Hari TBC Sedunia, Dinkes DIY Bersama MPKU PWM DIY dan RS PKU Muhammadiyah Gamping Teguhkan Kolaborasi
SLEMAN — Perayaan Hari TBC Sedunia di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah bersama dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC). Dalam kegiatan yang diselenggarakan secara campur (daring dan luring) ini, Dinas Kesehatan DIY, MPKU PWM DIY, dan RS PKU Muhammadiyah Gamping menegaskan kembali pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat eliminasi TBC di masyarakat.
Kegiatan yang diikuti sekitar 170 peserta di RS PKU Muhammadiyah Gamping pada Kamis (23/4) ini menghadirkan tenaga kesehatan dari rumah sakit, puskesmas, klinik, perguruan tinggi, dinas kesehatan, dinas sosial, serta unsur masyarakat umum. Meski sebagian besar peserta berasal dari DIY, kegiatan ini juga diikuti peserta dari berbagai daerah lain di Indonesia, menandakan bahwa isu TBC masih menjadi perhatian nasional dan membutuhkan respons bersama.
Direktur RS PKU Muhammadiyah Gamping, dr. H. Ahmad Faesol, Sp.Rad, M.Kes, MMR, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Hari TBC Sedunia bukan sekadar agenda seremonial, tetapi ruang untuk memperkuat kerja sama yang nyata. Ia menyebut rumah sakit, pemerintah, organisasi masyarakat, dan fasilitas layanan primer harus bergerak dalam satu arah.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat layanan dan edukasi masyarakat dalam penanggulangan TBC,” ujarnya.
Ketua MPKU PWM DIY, dr. Masykur Rahmat, MARS, juga menyoroti pentingnya kesinambungan kolaborasi. Ia menilai Muhammadiyah memiliki komitmen kuat untuk terus terlibat dalam isu kesehatan masyarakat, termasuk pengendalian TBC.
“Kami berkomitmen untuk terus berkolaborasi dalam upaya eliminasi TBC. Kerja sama seperti ini harus terus diperluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H, menekankan bahwa pengendalian TBC memerlukan sinergi lintas sektor yang berkelanjutan. Menurutnya, masalah TBC tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan klinis, melainkan juga harus melibatkan promosi kesehatan, penemuan kasus aktif, dan dukungan masyarakat.
“Perayaan Hari TBC Sedunia ini menjadi pengingat bahwa eliminasi TBC adalah tanggung jawab bersama. Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan rumah sakit, klinik, organisasi masyarakat, dan komunitas,” jelasnya.
Dalam sesi materi, Kepala Bidang P2P Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, menyampaikan situasi dan kebijakan TBC di DIY. Ia memberikan apresiasi kepada Muhammadiyah dan Aisyiyah yang selama ini aktif dalam gerakan percepatan eliminasi TBC. “Kami mengapresiasi peran Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai tim percepatan eliminasi TBC. Keterlibatan organisasi masyarakat sangat penting untuk menjangkau kelompok yang lebih luas,” ujarnya.
Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Ardorisye Saptaty Fornia, Sp.P., M.Kes dari RS PKU Muhammadiyah Gamping. Ia menjelaskan update tata laksana TBC terbaru, termasuk perubahan dosis obat dan pengenalan regimen baru yang perlu diketahui tenaga kesehatan. Menurutnya, pembaruan ini penting agar layanan yang diberikan tetap sesuai standar dan mampu meningkatkan keberhasilan pengobatan.
“Ada beberapa pembaruan dalam tata laksana TBC yang perlu dipahami tenaga kesehatan, terutama terkait dosis obat dan regimen terbaru,” tuturnya.
Pada sesi TBC anak, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed)., Ph.D., Sp.A(K) dari IDAI DIY memaparkan perbaikan alur diagnosis dan penilaian kasus TBC anak. Ia menegaskan bahwa skoring TBC tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar diagnosis.
“Diagnosis TBC anak harus dilihat secara menyeluruh. Skoring memang membantu, tetapi tidak menjadi patokan utama dalam menentukan diagnosis,” ujarnya.
Adapun penguatan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama disampaikan oleh dr. Nadia Nur Azizah dari Klinik Firdaus 24 Jam. Ia menekankan peran FKTP dalam penemuan kasus dan pengobatan TBC sejak awal agar penularan dapat ditekan.
“FKTP memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk pelayanan. Jika penemuan dan pengobatan dilakukan dengan baik di tingkat ini, maka rantai penularan dapat diputus lebih cepat,” jelasnya.
Apt. Edwin Daru Anggara, M.Sc., MPH selaku technical officer public private mix Global Fund TBC menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari perluasan strategi kolaborasi yang sebelumnya telah dilakukan bersama perguruan tinggi. Kini, jangkauannya diperluas ke organisasi masyarakat dan fasilitas kesehatan.
“Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang sebelumnya banyak dilakukan bersama perguruan tinggi, dan kali ini diperluas ke organisasi masyarakat serta fasilitas kesehatan,” katanya.
Diskusi peserta berlangsung aktif dan penuh perhatian. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Millati Azna, A.Md dari Gunungkidul yang menanyakan alur yang tepat ketika klinik menemukan pasien suspek TB.
“Bagaimana alurnya jika di klinik mendapati pasien suspek TB?” tanyanya. Pertanyaan ini mencerminkan kebutuhan tenaga kesehatan lapangan untuk mendapatkan panduan praktis dalam penanganan kasus.
Pertanyaan lain disampaikan oleh Agus Supriyanto dari Kulon Progo yang menyoroti cara membatasi penularan di lapangan dan langkah tracing yang lebih efisien.
“Bagaimana cara membatasi penularannya, dan langkah tracing di lapangan yang lebih efisien?” ujarnya. Pertanyaan ini mendapat perhatian karena menyentuh tantangan nyata dalam pengendalian TBC di masyarakat.
Dari sisi tanggapan, Elisabeth Erningtyas, A.Md.Kep dari Klinik Satria Gadingan menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena mudah diakses dan memberi kesempatan belajar bagi tenaga kesehatan.
“Kegiatannya bagus dan mudah dijangkau, bisa secara online dan mendapatkan e-sertifikat,” katanya. Sementara dr. Ika Anis Nur Nadhira dari Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Berbah menyampaikan apresiasi karena seminar ini membantu tenaga kesehatan memahami diagnosis TBC anak secara lebih tepat. “Terima kasih MPKU, ditunggu seminar-seminar yang sangat bermanfaat seperti ini kembali,” ujarnya.
Melalui perayaan Hari TBC Sedunia ini, Dinkes DIY, MPKU PWM DIY, dan RS PKU Muhammadiyah Gamping menegaskan bahwa upaya melawan TBC hanya dapat berhasil bila semua pihak bergerak bersama. Kolaborasi, edukasi, dan penguatan layanan menjadi kunci agar eliminasi TBC bukan hanya target, tetapi benar-benar tercapai.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow