Hamim Ilyas: Alam dan Manusia Sama-sama Subjek, Bukan Objek Eksploitasi
YOGYAKARTA — Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY berlanjut pada hari ke-2, Ahad (1/3). Awal pengajian di hari ke-2 penuh refleksi saat Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag. selaku Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah membentangkan gagasan tentang "Etika Islam dan Edu-Ekologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam". Di hadapan jamaah, ia menegaskan satu tesis kuat: alam adalah rahmat bagi manusia, dan manusia harus menjadi rahmat bagi alam.
Dalam paparannya, Hamim menjelaskan bahwa Al-Qur’an memandang alam bukan sebagai benda mati tanpa makna. Alam memiliki kesadaran ontologis, kesadaran tentang untuk apa ia diciptakan.
“Al-Qur’an menyatakan bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah. Itu menunjukkan alam memiliki kesadaran,” ujarnya.
Kesadaran alam berbeda dengan manusia. Jika manusia memiliki kesadaran reflektif, alam memiliki kesadaran menjalankan fungsi penciptaannya. Matahari, misalnya, terus bersinar karena “sadar” bahwa ia diciptakan untuk menerangi kehidupan, begitu juga burung bertasbih melalui kicauannya. Seluruh materi di alam semesta bergerak dalam harmoni pengabdian kepada Allah.
Karena itu, menurut Hamim, manusia dan alam sama-sama subjek. Relasi keduanya bukan kuasa-menguasai, melainkan saling memberi kebaikan. Kerusakan ekologis hari ini, tegasnya, lahir dari cara pandang modern yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak alam.
“Eksploitasi yang tidak sopan terhadap alam menjadi ancaman serius bagi peradaban,” katanya.
Hamim pun menguraikan bahwa alam memberi rahmat melalui tiga nilai utama.
Pertama, nilai ekonomi. Alam menyediakan pertanian, perkebunan, dan sumber daya lain untuk kehidupan. Bahkan langit memiliki nilai ekonomi melalui frekuensi dan teknologi komunikasi yang hanya bisa dimanfaatkan oleh bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan.
Kedua, nilai pendidikan. Alam telah menjadi sumber inspirasi bagi para ilmuwan dan penemu. Newton menemukan gravitasi dari apel jatuh. Wright bersaudara terinspirasi burung untuk menciptakan pesawat. Dalam filosofi Jawa, padi yang semakin berisi justru semakin merunduk, memberikan pelajaran tentang kerendahan hati.
Ketiga, nilai spiritual. Keindahan bunga, gemericik air, hingga keteraturan alam semesta mengantarkan manusia pada kesadaran tasbih bersama alam. Spiritualitas tertinggi, menurutnya, adalah tasawuf ihsani, beribadah seolah-olah melihat Allah, atau setidaknya merasa dilihat oleh-Nya.
“Kalau kita merasa dilihat Allah, kita akan menjalankan profesi apa pun dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Jika alam adalah rahmat bagi manusia, maka manusia harus menjadi rahmat bagi alam melalui tugasnya sebagai khalifatullah atau perwakilan Allah di muka Bumi. Setiap tindakan yang diawali dengan bismillah, kata Hamim, adalah pernyataan keterhubungan dengan Allah. Seorang guru, misalnya, harus memastikan ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya menjadi cahaya, bukan racun.
Mengelola alam berarti menghadirkan kemaslahatan, bukan krisis. Karena itu, ia mengkritik keras praktek eksploitasi tambang dan ekonomi yang hanya mengejar pertumbuhan tanpa etika.
Kemudian, Hamim menjelaskan soal konsep kapitalisme religius, yakni bisnis besar dengan akumulasi modal kuat, tetapi tujuannya kesejahteraan, bukan keserakahan.
Ia mencontohkan kekuatan modal sosial Muhammadiyah. Di Jawa Tengah, puluhan pimpinan daerah meminjamkan sertifikat pribadi untuk membangun rumah sakit tanpa menuntut saham. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, ada cabang Muhammadiyah mendirikan usaha SPBU untuk menopang panti asuhan dan madrasah.
“Kita punya modal sosial yang luar biasa, yaitu jargon 'Hidup-hiduplah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah',” tegasnya.
Ke depan, ia berharap Muhammadiyah bisa membentuk korporasi. Artinya, persyarikatan memiliki perusahaan besar yang bersaing secara profesional, namun dikelola dengan nilai-nilai Islam. Jika kekuatan ekonomi dapat terbangun, maka cita-cita Islam rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi semesta alam bukan sekadar mimpi.
“Kalau perusahaan besar itu dimiliki Muhammadiyah dan dikelola dengan nilai rahmat, tidak akan ada orang miskin di Indonesia,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow