Sunset Industry or Reborn? MEBP PWM DIY Diskusikan Peluang Radio Muhammadiyah Balik Siaran
YOGYAKARTA — Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengelolaan Radio Siaran di Era Disrupsi Media” sebagai bagian dari penjajakan pengembangan usaha strategis persyarikatan memasuki tahun 2026.
FGD pada Sabtu (24/1) di Ruang Rapat PT Buharum Lantai 2 Masjid Haiban Hadjid ini menjadi langkah awal MEBP PWM DIY dalam menyusun peta jalan atau roadmap kedaulatan digital Muhammadiyah yang mencakup tiga pilar utama, yakni konektivitas, pusat media, dan pusat data. Radio dipandang sebagai salah satu medium penting dalam ekosistem media tersebut, terutama untuk menjangkau segmen masyarakat yang belum sepenuhnya tersentuh internet dan media sosial.
Ketua MEBP PWM DIY, Taufiqurrakhman, M.Si., menyampaikan bahwa Muhammadiyah DIY ingin mengeksplorasi potensi pengelolaan radio sebagai sarana perluasan dakwah sekaligus penguatan media persyarikatan.
“Kami ingin mencari peluang memperluas konten dakwah Muhammadiyah melalui berbagai media. Radio masih memiliki daya jangkau tersendiri, terutama bagi warga yang tidak terjamah internet dan media sosial,” ujarnya.
Diskusi ini menjadi ruang untuk menjawab pertanyaan mendasar: apakah radio merupakan “sunset industry” atau justru memasuki era kebangkitan (reborn) dengan model baru yang lebih relevan?
Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat telah mengubah perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media. Disrupsi terhadap media konvensional semakin terasa sejak pandemi Covid-19, ketika konsumsi media digital melonjak tajam.
Melalui FGD ini, peserta mendiskusikan berbagai aspek pengelolaan radio siaran, mulai dari relevansi radio FM dan streaming, efektivitas radio sebagai media informasi dan institusi bisnis, hingga tata kelola, manajemen SDM, segmentasi pendengar, serta peluang integrasi dengan platform digital dan media sosial.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Rer.Soc. Masduki, M.Si., menegaskan bahwa radio tidak akan pernah benar-benar mati. “Radio tidak akan mati selama manusia masih punya telinga untuk mendengar,” tegasnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa radio harus berani bertransformasi seiring pergantian generasi. Menurutnya, meski beralih ke digital, prinsip jurnalisme baik dan berkualitas tetap harus dijaga agar radio tidak terjebak dalam arus disinformasi.
Prof. Masduki juga memaparkan fenomena disrupsi penyiaran, mulai dari pergeseran bisnis media ke platform internet, dominasi agregator konten, hingga munculnya homeless media dan peran influencer sebagai penggerak keterlibatan audiens.
Dalam diskusi tersebut, dipaparkan pula dua mazhab radio yang berkembang secara global, yakni radio sebagai institusi sosial-politik atau publik, serta radio sebagai industri komersial. Di Indonesia, batas antara keduanya dinilai masih kabur.
Radio publik menghadapi tantangan mulai dari krisis kepercayaan publik, ketergantungan pendanaan APBD, hingga rendahnya partisipasi masyarakat. Sementara radio komersial menghadapi perubahan lanskap iklan yang kini tidak lagi semata-mata bergantung pada rating, melainkan pada relevansi, kedekatan komunitas, dan tingkat keterlibatan audiens.
“Radio hari ini lebih tepat disebut sebagai local influence channel, media kepercayaan dengan kedekatan personal. Konten bukan satu-satunya produk, komunitas justru menjadi aset utama,” ujar Prof. Masduki.
Dalam konteks Muhammadiyah, radio dipandang berpotensi menjadi rumah bersama konten audio komunitas, sekaligus sarana dakwah yang berorientasi pelayanan publik.
Praktisi radio selama lebih dari 30 tahun, Mohammad Amirullah, menyampaikan bahwa radio masih relevan sebagai media komunikasi yang lokal, mudah diakses, real time, dan relatif terpercaya karena berada di bawah pengawasan lembaga penyiaran.
Namun ia juga menggarisbawahi berbagai kelemahan radio konvensional, seperti keterbatasan jangkauan, pengelolaan yang belum inovatif, hingga minimnya data pendengar. "Menurut keyakinan saya, yang 'mati' bukanlah radionya, melainkan stasiun atau pengelola yang terlambat bertransformasi," kata Amirullah.
Dalam pemaparannya, ia mengemukakan gagasan transformasi radio dari media siaran tunggal menjadi X-Media. Yakni, ekosistem media terpadu yang mencakup radio FM, Event Organizer (EO), pusat latihan, serta media sosial dan digital.
Radio FM tetap menjadi pondasi, diperkuat dengan produksi podcast/siniar, siaran multiplatform, pengarsipan konten, serta pengembangan konten berbasis komunitas. Sementara itu, unit EO, pelatihan, dan media digital saling menopang untuk menciptakan nilai tambah dan sumber pendapatan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya kesepakatan visi, tata kelola yang baik (good corporate governance), indikator kinerja/key performance indicator (KPI), serta investasi jangka panjang dalam pengelolaan radio. "Target awal bukan semata keuntungan finansial, melainkan membangun kepercayaan publik dan komunitas," paparnya.
Diskusi ditutup dengan kesepahaman bahwa Radio Muhammadiyah perlu dikembangkan sebagai media berbasis komunitas, berorientasi pelayanan publik, sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.
FGD ini menjadi langkah awal. MEBP PWM DIY berencana melanjutkan diskusi serupa dengan menghadirkan narasumber lain guna memperkaya perspektif dan merumuskan model paling tepat dalam menghidupkan kembali radio di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow