SNI 9445:2026 Perkuat Ekosistem Wirausaha Gotong Royong dan Ekonomi Halal Menuju Pasar Global

SNI 9445:2026 Perkuat Ekosistem Wirausaha Gotong Royong dan Ekonomi Halal Menuju Pasar Global

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Penguatan ekosistem ekonomi halal dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) Jaringan Ekosistem Halal Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur dengan tema SNI 9445:2026 Ekosistem Wirausaha Gotong Royong. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (28/9).

FGD tersebut merupakan bagian dari rangkaian pendampingan kalurahan/desa binaan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (DPMKKPS) DIY. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari Road to Jogja Halal Festival (JHF) #3 – International, yang akan diselenggarakan pada 4–6 Desember 2026 di Jogja Expo Center (JEC).

Jogja Halal Festival tahun ini mengusung cakupan internasional untuk pertama kalinya. Penyelenggaraannya merupakan hasil kolaborasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY.

JHF #3 dipimpin Dr. Ir. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., sebagai Ketua Steering Committee (SC), didampingi Budiharto Setyawan sebagai Wakil Ketua SC. Sementara itu, Drs. Heroe Poerwadi, M.A., bertindak sebagai Ketua Organizing Committee (OC), didampingi Rika Fatimah P.L., S.E., M.Sc., Ph.D., sebagai Wakil Ketua OC. Dewan penasihat kegiatan ini dipimpin GKR Mangkubumi, Ketua Umum KADIN DIY, bersama Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Ketua Umum MES DIY.

Kegiatan dibuka oleh Setyo Warjiyana, S.IP., MAP., Penggerak Swadaya Masyarakat yang mewakili DPMKKPS DIY. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa DIY memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya melalui UMKM, komunitas, dan ekosistem halal.

Namun, potensi tersebut perlu diperkuat melalui ekosistem usaha yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pengembangan jaringan pasar secara luring maupun daring. Dengan demikian, pelaku usaha tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung dan mendukung.

Menurutnya, G2R Tetrapreneur menjadi momentum untuk menerjemahkan semangat gotong royong ke dalam ekosistem kewirausahaan yang menghubungkan pelaku usaha, rantai pasok, kualitas, merek, dan akses pasar secara terintegrasi.

Melalui pendekatan tersebut, produk lokal diharapkan dapat berkembang bersama, memperkuat kolaborasi, dan menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan jati diri Indonesia.

Hadir sebagai narasumber, Rika Fatimah P.L., S.T., M.Sc., Ph.D., yang merupakan Wakil Ketua OC JHF #3, Ketua Departemen Industri Halal (DIH) MES DIY, sekaligus pendiri, konseptor, dan tenaga ahli G2R Tetrapreneur. Ia juga merupakan dosen senior Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Wakil Ketua Komite Teknis 03-13 untuk SNI G2R Tetrapreneur.

Rika menyoroti pentingnya membangun ekosistem ekonomi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan di Yogyakarta. Menurutnya, persoalan sosial dan ekonomi, termasuk ketimpangan dan kemiskinan, perlu menjadi momentum untuk memperkuat praktik pemberdayaan masyarakat yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah. Hal tersebut antara lain tercermin dari capaian dalam Adinata Syariah 2026, melalui penghargaan pada sejumlah kategori, meliputi Sekolah Pelopor Ekonomi Syariah, zakat, infak, dan sedekah (ZIS), Inkubasi Bisnis Usaha Syariah, Inovasi Ekonomi dan Keuangan Syariah, serta Pertumbuhan Pelaku Usaha Bersertifikasi Halal.

Meski demikian, Rika menekankan bahwa berbagai capaian tersebut perlu ditindaklanjuti dengan evaluasi dan peningkatan dampak nyata bagi masyarakat.

“Jangan sampai penghargaan tersebut hanya merupakan sebuah pentas. Syariah kok masih banyak yang miskin,” tutur Rika.

Ia juga menilai penguatan ekonomi masyarakat membutuhkan keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) secara lebih profesional. Dengan basis komunitas yang luas, ormas memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak pemberdayaan ekonomi.

Apabila kekuatan komunitas tersebut dipadukan dengan pendekatan pemberdayaan yang tepat, dampaknya dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi masyarakat.

Dalam konteks inilah, SNI 9445:2026 tentang Ekosistem Wirausaha Gotong Royong atau SNI G2R Tetrapreneur dapat menjadi pendekatan untuk membangun ekosistem usaha secara kolektif. Orientasinya bukan semata-mata mendorong pelaku usaha berkembang secara individual, melainkan membangun jejaring yang memungkinkan berbagai pelaku usaha tumbuh dan saling menguatkan.

Rika turut memaparkan pembelajaran dari pengembangan ekosistem halal di negara lain, salah satunya Malaysia melalui Halal Development Corporation (HDC).

Lembaga tersebut berperan dalam pendidikan, pelatihan, pengembangan kompetensi, dan penguatan industri halal yang memiliki pengakuan di tingkat nasional maupun internasional.

Menurut Rika, praktik tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan ekosistem halal yang melibatkan tenaga ahli dan profesional sesuai bidangnya. Penguatan tersebut juga perlu didukung proses bisnis yang terstruktur untuk menjaga kualitas produk dan memastikan pemenuhan standar.

Ia menjelaskan bahwa SNI 9445:2026 dirancang untuk menerjemahkan nilai gotong royong menjadi mekanisme ekonomi yang nyata dan dapat diterapkan masyarakat, termasuk pelaku UMKM.

SNI G2R Tetrapreneur menggunakan pendekatan menyeluruh, mulai dari pengembangan gagasan dan perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan usaha. Cakupannya meliputi standardisasi produk, promosi, dan distribusi dengan menempatkan seluruh aktivitas tersebut dalam perspektif ekosistem yang saling terhubung.

Dengan pendekatan ini, pelaku usaha tidak lagi diposisikan sebagai entitas yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi sebagai bagian dari jejaring usaha yang saling mendukung.

“Hadirnya SNI G2R Tetrapreneur memberikan semangat dan kepastian dalam membangun kelembagaan serta ekosistem usaha secara bersama. Pendekatan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menerjemahkan nilai gotong royong ke dalam praktik ekonomi dan mewujudkan Ekonomi Pancasila yang berlandaskan KeTuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial,” jelas Rika.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa SNI G2R Tetrapreneur mendorong pelaku usaha menghasilkan produk dan menjalankan proses bisnis yang memenuhi tuntutan kualitas global tanpa meninggalkan jati diri bangsa.

Gotong royong menjadi kekuatan utama untuk membangun kualitas produk, memperluas pasar, memperkuat rantai usaha, dan mengembangkan merek secara bersama-sama.

Ke depan, salah satu visi pengembangan SNI G2R Tetrapreneur adalah menuju keselarasan dengan seri standar manajemen mutu ISO 9000. Melalui upaya tersebut, praktik kewirausahaan berbasis Ekonomi Pancasila diharapkan memiliki daya terima lebih luas di pasar global sekaligus memperkenalkan pendekatan kewirausahaan khas Indonesia kepada masyarakat dunia.

Dengan demikian, SNI 9445:2026 tidak sekadar diposisikan sebagai program, tetapi sebagai kerangka penguatan ekosistem wirausaha berbasis gotong royong yang mengedepankan keandalan, kualitas, kolaborasi, dan identitas Indonesia.

Pendekatan ini diharapkan memperkuat peran UMKM sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun ekosistem ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

FGD dilanjutkan dengan pemaparan mengenai business matching oleh Raden Hari Haryadi Basuki, Koordinator Business Matching and International Program Team Jogja Halal Festival #3.

Hari menjelaskan bahwa business matching dirancang sebagai platform yang mempertemukan penjual (seller), pembeli (buyer), investor, dan mitra strategis (strategic partner) dari berbagai sektor ekonomi halal.

Menurutnya, pertemuan bisnis tidak cukup hanya mempertemukan para pihak. Proses tersebut diharapkan berlanjut hingga menghasilkan kesepakatan konkret, seperti Letter of Intent (LoI), Memorandum of Understanding (MoU), transaksi perdagangan, maupun investasi.

Melalui platform ini, Jogja Halal Festival #3 diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi bisnis yang lebih luas, termasuk memperkuat akses pelaku usaha lokal terhadap jaringan pasar dan mitra internasional.

FGD tersebut dihadiri sejumlah perwakilan organisasi dan komunitas. Di antaranya H. Edwin Ismedi Himna, Wakil Ketua Bidang 1 Lembaga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (LPEK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM); Drs. Jumarodin, perwakilan Ketua PINBAS MUI DIY, LP UMKM PWM DIY, sekaligus Ketua Dewan Pers Independen Lembaga Pers Digital Pilar Data Indonesia DIY; serta April Suryono, S.T., pengurus harian Majelis Ekonomi dan Bisnis Pariwisata (MEBP) PDM Kota Yogyakarta.

Hadir pula para penggiat G2R Tetrapreneur dari Paguyuban G2RT DIY, Komunitas Kuliner DIY binaan Kementerian Koperasi dan UKM (G2RT KmK4), komunitas Kelompok Wanita Tani binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY (KmKWT1), unit G2R Tetrapreneur tingkat kalurahan/desa dan kelurahan di DIY, serta mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam dan Industri Halal Sekolah Pascasarjana UGM.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow