Budi Setiawan: Resiliensi Bencana Harus Dibangun dari Iman dan Edukasi Lingkungan
YOGYAKARTA — Ketua Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), H. Budi Setiawan, S.T., mengungkapkan tentang resiliensi bencana bukan hanya soal kesiapsiagaan teknis, tetapi juga kekuatan iman, solidaritas, dan perubahan perilaku lingkungan.
Hal itu ia sampaikan dalam Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY, pada Sabtu (28/2) dengan menekankan pentingnya membangun ketangguhan komunitas berbasis nilai keislaman dan gerakan ekologi.
Mengapa resiliensi itu penting? Menurut keyakinan Budi, resiliensi penting karena tiga hal utama. Pertama, mengurangi risiko bencana dengan meminimalkan dampak negatif saat musibah terjadi. Kedua, meningkatkan keselamatan, melindungi jiwa melalui kesiapsiagaan. Ketiga, memperkuat komunitas, membangun solidaritas agar masyarakat lebih tangguh menghadapi krisis.
Namun, ia mengakui ada tantangan besar: rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan sumber daya, serta perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Budi menegaskan, resiliensi memiliki dimensi spiritual. Ketangguhan harus dibangun di atas fondasi iman.
“Ikhtiar maksimal, sabar dalam ujian, dan tawakal atas hasilnya,” ujarnya.
Resiliensi juga berarti kemampuan untuk bangkit cepat setelah bencana. Dalam kerangka praktis, ada empat prinsip utama, yakni persiapan, pengurangan risiko, respons cepat, dan pemulihan. Empat tahap ini harus berjalan berkesinambungan.
Secara praktis, Budi mengajak jamaah melakukan langkah konkret. Mulai dari mengenali ancaman dan risiko bencana di lingkungan sekitar, menyusun rencana darurat keluarga atau komunitas, menyiapkan tas siaga bencana, hingga melakukan latihan dan simulasi secara berkala.
Ia mengutip QS. As-Saff ayat 4 tentang pentingnya barisan yang teratur sebagai simbol kesiapan kolektif menghadapi tantangan.
“Bencana tidak bisa dihadapi sendiri-sendiri. Harus berjamaah,” tegasnya.
Budi juga menyinggung bencana hidrologi yang melanda sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa waktu terakhir.
Banjir dan longsor yang terjadi tidak semata-mata peristiwa alam, tetapi juga dipengaruhi oleh degradasi lingkungan, alih fungsi lahan, dan buruknya tata kelola air.
Ia mengingatkan firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia, agar manusia kembali ke jalan yang benar. Sementara QS. Thaha ayat 121 menggambarkan konsekuensi dari pelanggaran yang menjadi pelajaran bagi umat manusia.
“Banyak bencana hidrologi hari ini adalah cermin hubungan kita dengan lingkungan,” ujarnya.
Budi menekankan bahwa edukasi lingkungan harus terintegrasi dengan mitigasi bencana. Ada sinergi penting antara edukasi risiko (risk perception), perilaku pro-lingkungan seperti sanitasi saluran air dan stabilisasi lereng, mitigasi berbasis komunitas, hingga sistem umpan balik dari pengalaman bencana sebelumnya
Sekolah dan lembaga pendidikan, menurutnya, memiliki peran strategis. Langkah sistematis bisa dimulai dari pembentukan tim ekologi, identifikasi isu lingkungan, penyusunan rencana aksi, hingga monitoring dan evaluasi.
Resiliensi yang kuat, lanjut Budi, lahir dari gerakan ekologi yang berkelanjutan. Bentuknya meliputi pengelolaan sampah, Konservasi air, penggunaan energi terbarukan, pemanfaatan lahan secara bijak, dan pendidikan lingkungan
Di sekolah, gerakan ini bisa diwujudkan melalui program kebun hijau, lomba daur ulang, workshop sadar banjir, hingga simulasi evakuasi rutin.
“Resiliensi bukan sekadar respons saat bencana datang. Ia adalah budaya hidup yang menjaga keseimbangan dengan alam,” pungkasnya.
Dalam momentum Ramadan ini, ia mengajak umat untuk memperkuat iman sekaligus memperbaiki relasi dengan lingkungan. Sebab ketangguhan sejati lahir dari kesadaran spiritual dan aksi nyata.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow