RESMI! Monica Subastia Terpilih sebagai Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah 2026-2030
SURAKARTA — Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah di Surakarta mencapai puncaknya pada Sabtu (8/8) dengan penetapan 13 formatur dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 2026-2030. Dalam rapat formatur yang berlangsung beberapa jam usai hasil pemilihan diumumkan, ke-13 formatur terpilih telah memutuskan siapa yang layak untuk menjadi nakhoda organisasi perempuan muda Muhammadiyah.
Orang tersebut adalah Monica Subastia yang resmi diberikan mandat untuk menjadi Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 2026-2030, meneruskan amanah dari Ketua Umum periode sebelumnya, Ariati Dina Puspitasari. Pada pemilihan formatur, Monica mendapatkan suara terbanyak sebesar 725 suara.
Hasil rapat formatur disampaikan Panitia Pemilihan Pusat sekitar pukul 10.00 WIB dan kemudian disahkan dalam Sidang Pleno IV Muktamar ke-15. Keputusan tersebut disambut meriah oleh kader Nasyiatul ‘Aisyiyah yang hadir di arena Muktamar.
Sebelum aktif di Nasyiatul ‘Aisyiyah, Monica telah berkiprah di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Kader asal Magelang tersebut pernah dipercaya sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Wilayah IPM Jawa Tengah periode 2016-2018 dan Ketua Pimpinan Pusat IPM Bidang Perkaderan periode 2018-2021.
Purna tugas di IPM, Monica melanjutkan kiprahnya di Nasyiatul ‘Aisyiyah. Ia kemudian dipercaya memimpin PW Nasyiatul ‘Aisyiyah Jawa Tengah hingga akhirnya mendapat amanah sebagai Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 2026-2030.
Dalam pidato perdananya setelah serah terima jabatan sebagai ketua umum, Monica menegaskan bahwa amanah tersebut bukanlah sebuah piala kemenangan, melainkan tanggung jawab moral dan keumatan yang harus dijalankan bersama.
“Saya yakin tidak ada satu pun daerah atau wilayah yang suaranya akan ditinggal. Ini adalah pilihan kita bersama,” ujarnya.
Menurut Monica, tanggung jawab tersebut akan terasa lebih ringan apabila seluruh kader mampu berkolaborasi untuk menjalankan amanat Muktamar ke-15.
“Amanah ini bukanlah piala kemenangan, melainkan tanggung jawab moral dan keumatan yang amat berat. Namun, insyaallah kita akan merasa ringan karena kita yakin akan bersama-sama berkolaborasi menyukseskan seluruh amanat Muktamar ke-15,” katanya.
Monica menyebut Nasyiatul ‘Aisyiyah berada di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat dan kompleks. Karena itu, organisasi perempuan muda Muhammadiyah tersebut harus terus hadir memberikan solusi dan pencerahan bagi masyarakat.
“Kita berada di era di mana perubahan terjadi begitu cepat. Segalanya begitu kompleks. Tantangan zaman yang kita hadapi tidak lagi sederhana,” tuturnya.
Ia menegaskan, sejak berdiri hingga hari ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah bukanlah gerakan yang lahir untuk berpangku tangan atau sekadar menjadi ruang berkumpul bagi perempuan muda.
“Nasyiatul ‘Aisyiyah bukan gerakan yang lahir untuk berpangku tangan, bukan menjadi gerakan emak-emak yang hanya ingin kumpul-kumpul dan berbincang-bincang. Nasyiatul ‘Aisyiyah hadir untuk menjawab zaman, memberi solusi, dan membawa pencerahan,” tegas Monica.
Berangkat dari tema Muktamar ke-15, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”, Monica menyebut terdapat sejumlah isu strategis yang akan menjadi perhatian Nasyiatul ‘Aisyiyah pada periode 2026-2030.
Di antaranya, kedaulatan ekonomi perempuan dan eco livelihood, perempuan dalam isu perubahan iklim dan kebencanaan, serta diaspora kader dan penguatan branding kader maupun organisasi.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar merumuskan gagasan besar, tetapi memastikan seluruh gerakan tersebut dapat dirasakan hingga tingkat akar rumput.
“Konsep ini luar biasa besar dan mulia. Namun, pekerjaan rumah kita adalah bagaimana gerakan-gerakan nasional bisa hadir hingga ke akar rumput tanpa harus bertanya soal diksi maupun branding. Yang harus ada di akar rumput adalah aksi-aksi nyata yang hadir di tengah masyarakat dan dilakukan langsung oleh perempuan-perempuan muda,” jelasnya.
Monica juga menekankan pentingnya penguatan ketahanan keluarga sebagai salah satu basis gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah. Menurutnya, keluarga yang terdiri atas perempuan, laki-laki, suami, istri, dan anak merupakan ekosistem paling kecil yang perlu diperkuat untuk menjawab berbagai tantangan zaman.
“Kita perlu menguatkan ketahanan keluarga. Perempuan, laki-laki, suami, istri, dan anak adalah kesatuan yang terintegrasi dalam membangun ketahanan keluarga. Ekosistem paling sederhana dan paling kecil inilah yang harus kita gerakkan di akar rumput,” katanya.
Selain itu, Monica mendorong Nasyiatul ‘Aisyiyah menjadi trendsetter literasi bagi perempuan muda di era digital. Ia menilai organisasi perlu mengambil peran lebih besar dalam membangun narasi yang ramah dan aman bagi perempuan di ruang digital.
Ia mencontohkan, Nasyiatul ‘Aisyiyah perlu menghadirkan rujukan yang dapat membantu perempuan muda memahami berbagai persoalan, mulai dari parenting hingga ekonomi digital.
“Perempuan tidak perlu khawatir mencari rujukan parenting dan tidak perlu khawatir bagaimana melek terhadap ekonomi digital, karena Nasyiatul ‘Aisyiyah siap memberikan narasi-narasi itu di ruang digital sesuai dengan kebutuhan perempuan yang ramah perempuan dan aman perempuan,” imbuhnya.
Menutup pidatonya, Monica mengaitkan gerakan Nasyiatul ‘Aisyiyah dengan semangat dakwah Muhammadiyah yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.
“Bernasyiatul ‘Aisyiyah adalah bermuhammadiyah, bermuhammadiyah adalah berislam, dan berislam yang sebenar-benarnya adalah memastikan kebaikan tidak berhenti pada diri kita,” katanya.
Ia mengingatkan kader agar ilmu, Islam, dan kebaikan tidak berhenti pada tataran gagasan, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata yang dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Jangan biarkan Islam hanya menjadi kata-kata. Jangan biarkan ilmu hanya berhenti di kepala kita. Jangan juga biarkan kebaikan hanya berputar di antara mereka yang sudah berdaya, tetapi untuk semua lapisan agar Nasyiatul ‘Aisyiyah menjadi berdaya,” tegasnya.
Monica mengajak seluruh kader untuk membawa semangat tersebut hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
“Mari kita bawa obor itu ke bawah. Kita terangi yang masih gelap, kuatkan yang masih lemah, berdayakan yang masih tertinggal. Sebab tugas Nasyiatul ‘Aisyiyah bukan hanya menyalakan obor, tetapi memastikan cahaya itu sampai kepada semua umat di semesta ini.
Itulah Nasyiatul ‘Aisyiyah. Itulah perempuan muda berkemajuan, itulah putri ‘Aisyiyah, itulah putri Muhammadiyah, itulah Islam berkemajuan," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow