Resepsi Milad ke-24 LAZISMU Soroti Pentingnya Integrasi Data untuk Pengentasan Kemiskinan

Resepsi Milad ke-24 LAZISMU Soroti Pentingnya Integrasi Data untuk Pengentasan Kemiskinan

Smallest Font
Largest Font

JAKARTA — Upaya memperkuat dampak gerakan filantropi Islam kini memasuki babak baru. Selain memperluas program pemberdayaan masyarakat, pemerintah melalui Kementerian Agama RI tengah menyiapkan sistem dashboard bersama berbasis data waktu nyata (real-time) untuk mendukung pengentasan kemiskinan.

Melalui sistem tersebut, badan dan lembaga amil zakat akan menyajikan data layanan dan program secara terintegrasi. Meski memiliki pendekatan pemberdayaan yang berbeda, seluruh lembaga diarahkan pada tujuan yang sama, yakni mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Resepsi Milad ke-24 LAZISMU yang digelar di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/7). Acara diikuti secara daring oleh jaringan LAZISMU wilayah se-Indonesia serta dihadiri berbagai mitra kolaborasi dari kalangan dunia usaha.

Mengusung tema "Integrasi Menguatkan Dampak", resepsi milad menjadi refleksi perjalanan LAZISMU selama 24 tahun sebagai salah satu lembaga filantropi Islam yang terus memperluas manfaat bagi masyarakat.

Ketua Badan Pengurus Pusat LAZISMU, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengatakan bahwa tema tersebut mengandung pesan penting untuk memperkuat integrasi tata kelola kelembagaan sekaligus sistem data.

"Integrasi tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa dibantu untuk menjawab persoalan masyarakat," ujarnya.

Menurut Mujadid, integrasi harus menjadi pijakan agar seluruh potensi yang dimiliki LAZISMU bergerak dalam satu arah dan menghasilkan dampak yang lebih luas. Seorang amil, lanjutnya, harus mampu mendengar dan memahami kebutuhan masyarakat sehingga program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran.

Ia menegaskan, ruang dakwah filantropi sangat luas sehingga transformasi organisasi harus dirancang secara matang agar mustahik dapat berdaya dan sejahtera. Indikator keberhasilannya terletak pada dua hal, yakni penguatan tata kelola kelembagaan serta lahirnya program-program yang berdampak nyata.

Isu integrasi data kemiskinan sebenarnya telah lama menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, mengakui bahwa hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Senada dengan itu, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, menilai kualitas dan eksposur data lembaga filantropi di Indonesia masih perlu diperkuat.

Sebagai peneliti sekaligus pelaku gerakan filantropi, Hilman mengaku masih sulit menemukan lembaga filantropi yang memiliki kualitas data yang benar-benar kuat.

Menurutnya, ekosistem gerakan zakat di Indonesia sebenarnya telah berkembang menjadi kekuatan besar yang ditopang sistem kelembagaan dan modal kultural yang kokoh. Namun, kekuatan tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan dunia usaha maupun sektor keuangan.

"Hanya saja kekuatan data itu belum terhubung oleh entitas lain seperti perusahaan dan industri keuangan. Impiannya, berbagai program pemberdayaan yang dilakukan lembaga amil zakat saling terhubung. Potensi besar itu belum sepenuhnya didengar di kancah internasional," ujarnya.

Hilman menambahkan, Indonesia memiliki banyak inovasi dan praktik baik dalam pengelolaan zakat. Sayangnya, berbagai capaian tersebut belum diimbangi dengan literasi dan publikasi yang memadai di tingkat global. Karena itu, penguatan data, literasi, dan eksposur menjadi agenda penting yang harus terus dikembangkan.

Sementara itu, Waryono menjelaskan bahwa setelah mendorong integrasi keuangan, langkah berikutnya adalah membangun integrasi data antarlembaga.

Ia mengakui proses tersebut tidak mudah karena memerlukan koordinasi lintas institusi. Namun, menurutnya, ukuran keberhasilan badan dan lembaga amil zakat bukan hanya besarnya penghimpunan dana, melainkan sejauh mana dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.

"Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa besar dampaknya. Kendati mandat lembaga amil zakat sudah jelas, manfaatnya harus semakin dirasakan masyarakat," tuturnya.

Waryono mengingatkan agar besarnya penghimpunan zakat tidak berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat di sekitar yang masih hidup dalam kemiskinan.

Ke depan, Kementerian Agama berencana membangun dashboard bersama yang menampilkan perkembangan layanan dan program seluruh lembaga amil zakat. Sistem tersebut diharapkan menjadi sumber informasi bersama sekaligus terhubung dengan kementerian dan lembaga terkait.

Wakil Ketua BAZNAS, Zainut Tauhid Sa'adi, menyambut baik tema Milad ke-24 LAZISMU. Menurutnya, tema tersebut sekaligus menjadi tantangan besar dalam pengelolaan zakat nasional.

"Potensi zakat sangat besar. Selama ini kita sering menghitung dan mengalkulasi bahwa baru sebagian kecil potensi tersebut yang berhasil dihimpun. Potensi itu harus mampu menghasilkan dampak yang kuat bagi kehidupan masyarakat," ujarnya.

Zainut menilai semangat integrasi harus diwujudkan melalui tiga aspek utama, yakni integrasi kelembagaan, integrasi data, dan integrasi sumber daya.

"Masing-masing saling melengkapi untuk menjangkau kebutuhan masyarakat. Tidak semua hal bisa diintegrasikan, tetapi paling tidak integrasi data dapat mengurangi tumpang tindih yang selama ini terjadi," katanya.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan empat pesan bagi LAZISMU agar semakin terintegrasi dan berdampak.

Pertama, memperkuat konsolidasi jaringan LAZISMU di tingkat nasional maupun internasional.

"Ini menjadi kunci utama tujuan integrasi dalam membangun soliditas di dalam sistem pengorganisasian," ujarnya.

Kedua, mengintegrasikan dinamika gerakan agar semakin progresif dan meluas.

Ketiga, mengintegrasikan aktivitas pentasyarufan serta pemanfaatan dana ZISKA di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah agar lebih terpadu.

Keempat, memperluas jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga penghimpunan dana semakin besar dan jangkauannya semakin luas.

Haedar juga mendorong LAZISMU untuk terus menggali berbagai potensi melalui pendekatan yang inovatif, sekaligus memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana memperluas jangkauan dakwah dan filantropi.

"Saluran publikasi harus terus dilakukan. Mari manfaatkan teknologi informasi seperti media sosial. Ini menjadi langkah untuk menemukan relasi baru yang lebih masif dengan jangkauan yang semakin luas," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow