Ikhwan Ahada: AI Tak Bisa Gantikan Keikhlasan dan Kemanusiaan Guru

Ikhwan Ahada: AI Tak Bisa Gantikan Keikhlasan dan Kemanusiaan Guru

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Guru bukan hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Guru mengajarkan kejujuran, kasih sayang, kepedulian, akhlak, keimanan, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semua nilai luhur itu tidak akan pernah mampu diajarkan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A. pada peluncuran Program Peduli Guru 2026 LAZISMU DIY, Kamis (9/7).

Dalam amanatnya, Ikhwan Ahada mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan 'Aisyiyah DIY menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pahlawan pendidikan, baik guru di sekolah Muhammadiyah maupun guru PAUD dan TK 'Aisyiyah.

"Rasa syukur itu diwujudkan dalam kerangka pikir jangka panjang, menengah, dan pendek atau praksis yang dilakukan pada hari ini. Bersama LAZISMU, PWM dan PWA DIY memiliki target dan jangka agar guru di DIY menjadi agen perubahan untuk anak-anak didik di masa mendatang," kata Ikhwan.

Melalui Program Peduli Guru LAZISMU DIY, PWM dan PWA DIY memiliki harapan besar agar para guru Muhammadiyah menjadi agen perubahan yang akan membentuk generasi masa depan dengan karakter yang kuat, berilmu, dan berakhlak mulia. Terlebih, dengan tantangan di era AI yang masif saat ini.

Beberapa waktu lalu, Ikhwan berdiskusi dengan Rektor Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu) mengenai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Menurutnya, perubahan yang terjadi sangat cepat dan hampir mustahil dibendung, bahkan para pakar AI mulai mengingatkan bahwa suatu saat manusia bisa saja justru dikendalikan oleh teknologi yang diciptakannya sendiri.

Tentu ada banyak sisi positif dari perkembangan teknologi. AI mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih murah, dan lebih presisi. Berbagai sektor industri kini semakin efisien karena dukungan teknologi. Namun, ada satu hal yang hingga kini tidak mampu digantikan oleh AI, yaitu nilai-nilai kemanusiaan.

Bila melihat perjalanan revolusi industri, pada era 1.0 hampir seluruh pekerjaan dilakukan manusia, sebesar 90 persen. Memasuki era 2.0, peran manusia mulai berkurang. Era 3.0 ditandai dengan berkembangnya komputasi sehingga peran manusia dan mesin 50:50, sedangkan pada era 4.0 semakin banyak pekerjaan yang digantikan mesin sedangkan porsi pekerjaan manusia hanya 20 persen atau bisa berkurang lagi.

Tentu sudah banyak contoh, di mana banyak layanan publik yang sudah sepenuhnya menggunakan sistem otomatis berbasis AI, mulai dari gerbang tol, hingga berbagai layanan lainnya. 

"Para pakar memperkirakan kita sedang memasuki era ketika peran manusia semakin kecil, sementara sebagian besar pekerjaan akan dilakukan oleh mesin. Kondisi ini tentu membawa tantangan yang tidak ringan," 

Di tengah persaingan hidup yang semakin ketat, nilai-nilai kemanusiaan berpotensi semakin terkikis. Orang bisa saling bersaing tanpa kepedulian, bahkan muncul fenomena homo homini lupus, ketika manusia memandang manusia lain sebagai lawan.

Padahal, Allah telah menganugerahkan kepada manusia akal, hati, dan spiritualitas. Namun, semua itu perlahan mulai tergerus oleh perubahan zaman. Berbagai penelitian menunjukkan munculnya kecenderungan generasi muda menjadi agnostik, mengakui keberadaan Tuhan tetapi tidak lagi menjalankan ajaran agama. Di sejumlah negara Eropa bahkan terjadi penurunan keterikatan terhadap agama.

Inilah tantangan terbesar guru-guru Muhammadiyah. Tantangan besar pendidikan hari ini bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi menumbuhkan religiusitas, akhlak, dan kemanusiaan.

Karena itu, Ikhwan sangat bangga kepada para guru Muhammadiyah dan 'Aisyiyah yang tengah berbagai keterbatasan, tantangan ekonomi, serta perubahan teknologi yang begitu cepat, justru tetap istiqamah mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak.

Keikhlasan ini jadi mutiara yang sangat mahal, sesuatu yang tidak pernah bisa dipelajari ataupun ditiru oleh AI.

"Hari ini anak-anak dapat memperoleh pengetahuan dengan sangat mudah melalui internet dan teknologi. Karena itu guru harus memiliki nilai pembeda (distinctive value), yaitu keikhlasan kepada Allah, kejujuran, kasih sayang, empati, serta nilai-nilai universal Islam," tuturnya.

Memang AI mampu memberikan jawaban yang cepat, tetapi ia tidak memiliki hati. Bahkan, teknologi juga dapat menghasilkan informasi yang keliru melalui berbagai algoritma. Oleh karena itu, guru tetap menjadi sosok yang tidak tergantikan dalam membimbing anak-anak agar mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

"Perubahan akan terus berlangsung semakin cepat. Sebagai muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang inklusif, terbuka, dan rahmatan lil 'alamin kepada generasi muda. Semua itu berawal dari ruang-ruang kelas yang diisi oleh Bapak dan Ibu guru," jelas Ikhwan.

Masa depan anak-anak sangat ditentukan oleh pendidikan yang mereka terima hari ini. Maka, Ikhwan memastikan PWM dan PWA DIY bersama LAZISMU dan pihak terkait akan terus memikirkan berbagai ikhtiar untuk meningkatkan kesejahteraan ribuan guru Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Karena itu, (para guru Muhammadiyah dan 'Aisyiyah) teruslah menjaga semangat, keikhlasan, dan keterbukaan dalam mendidik," pungkas Ikhwan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow