Toko Oleh-oleh 1915 Resmi Dibuka, Muhammadiyah Perluas Kiprah Lewat Pariwisata dan Ekonomi Umat

Toko Oleh-oleh 1915 Resmi Dibuka, Muhammadiyah Perluas Kiprah Lewat Pariwisata dan Ekonomi Umat

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Muhammadiyah kembali memperluas kiprahnya dalam membangun ekosistem pariwisata dan ekonomi umat. Kali ini, Suara Muhammadiyah resmi membuka Toko Oleh-oleh 1915 di Grha Suara Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (11/8). Kehadiran toko ini menjadi langkah baru Muhammadiyah dalam mengembangkan dakwah melalui sektor pariwisata, bisnis, dan pemberdayaan UMKM.

Peresmian Toko Oleh-oleh 1915 dihadiri Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman, Wakil Ketua Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif PP Muhammadiyah Terra Budiarto, Direktur Suara Muhammadiyah Deni Asy’ari, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta Aris Madani, jajaran Koramil dan Polsek Ngampilan, serta warga Muhammadiyah Kota Yogyakarta.

Deni Asy’ari mengatakan, Toko Oleh-oleh 1915 merupakan toko oleh-oleh pertama yang dimiliki Muhammadiyah. Ke depan, konsep tersebut akan dikembangkan di berbagai daerah dengan mengusung identitas lokal masing-masing.

“Insya Allah ini yang pertama dan tentunya juga akan kita kembangkan di setiap daerah, setiap provinsi dengan nama 1915 berbasis daerahnya. Nanti ada 1915 Surabaya, 1915 Bandung, dan lain sebagainya,” ujar Deni.

Pemilihan nama 1915 mengandung makna sejarah dan filosofis. Sebab, angka tersebut merujuk pada tahun kelahiran majalah Suara Muhammadiyah. Melalui majalah ini, dakwah Muhammadiyah di masa-masa awal banyak dilakukan melalui tulisan dan media cetak.

“Waktu tahun 1915 dakwah Muhammadiyah itu bil kitab, bil kalam melalui majalah. Maka kemudian di tahun ini, 2026, kita ingin mengambil semangat 1915, tetapi tidak untuk dakwah bil kalam, melainkan untuk dakwah wisata,” jelasnya.

Karena itu, 1915 kemudian dijadikan ikon bagi toko oleh-oleh Muhammadiyah yang dikembangkan di Yogyakarta.

Deni menjelaskan, pendirian toko tersebut tidak terlepas dari karakter Yogyakarta sebagai salah satu kota tujuan wisata. Tingginya aktivitas pariwisata menjadi peluang yang perlu ditangkap Muhammadiyah dengan menghadirkan berbagai kebutuhan wisatawan, termasuk produk oleh-oleh.

“Maka mau tidak mau, SM harus menjadi bagian menginisiasi, menghadirkan kebutuhan wisatawan,” katanya.

Menurut Deni, meskipun tingkat okupansi hotel di Yogyakarta belakangan mengalami sedikit penurunan, arus kunjungan wisatawan tetap menunjukkan peluang besar bagi sektor oleh-oleh. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Suara Muhammadiyah masuk lebih jauh ke bisnis pariwisata.

“Destinasi wisatanya tinggi, dan pusat oleh-oleh juga menjadi bagian dari ekosistem pariwisata itu,” ungkapnya.

Salah satu kekuatan utama Toko Oleh-oleh 1915 adalah produk yang ditawarkan. Deni menyebut sekitar 98 persen produk yang tersedia merupakan produk UMKM buatan warga Yogyakarta.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Suara Muhammadiyah untuk mengangkat produk lokal agar semakin dikenal dan naik kelas.

“Kita punya semangat ingin berkolaborasi, mengangkat UMKM yang ada di Yogyakarta ini untuk naik kelas,” tutur Deni.

Selain produk UMKM mitra, Toko Oleh-oleh 1915 juga menghadirkan produk yang dikelola dan diproduksi secara mandiri oleh Suara Muhammadiyah, di antaranya Bakpia Cahya dan Rendang Datuk.

Deni berharap, ke depan kolaborasi dengan pelaku UMKM dapat diperluas sehingga semakin banyak produk lokal yang bisa dikembangkan dan dipasarkan melalui jaringan Toko Oleh-oleh 1915.

Diungkapkan oleh Deni, Ide mendirikan toko oleh-oleh ini sebenarnya telah muncul sejak Suara Muhammadiyah mengembangkan SM Tower. Dari sana, SM mulai melihat pentingnya Muhammadiyah masuk dalam sektor dakwah wisata.

“Karena tren wisata bagi kalangan Generasi Z dan Alpha itu menjadi tren baru, menjadi ikon baru. Maka dakwah ke depan yang kami ambil adalah mulai masuk pada dakwah wisata,” jelasnya.

Langkah itu telah diwujudkan melalui pengelolaan hotel, restoran di sejumlah tempat wisata, hingga kini pusat oleh-oleh. Suara Muhammadiyah saat ini juga mengelola sejumlah restoran di kawasan Pantai Laguna Depok, Pacitan, dan Kebumen.

“Fasilitas-fasilitas yang sifatnya untuk dakwah pariwisata dan ekonomi ini akan kami kembangkan dalam berbagai varian lainnya untuk menyasar segmen anak-anak muda, Gen Z dan Gen Alpha ke depannya,” imbuh Deni.

Deni mengajak warga Muhammadiyah maupun wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta untuk menikmati berbagai destinasi wisata di DIY sekaligus menjadikan Toko Oleh-oleh 1915 sebagai tempat mendapatkan buah tangan.

Ia menegaskan, toko tersebut bukan sekadar unit bisnis, tetapi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi yang manfaatnya diharapkan kembali kepada masyarakat luas.

“Ini tidak milik perseorangan, bukan milik perorangan, tetapi milik masyarakat banyak dan milik Persyarikatan Muhammadiyah. Insya Allah tokonya maju, masyarakatnya maju, ekonomi juga maju,” tegasnya.

Ketua PP Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman menyambut baik pembukaan Toko Oleh-oleh 1915. Menurutnya, kehadiran toko tersebut merupakan manifestasi kreativitas Suara Muhammadiyah dalam membangun sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi umat.

Agus menilai, pengembangan sektor ekonomi menjadi bagian fundamental dalam mendorong kemandirian Persyarikatan Muhammadiyah.

“Justru di saat seperti ini kebangkitan ekonomi umat itu dikawal. Dan kami yakin toko oleh-oleh ini tetap akan mendapatkan sambutan yang baik,” ucap Agus.

Ia berharap Toko Oleh-oleh 1915 tidak berhenti di Yogyakarta. Gerai serupa diharapkan segera hadir di berbagai daerah sehingga dapat menjadi simpul baru penggerak ekonomi umat sekaligus memperluas jejaring bisnis dan dakwah Suara Muhammadiyah.

“Semoga tidak lama lagi nanti muncul di tempat-tempat yang lain. Ya, paling tidak yang harus segera dibuka itu di jalur Gunungkidul,” harapnya.

Usai peresmian, para tamu undangan dan warga Muhammadiyah Kota Yogyakarta langsung memasuki toko untuk melihat berbagai produk yang tersedia. Sejumlah produk unggulan, seperti Bakpia Cahya, Rendang Datuk, serta beragam jajanan olahan UMKM lokal, turut dibeli warga dan tamu undangan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi lokal dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow