Ikhwan Ahada: Keadaban Ekologis Bukan Wacana, Tapi Gerakan Nyata

Ikhwan Ahada: Keadaban Ekologis Bukan Wacana, Tapi Gerakan Nyata

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A., menegaskan bahwa tema Pengajian Ramadan 1447 H, “Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta,” lahir dari realitas krisis lingkungan yang kian nyata di depan mata.

Mengawali amanatnya, ia mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia dan Allah mengingatkan agar manusia kembali ke jalan yang benar.

“Kerusakan itu nyata, tidak perlu teropong. Dampaknya sudah kita rasakan bersama,” tegasnya dalam amanatnya pada pembukaan pengajian, hari Sabtu (28/2).

Ikhwan kemudian memaparkan sejumlah fakta memprihatinkan. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), sekitar 60 persen sungai di Indonesia tercemar pada tingkat sedang hingga berat. Artinya, enam dari sepuluh sungai tidak dalam kondisi sehat.

Sampah plastik juga terus mengancam ekosistem laut. Indonesia disebut sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke laut di Asia, dengan puluhan juta ton limbah setiap tahun.

Deforestasi pun berlangsung cepat. Secara nasional, Indonesia kehilangan hutan seluas empat kali lapangan bola setiap menit. Secara global, angka itu setara 18 kali lapangan bola per menit.

“Kita kehilangan paru-paru dunia. Udara makin buruk, kualitas hidup makin terancam,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung fenomena Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama agar tidak memicu persoalan baru akibat pengelolaan yang tidak terkendali.

Menurut Ikhwan, Pengajian Ramadan tidak boleh berhenti pada diskusi konseptual. Keadaban ekologis harus diwujudkan dalam gerakan praksis di amal usaha Muhammadiyah, sekolah, kampus, masjid, dan komunitas.

Beberapa langkah strategis yang ia dorong antara lain:

  • Menguatkan kerja sama dengan dinas terkait untuk penyelamatan lingkungan berbasis teknologi tepat guna.
  • Mengembangkan inovasi pengelolaan sampah dan energi berkelanjutan.
  • Memasukkan isu lingkungan dalam kurikulum pembelajaran, dakwah, dan literasi publik.

Ia menegaskan bahwa tugas manusia sebagai khalifah di bumi menuntut tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keberlanjutan alam.

“Kita tidak cukup membuat konsep. Harus ada aplikasi nyata. Dakwah ekologis harus hadir dalam tindakan,” tegasnya.

Ikhwan pun menyampaikan apresiasi kepada MPKSDI PWM DIY yang memilih tema ini sebagai agenda ideologis sekaligus praksis. Ia berharap Pengajian Ramadan 1447 H menjadi titik tolak lahirnya gerakan ekologis Muhammadiyah yang lebih sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan.

“Semoga dari Yogyakarta lahir inspirasi yang menyalakan gerakan penyelamatan lingkungan, bukan hanya untuk persyarikatan, tetapi untuk semesta,” pungkasnya.

Pada kesempatan ini juga, Ikhwan menyampaikan rasa syukur atas berbagai capaian prestasi Unsur Pembantu Pimpinan (UPP) PWM DIY di tingkat nasional.

Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM DIY dinobatkan sebagai MPKSDI dengan perkaderan paling inovatif tingkat nasional. Keberhasilan penyelenggaraan Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) menjadi salah satu indikator kuat pengembangan SDM yang progresif.

Tak kalah membanggakan, LAZISMU DIY meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tiga tahun berturut-turut dan dinobatkan sebagai LAZISMU terbaik nasional tahun 2025, dengan capaian terbaik dalam kreativitas penghimpunan ZIS, program ekonomi, dan program pendidikan.

Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM DIY juga ditetapkan sebagai LDK terbaik tingkat nasional serta Ustaz Ananto Isworo sebagai Ketua mendapatkan penghargaan kategori dai komunitas inspiratif dan LDK Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kulon Progo meraih penghargaan kategori pendamping mualaf inspiratif. Bahkan, LDK PWM DIY menerima anugerah Kalpataru tahun 2024 dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sementara itu, Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) DIY berhasil meraih juara umum Olympicad VIII Nasional tahun 2026 dengan perolehan lebih dari 200 medali.

“PWM DIY ini small but beautiful and powerful. Kecil wilayahnya, tapi kuat prestasinya,” ujar Ikhwan disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga mengapresiasi Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY yang menerbitkan buku "Ekologi Berkemajuan", memuat konsep sekaligus praktik terbaik amal usaha dalam membangun green school dan gerakan lingkungan berbasis aksi.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow