MPI PWM DIY dan IPM DIY Siap Kolaborasi Riset Pelajar dan Penguatan Media

MPI PWM DIY dan IPM DIY Siap Kolaborasi Riset Pelajar dan Penguatan Media

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta menerima kunjungan dan silaturahmi dari Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) DIY, Jumat (14/8). Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membahas peluang kolaborasi, khususnya dalam riset mengenai persoalan pelajar dan pengembangan kapasitas media IPM.

Rombongan PW IPM DIY yang terdiri atas Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) dan Lembaga Media Komunikasi disambut langsung jajaran pimpinan MPI PWM DIY di Ruang Rapat Museum Muhammadiyah, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan.

Ketua Bidang PIP PW IPM DIY, Izzatun Nisa’, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk bersilaturahmi sekaligus meminta arahan MPI PWM DIY terkait program kerja yang akan dijalankan pada periode kepengurusan saat ini.

“Kami sowan dan silaturahmi sekaligus mohon wejangan terkait program periode ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, PW IPM DIY memiliki sejumlah program yang berpotensi dikolaborasikan dengan MPI PWM DIY, terutama dalam bidang riset, media, serta publikasi. Beberapa di antaranya berkaitan dengan pengelolaan press release dan media sosial IPM DIY.

Selain itu, Bidang PIP tengah mempersiapkan sejumlah agenda dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil). Salah satu agenda utama ialah riset mengenai berbagai isu dan persoalan yang dihadapi pelajar di DIY.

Program lain yang tengah disiapkan antara lain festival film dan pengembangan perpustakaan yang juga dinilai memiliki peluang untuk dikolaborasikan bersama MPI PWM DIY.

Sekretaris Bidang PIP PW IPM DIY, Qonuni Gusthaf Haq, memaparkan bahwa timnya telah melakukan riset awal untuk memetakan isu dan persoalan pelajar di DIY. Riset dalam waktu empat hari tersebut melibatkan 254 responden yang berasal dari kalangan pelajar SMP dan SMA.

Menurutnya, riset tersebut dirancang menggunakan metode yang terukur dan ilmiah sebagai pijakan dalam merumuskan program serta gerakan IPM ke depan.

“Kami telah melakukan riset secara umum untuk memetakan isu dan masalah pelajar di DIY. Ada 254 responden dalam empat hari, dengan sampel anak SMP dan SMA. Ini menjadi bekal untuk merumuskan program dan gerakan,” jelasnya.

Ia menyebut, riset tersebut menggunakan pendekatan mixed method, yakni memadukan metode kuantitatif dan kualitatif. Dari hasil sementara, terdapat sejumlah persoalan yang relevan dengan bidang garapan MPI, terutama terkait literasi digital dan literasi keuangan.

Dalam aspek literasi digital, IPM DIY melihat perlunya perhatian terhadap pemahaman pelajar mengenai kecerdasan buatan atau aritificial intelligence (AI), informasi palsu atau hoaks, serta dinamika penggunaan teknologi digital. Sementara pada aspek literasi keuangan, sejumlah persoalan yang muncul berkaitan dengan kebiasaan menabung, pengelolaan uang bagi pelajar, hingga persoalan penahanan ijazah karena tunggakan SPP.

“Kolaborasi dengan MPI bisa terkait literasi digital untuk masalah AI dan hoaks di kalangan pelajar. Literasi keuangan juga menjadi perhatian, termasuk masalah menabung, mengelola uang bagi pelajar, dan penahanan ijazah karena SPP belum lunas,” ungkap Qonuni.

Ke depan, PW IPM DIY berencana melakukan riset lanjutan bersama Bidang Ekonomi Kreatif dan Lembaga Kesehatan untuk memperluas pemetaan persoalan pelajar. 

Sementara itu, dari sektor media, PW IPM DIY menilai penguatan kapasitas anggota menjadi kebutuhan penting. Lembaga Media PW IPM DIY memiliki sejumlah agenda pelatihan dan berharap dapat berkolaborasi dengan MPI PWM DIY dalam pengembangan kemampuan anggota, mulai dari desain, penulisan, hingga keterampilan media lainnya.

Ketua MPI PWM DIY, Afan Kurniawan, menyambut positif rencana kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa MPI PWM DIY mendukung sepenuhnya riset maupun program yang dikembangkan PW IPM DIY.

Menurut Afan, pemetaan yang matang menjadi kunci agar program organisasi tidak sekadar mengulang agenda lama, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan dan dapat direalisasikan.

“Harus bisa memetakan apa yang mau dikerjakan. Jangan terjebak pada program lama yang tidak efisien. Energinya dibagikan ke program yang bisa dikerjakan dan direalisasikan,” tegasnya.

Afan juga mendorong agar hasil riset IPM DIY didalami lebih lanjut sehingga dapat diterjemahkan menjadi program-program strategis. Ia menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi modal bagi IPM untuk membangun kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, swasta, lembaga, maupun komunitas.

Dalam kesempatan tersebut, MPI PWM DIY juga menawarkan peluang kolaborasi dalam agenda strategis konferensi internasional INSPIRE pada 2027 mendatang. PW IPM DIY menyatakan ketertarikannya untuk terlibat sebagai co-host sekaligus memobilisasi pelajar dan kader dalam agenda yang memiliki cakupan global tersebut.

Sementara itu, Bidang Jurnalistik dan Literasi MPI PWM DIY, Arif Rahman, memberikan sejumlah catatan terhadap riset yang telah dilakukan PW IPM DIY. Menurutnya, metodologi penelitian perlu diperjelas, begitu pula dengan proses interpretasi data.

Ia menyoroti adanya sejumlah data yang menunjukkan perbedaan atau anomali antara temuan kuantitatif dan kualitatif. Hal tersebut, menurutnya, perlu ditelaah lebih lanjut melalui survei berikutnya.

“Metodologi yang digunakan nanti perlu diperjelas, kemudian interpretasi data juga perlu diperjelas. Ada beberapa data anomali antara kuantitatif dan kualitatif yang perlu ditindaklanjuti dalam survei berikutnya,” jelas Arif.

Meski demikian, Arif menilai data yang dihimpun dari 254 responden tersebut merupakan modal berharga untuk memahami dinamika pelajar di DIY. Ia mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen internal organisasi, tetapi dapat dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait, termasuk sekolah.

“Data pelajar se-DIY ini menunjukkan dinamika yang menarik. Ini data yang berharga, sehingga perlu dikomunikasikan dengan pihak-pihak terkait, terutama sekolah-sekolah, agar bisa jadi kebijakan strategis,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow