Hadapi Disrupsi Teknologi, Muhammadiyah Perlu Dakwah Adaptif dan Dinamis
BANTUL — Muhammadiyah saat ini menghadapi tantangan untuk terus mengembangkan dakwah yang adaptif dan dinamis agar mampu menjawab perubahan zaman yang begitu cepat.
Dalam Pengajian Ramadan 1447 H Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul, Ahad (8/3), di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Bantul, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A., menyoroti perubahan pola masyarakat dalam mencari pengetahuan agama, khususnya generasi muda yang kini sangat bergantung pada teknologi digital.
Ia mencontohkan fenomena pencarian jawaban keagamaan di internet. Dari puluhan pertanyaan yang muncul di ruang digital, hanya sebagian kecil yang dijawab dengan perspektif Muhammadiyah.
“Bayangkan jika ada 40 pertanyaan tentang praktik keagamaan sehari-hari. Sekitar kurang dari 20 persen saja yang dijawab menggunakan paham Muhammadiyah. Artinya, 80 persen lebih pemahaman yang mereka dapatkan bukan dari Muhammadiyah,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan bagi gerakan dakwah Muhammadiyah untuk beradaptasi dengan cara baru. Generasi muda saat ini, kata dia, setiap hari mengakses gawai serta seringkali menjadikan mesin pencari dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai “kyai” baru.
“Anak-anak kita sekarang bertanya kepada ‘kyai Google’ atau bahkan 'kyai AI'. Kalau cara dakwah kita tidak berubah, maka cara berpikir generasi mereka nanti juga akan terbentuk dari sana,” katanya.
Padahal, lanjutnya, dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa manusia diciptakan untuk saling mengenal dan berinteraksi. Jika kehidupan sepenuhnya bergantung pada teknologi tanpa relasi kemanusiaan yang kuat, maka hal tersebut bisa menyalahi fitrah manusia.
Karena itu, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam harus tetap berpegang pada jati dirinya sebagaimana tertuang dalam Kepribadian Muhammadiyah, yakni sebagai gerakan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid.
Ikhwan menjelaskan, tajdid dalam Muhammadiyah tidak hanya bermakna pemurnian (purifikasi) ajaran Islam, tetapi juga pembaruan yang mencakup dinamisasi dan modernisasi.
“Selama ini kita sering memahami tajdid hanya sebagai purifikasi dan dinamisasi. Padahal ada juga unsur modernisasi, yaitu bagaimana dakwah memanfaatkan fasilitas dan perkembangan zaman,” jelasnya.
Ia mencontohkan perubahan berbagai profesi yang terdampak kemajuan teknologi. Banyak pekerjaan yang dahulu ada, kini berkurang atau bahkan hilang karena digantikan oleh sistem digital dan otomatisasi.
“Dulu banyak petugas di gerbang tol, sekarang hampir semua digantikan mesin. Ke depan robot bisa menggantikan banyak pekerjaan manusia,” ujarnya.
Bahkan, ia menyebut prediksi perkembangan teknologi yang sangat cepat, termasuk kemungkinan hadirnya miliaran robot di masa depan yang mampu mengambil alih berbagai tugas manusia, saat ini sudah dikembangkan di beberapa negara, salah satunya Tiongkok.
Kondisi tersebut, menurut Ikhwan, menjadi tantangan besar bagi dakwah Islam. Jika dakwah tidak beradaptasi, generasi muda bisa merasa bahwa organisasi keagamaan tertinggal oleh perkembangan zaman.
“Jangan sampai cabang, ranting, dan organisasi otonom seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Hizbul Wathan, dan Tapak Suci dianggap organisasi yang ketinggalan zaman,” katanya.
Dalam menghadapi disrupsi tersebut, Ikhwan mengingatkan kembali prinsip dakwah yang diajarkan dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 125, yakni melalui tiga pendekatan utama.
Pertama adalah dakwah dengan hikmah, yaitu menyampaikan kebenaran dengan argumentasi yang tepat dan mengandung pelajaran. Saat ini, nilai hikmah sering terkikis oleh budaya internet dan media sosial yang lebih mengedepankan hiburan daripada kedalaman makna.
Kedua adalah mau‘izhah hasanah, yakni menyampaikan pesan dengan cara yang baik, indah, dan tidak menyakiti audiens. Pendekatan ini juga menuntut adanya keteladanan antara ucapan dan perbuatan.
“Terutama untuk generasi Z, dakwah harus memotivasi, bukan memojokkan. Anak-anak harus diajak dengan pendekatan yang menumbuhkan semangat,” ujarnya.
Ketiga adalah mujadalah, yakni dialog yang terbuka dan argumentatif apabila dua pendekatan sebelumnya belum menemukan titik temu.
Dalam praktiknya, Muhammadiyah mengembangkan ketiga pendekatan tersebut melalui berbagai bentuk dakwah, seperti dakwah bil lisan, bil hikmah, dan bil hal.
Dakwah bil lisan dilakukan melalui ceramah, tulisan, dan penerbitan berbagai karya ilmiah. Dakwah bil hikmah diwujudkan dalam jihad konstitusi untuk memperjuangkan kebijakan yang sejalan dengan nilai keadilan untuk rakyat. Sedangkan dakwah bil hal dilakukan melalui pembangunan amal usaha Muhammadiyah di berbagai bidang.
“Amal usaha Muhammadiyah menjadi alat untuk menegakkan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar,” jelasnya.
Ke depan, Ikhwan berharap Muhammadiyah mampu memanfaatkan media digital secara maksimal untuk memperluas jangkauan dakwah, termasuk menyebarkan manhaj Muhammadiyah hingga ke tingkat global.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki banyak sumber rujukan keilmuan seperti Tanya Jawab Agama, Himpunan Putusan Tarjih, dan Risalah Islam Berkemajuan yang dapat disajikan dengan format yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.
“Kita punya PR besar agar dakwah Muhammadiyah semakin dinamis, kreatif, dan progresif. Media dakwah di internet harus kita rebut agar manhaj Muhammadiyah bisa dikenal luas di dunia,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow