jawa Tengah, Kamis (13/8). Melalui program ini, jaringan Bhabinkamtibmas di tingkat desa dan kelurahan akan dilibatkan untuk membantu menemukan bayi dengan CTEV yang belum teridentifikasi.

Wakil Ketua I MPKU PP Muhammadiyah Fachmi Idris mengatakan, penanganan CTEV perlu dilakukan sedini mungkin karena kelainan bawaan tersebut dapat dikoreksi dengan hasil yang baik apabila ditemukan dan ditangani sejak awal.

“Program Mentari Clubfoot sudah berjalan tiga tahun dan telah membantu banyak anak yang lahir dengan kondisi CTEV, khususnya di Jawa Tengah. Namun, masih ada anak-anak lain yang membutuhkan pertolongan tetapi belum teridentifikasi,” ujar Fachmi.

Menurutnya, keterlibatan Bhabinkamtibmas penting karena personel kepolisian tersebut memiliki akses dan kedekatan dengan masyarakat hingga tingkat kampung dan desa. Kondisi itu diharapkan dapat memperluas edukasi sekaligus mempercepat penemuan kasus.

Dalam tiga tahun terakhir, Mentari Clubfoot MPKU PP Muhammadiyah telah menangani ratusan pasien dari sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Namun, jumlah tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kasus CTEV yang ada karena masih terdapat bayi yang belum terdeteksi atau terlambat mendapatkan rujukan.

Untuk mendukung program tersebut, personel Bhabinkamtibmas akan mendapatkan pembekalan dan pelatihan skrining dasar mengenai CTEV. Pelatihan melibatkan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI).

Pembekalan tersebut diarahkan agar personel mampu mengenali tanda awal CTEV dan memberikan edukasi dasar kepada orang tua. Bayi yang teridentifikasi selanjutnya akan diarahkan melalui sistem rujukan terpadu menuju rumah sakit jaringan Muhammadiyah-’Aisyiyah maupun Rumah Sakit Bhayangkara di jajaran Polda Jawa Tengah.

Pasien kemudian mendapatkan penanganan medis menggunakan metode Ponseti secara tepat dan berkelanjutan.

Fachmi mengatakan, persoalan CTEV tidak hanya berkaitan dengan layanan medis, tetapi juga literasi masyarakat dan kecepatan akses terhadap fasilitas kesehatan.

“Muhammadiyah konsisten mengutamakan pelayanan kepada masyarakat, terutama pelayanan kesehatan melalui Majelis Pembinaan Kesehatan Umum. Salah satu program yang diinisiasi tiga tahun lalu adalah Mentari Clubfoot, program bantuan penanganan CTEV pada bayi,” katanya.

Ia berharap kerja sama dengan Polda Jawa Tengah dapat memperluas jangkauan program hingga wilayah yang selama ini sulit menemukan atau merujuk pasien CTEV.

“Kami berharap kolaborasi dan sinergi bersama Polda Jawa Tengah dapat menjangkau pasien di berbagai daerah melalui Bhabinkamtibmas yang hadir sampai kampung dan desa,” ujarnya.

Kapolda Jawa Tengah Ribut Hari Wibowo mengapresiasi kerja sama tersebut. Menurutnya, penanganan kaki pengkor membutuhkan kolaborasi antara kepolisian, tenaga kesehatan, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan.

“Kami berterima kasih kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam hal ini Majelis Pembinaan Kesehatan Umum, yang mengajak bekerja sama dalam menangani kasus CTEV di Jawa Tengah,” kata Ribut.

Ia mengatakan Polda Jawa Tengah siap mengerahkan Biddokkes dan Bhabinkamtibmas untuk mendukung edukasi serta deteksi dini CTEV pada bayi.

“Dengan diresmikannya program Polda Jateng Peduli CTEV, kita berharap bersama-sama dapat membantu menjaga masa depan anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Melalui program tersebut, MPKU PP Muhammadiyah dan Polda Jawa Tengah menargetkan semakin banyak bayi dengan CTEV dapat ditemukan lebih awal dan memperoleh penanganan yang sesuai. Kolaborasi ini juga melibatkan jejaring kesehatan serta instansi terkait untuk memastikan pasien mendapatkan akses rujukan dan layanan medis secara berkelanjutan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow