Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah Kuatkan DNA dan Tradisi Intelektual dalam Kehidupan Berislam
JAKARTA — Tanggal 13 Agustus menjadi salah satu hari yang penting bagi Muhammadiyah. Sebab pada tanggal inilah diperingati Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah, ini menjadi wujud nyata bagi persyarikatan untuk meneguhkan kembali peran pers dan literasi dalam perjalanan panjang Persyarikatan
Untuk memperingati momen penting ini, Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Puncak Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah pada Kamis (13/8) di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Turut hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., beserta jajaran, Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komarudin Hidayat, serta Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si.
Dua agenda utama mewarnai peringatan tahun ini. Yaitu pidato kebangsaan oleh Haedar Nashir dan yang paling utama penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus Dewan Pers kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut atas perjalanan dan kontribusinya yang panjang dalam dunia jurnalistik.
Ketua MPI PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muchlas, M.T., menjelaskan, Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah lahir dari kesadaran bahwa Persyarikatan memiliki ekosistem media yang besar dan berakar kuat dalam sejarah gerakan. Menurutnya, media Muhammadiyah hadir mulai dari tingkat PP hingga pimpinan daerah, amal usaha Muhammadiyah, hingga komunitas kader yang tergabung dalam Media Afiliasi Muhammadiyah.
Namun, perhatian Muhammadiyah terhadap media bukanlah sesuatu yang baru, karena memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak masa awal Muhammadiyah, pers telah menjadi bagian dari gerakan dakwah dan pencerdasan masyarakat. Pada 1915, Muhammadiyah menerbitkan Suara Muhammadiyah, yang kemudian disusul Suara ‘Aisyiyah serta berbagai media Muhammadiyah di segala penjuru daerah.
“Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pers dan literasi bukan sekadar instrumen komunikasi organisasi, melainkan bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan yang menyertai perjalanan Muhammadiyah,” kata Rektor Universitas Ahmad Dahlan itu.
Muhammadiyah berkembang bukan hanya melalui amal nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga melalui kekuatan gagasan dengan membaca, menulis, berdiskusi, menyebarkan pengetahuan, serta membangun kesadaran publik.
“Dengan kata lain, literasi dan pers telah menjadi bagian dari DNA gerakan Muhammadiyah,” tegasnya.
Atas kesadaran sejarah tersebut, MPI PP Muhammadiyah pada Agustus 2024 mengusulkan Hari Pers Muhammadiyah. Atas arahan Haedar Nashir, nomenklatur tersebut kemudian disempurnakan menjadi Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah, yang diperingati setiap 13 Agustus.
Penambahan kata literasi dinilai memiliki makna penting. Pers yang sehat membutuhkan masyarakat dengan kemampuan literasi yang baik. Sebaliknya, tradisi literasi membutuhkan media yang sehat untuk membangun ruang publik yang cerdas dan berkeadaban.
Karena itu, Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah tidak dimaksudkan sekadar menjadi seremoni tahunan. Momentum tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali etos literasi Muhammadiyah sekaligus memperkuat kualitas media Persyarikatan.
Terlebih di tengah derasnya arus informasi, media sosial, disinformasi, serta perkembangan kecerdasan artifisial, Muhammadiyah memandang kebutuhan terhadap jurnalisme yang profesional, berintegritas, mencerdaskan, dan mampu menyampaikan nilai-nilai Islam Berkemajuan semakin penting.
Semangat tersebut tahun ini diwujudkan antara lain melalui Jambore Media AfiliasiMu yang berlangsung pada 12–13 Agustus 2026. Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur media Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring sekaligus meningkatkan kualitas ekosistem media Persyarikatan.
Selain peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah, momentum tersebut menjadi istimewa dengan penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus Dewan Pers kepada Haedar Nashir.
Muchlas menyampaikan, publik selama ini lebih banyak mengenal Haedar sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dan cendekiawan Muslim. Namun, di balik itu, Haedar memiliki perjalanan panjang di dunia jurnalistik yang telah ditekuni sejak masa mahasiswa hingga sekarang.
Atas rekam jejak tersebut, lebih dari dua tahun lalu Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) UMJ bersama Bidang Penguatan Media dan Jurnalistik MPI PP Muhammadiyah mulai menginisiasi pengajuan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Dewan Pers.
Prosesnya berlangsung cukup panjang. Berbagai bukti aktivitas kewartawanan Haedar dari Suara Muhammadiyah dihimpun dan dilengkapi. Proses tersebut juga mendapat dukungan dari Republika serta rekomendasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).
MPI PP Muhammadiyah bersama LUKW UMJ juga melakukan audiensi dengan Dewan Pers untuk menyempurnakan berbagai persyaratan. Hingga akhirnya, pada Maret 2026, Kartu Wartawan Utama Khusus untuk Haedar Nashir disetujui Dewan Pers.
Muchlas menegaskan, kartu tersebut bukan penghargaan yang lahir dari proses sederhana. Pengakuan itu adalah hasil dari penelusuran perjalanan jurnalistik, pengalaman yang teruji, serta proses verifikasi yang ketat dan berlapis.
“Dengan demikian, kartu ini tidak hanya mencerminkan penghargaan kepada sosok Prof. Haedar Nashir, tetapi juga pengakuan terhadap konsistensi beliau dalam dunia pers dan jurnalistik selama puluhan tahun,” jelasnya.
Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat mengaku bangga kepada Haedar Nashir sebagai wartawan utama dan senior. Menurutnya, pengakuan tersebut hadir di tengah kondisi dunia pers yang kehilangan banyak tokoh wartawan sekaligus intelektual, budayawan, dan pemikir bangsa.
“Saya bangga Haedar Nashir tercatat sebagai wartawan utama dan senior di saat dunia pers kehilangan tokoh wartawan sekaligus intelektual dan budayawan maupun pemikir bangsa dan peradaban,” kata Komarudin.
Ia menyoroti tantangan dunia jurnalistik saat ini. Menurutnya, profesi wartawan tidak boleh sekadar dipandang sebagai lapangan pekerjaan untuk bertahan secara ekonomi.
Komarudin mengingatkan bahwa informasi berkualitas merupakan kebutuhan mendasar masyarakat. Dalam tradisi Islam, penyampaian berita bahkan memiliki landasan yang kuat melalui prinsip tabayyun atau verifikasi.
Ia mencontohkan tradisi keilmuan Islam yang mengenal klasifikasi dan autentikasi hadis, seperti mutawatir, shahih, dan dhaif. Tradisi tersebut menunjukkan pentingnya memastikan kebenaran informasi sebelum dipercaya dan disebarluaskan.
Di tengah maraknya berita palsu dan banjir informasi, kebutuhan masyarakat terhadap berita berkualitas, kata Komarudin, semakin besar.
“Informasi menjadi kebutuhan. Menjadi persoalan ketika informasi terpolusi,” ujarnya.
Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah dan Haedar Nashir dalam dunia pers dinilai memberikan kontribusi penting dalam menjaga kualitas informasi publik.
“Keterlibatan Muhammadiyah dan Pak Haedar memberikan pencerahan dan bobot bahwa informasi yang beredar harus berkualitas. Kami berterima kasih kepada Pak Haedar dan Muhammadiyah,” tuturnya.
Komarudin juga menegaskan bahwa pers memiliki posisi penting sebagai cermin masyarakat sekaligus jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Pers menyuarakan aspirasi masyarakat agar diketahui pemerintah, sekaligus menyampaikan capaian pemerintah agar diketahui masyarakat.
Dalam konteks demokrasi modern, ia berharap pers tetap terbuka, kritis, independen, sekaligus konstruktif. Menurutnya, ketika pers disumbat, aspirasi masyarakat justru akan mencari saluran lain, terutama melalui media sosial yang lebih sulit dikendalikan.
“Kita berharap pers makin terbuka dan kritis, independen dan konstruktif,” katanya.
Dewan Pers tentu berharap makin banyak intelektual Muhammadiyah yang ikut memperkuat ekosistem pers dan literasi di Indonesia. Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah menjadi penegasan bahwa tradisi intelektual, literasi, dan jurnalistik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Persyarikatan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, merawat ruang publik yang sehat, serta membawa nilai-nilai Islam yang mencerahkan bagi kemanusiaan semesta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow