Konsisten Dakwah Komunitas Lingkungan dan Mualaf, LDK PWM DIY Raih 3 Anugerah Insan Dakwah

Konsisten Dakwah Komunitas Lingkungan dan Mualaf, LDK PWM DIY Raih 3 Anugerah Insan Dakwah

Smallest Font
Largest Font

SEMARANG — Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) menorehkan prestasi nasional dengan meraih tiga penghargaan dalam ajang Anugerah Insan Dakwah untuk Negeri 2026 yang diselenggarakan LDK PP Muhammadiyah. Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LDK PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Kamis (29/1).

Tiga penghargaan itu meliputi Dai Komunitas Inspiratif Nasional yang diraih Ketua LDK PWM DIY, Ananto Isworo, S.Ag., pada bidang pembinaan komunitas lingkungan hidup, LDK PWM DIY sebagai LDK Terbaik Nasional untuk kategori pembinaan dakwah lingkungan, serta LDK PDM Kabupaten Kulon Progo sebagai LDK terbaik dalam pembinaan komunitas mualaf.

“Alhamdulillah, ini menjadi kebahagiaan sekaligus amanah besar bagi kami. Penghargaan ini bukan sekadar prestasi, tetapi tanggung jawab untuk melangkah lebih kuat ke depan,” ujar Ananto Isworo saat diwawancarai usai acara.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi dan konsistensi dakwah komunitas yang dibangun bersama PWM DIY, PDM, serta berbagai elemen Muhammadiyah dan mitra eksternal. Ia menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi titik awal untuk memperkuat dakwah komunitas, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam ajang nasional tersebut, nama Ananto Isworo sejajar dengan tokoh-tokoh publik nasional seperti Haji Rhoma Irama, Ustazah Oki Setiana Dewi, dan Koh Dennis Lim sebagai penerima predikat Dai Komunitas Inspiratif Nasional.

“Penilaian dari LDK PP Muhammadiyah melihat konsistensi kami dalam pendampingan komunitas, baik lingkungan maupun muallaf, yang dilakukan secara berkelanjutan dan tidak sekadar seremonial,” jelasnya.

Ia menambahkan, dakwah komunitas yang dijalankan LDK PWM DIY dibangun melalui sinergi lintas lembaga, mulai dari LDK LWM DIY, LAZISMU, Rumah Sakit Muhammadiyah, BikersMu (Komunitas Motor Muhammadiyah), JAKIMU (Komunitas Pegiat Jalan Kaki Muhammadiyah), Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PWM DIY, hingga Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Kolaborasi juga dilakukan dengan pemerintah daerah, DPRD, serta berbagai komunitas masyarakat.

“Pendampingan dilakukan secara kontinu, diperluas ke banyak titik, dan hasilnya bisa dirasakan langsung oleh komunitas binaan,” kata Ananto.

Untuk kategori pembinaan lingkungan, LDK PWM DIY mengembangkan program Sedekah Sampah berbasis sekolah, masjid, dan masyarakat. Sementara LDK PDM Kulon Progo fokus pada pembinaan komunitas muallaf yang telah berjalan sejak 2023.

Bahkan pada 2024, LDK PDM Kulon Progo berhasil mengelola wakaf tanah seluas 1.000 meter persegi di kawasan Gunung Kelir sebagai Muallaf Learning Center. Program tersebut diisi dengan pembinaan rutin, santunan, hingga asesmen pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat petani dan perkebunan setempat.

“Ke depan, pembinaan muallaf akan diperluas ke Sleman, Kota Yogyakarta, hingga Gunungkidul, termasuk daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau,” ungkapnya.

Dalam waktu dekat, LDK PWM DIY juga menggandeng komunitas Ngaji Budi dengan dukungan Dompet Dhuafa untuk program pembelajaran baca Al-Qur’an secara daring bagi kaum muallaf selama Ramadan, khususnya di wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman.

Sementara untuk dakwah lingkungan, Ananto menyebut pihaknya tengah memperluas jejaring pengelolaan sampah dan menginisiasi Jagongan Relawan Sedekah Sampah DIY bersama Majelis Tabligh PWM DIY sebagai ruang berbagi best practice dan solusi pengelolaan sampah.

Secara personal, Ananto dikenal sebagai pelopor gerakan Sedekah Sampah berbasis masjid sejak 2013 melalui program Sekolah Sedekah Sampah (S3) yang telah diikuti ratusan masjid, bahkan lintas agama, di berbagai daerah di Indonesia. Ia juga mengembangkan konsep Eco Masjid melalui Masjid Al Muharram Brajan, Tamantirto, Bantul, yang menjadi rujukan nasional.

Ia memperkenalkan konsep S6 sebagai gerakan dakwah lingkungan komunitas, yakni Sedekah Air, Sedekah Tanah, Sedekah Oksigen, Sedekah Sampah, Sedekah Panel Surya, dan Sedekah Bibit Tanaman.

“Dakwah lingkungan menjadi sangat penting di tengah krisis iklim dan rawannya bencana. Ini bukan isu pinggiran, tapi isu masa depan umat,” tegasnya.

Ananto menyebut, dakwah lingkungan kini telah menjadi salah satu pilar nasional LDK PP Muhammadiyah, bahkan telah disusun buku panduan pendampingan dakwah komunitas lingkungan pada akhir 2025.

Menutup wawancara, ia berpesan kepada para dai komunitas Muhammadiyah agar terus bergerak dan menghadirkan dakwah dalam bentuk aksi nyata.

“Teruslah bergerak dan menginspirasi. Jadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai proyek nyata yang bisa dirasakan manfaatnya oleh umat manusia,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow