Tak Hanya Penuhi Gizi, Model Prasmanan MBG Muhammadiyah Jadi Sarana Pendidikan Karakter
YOGYAKARTA — Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) mulai menguji coba model prasmanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi di 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di enam provinsi. Uji coba ini dilakukan untuk menjaga kualitas penyajian makanan sekaligus menjadikan kegiatan makan bersama sebagai sarana pembentukan karakter peserta didik.
Keenam provinsi tersebut meliputi Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tenggara.
Direktur BPPGM, M. Nurul Yamin, menjelaskan bahwa model prasmanan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi siswa. Melalui sistem penyajian ini, pengawasan terhadap kualitas dan proses penyajian makanan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terkontrol.
Menurut Yamin, kegiatan makan bersama juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat belajar mengantre, menaati aturan, mengambil makanan sesuai kebutuhan, menjaga ketertiban, serta berdoa sebelum dan sesudah makan.
“Model prasmanan ini tidak hanya memperhatikan kualitas pangan yang disajikan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan. Melalui praktik makan bersama, siswa dapat belajar budaya antre, menaati aturan, bertanggung jawab, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta membangun kebersamaan,” jelas Yamin, Kamis (29/10).
Ia menambahkan, kebiasaan sederhana tersebut merupakan bagian dari pembelajaran soft skill yang dapat ditanamkan melalui aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, program Makan Bergizi tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga dapat mendukung pembiasaan perilaku positif di lingkungan pendidikan.
Meski demikian, model prasmanan belum dapat diterapkan di seluruh SPPG Muhammadiyah. Penerapannya membutuhkan perlengkapan yang memenuhi standar tertentu serta mempertimbangkan kondisi lapangan dan karakteristik penerima manfaat yang beragam.
Menurut Yamin, praktik makan bersama dengan sistem prasmanan sebenarnya bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Pola tersebut telah diterapkan di sejumlah lembaga pendidikan, terutama pesantren, sekolah berasrama, dan lingkungan sekolah lainnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal dalam mengembangkan pelayanan Makan Bergizi dengan berbagai skema. Muhammadiyah menyesuaikan model pelayanan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing penerima manfaat.
“Dalam pelaksanaannya, Muhammadiyah mengembangkan beberapa skema pelayanan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan penerima manfaat. Skema tersebut meliputi pelayanan berbasis sekolah (school kitchen), pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta layanan umum,” imbuh Yamin.
Keberagaman skema tersebut memungkinkan pelayanan Makan Bergizi disesuaikan dengan kondisi setiap lingkungan. Pengelolaan yang terkoordinasi juga diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap kualitas bahan pangan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Yamin menegaskan, pengembangan berbagai model pelayanan merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah membangun sistem penyediaan makanan bergizi yang terkoordinasi dan terkonsolidasi.
Melalui uji coba model prasmanan di 20 SPPG, BPPGM berharap pelayanan pemenuhan gizi dapat berjalan optimal sekaligus memberikan nilai tambah bagi pendidikan karakter siswa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow