PFI Yogyakarta Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda
YOGYAKARTA — Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang hingga kini masih hilang kontak saat menjalankan tugas jurnalistik di perairan Selat Sunda. Doa bersama digelar di Namburan Lor Nomor 7, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, Jumat (11/9).
Lima jurnalis tersebut yakni M Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto atau Yudhis (iNews), Firdaus Wajidi atau Daus (Anadolu), dan Donal Husni, jurnalis lepas. Mereka dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sementara tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang turut dalam rombongan yakni Warta (55), kapten kapal; Surakman (60), anak buah kapal (ABK); dan Heriyanto (49), pemandu.
Ketua PFI Yogyakarta, Andreas Fitri Atmoko, mengatakan doa bersama tersebut merupakan bentuk dukungan dan solidaritas keluarga besar PFI kepada para jurnalis dan kru kapal yang masih dalam proses pencarian.
“Kami berkumpul hari ini untuk melangitkan doa bersama, memohon agar lima rekan kami segera ditemukan. Kami berharap pencarian yang dilakukan hari ini dan seterusnya membawa kabar baik, dan yang paling utama, mereka semua dapat ditemukan dalam keadaan selamat,” ujar Andre.

Menurutnya, peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa kerja jurnalistik di lapangan memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, solidaritas sesama jurnalis menjadi penting, terutama ketika seorang rekan menghadapi situasi darurat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Ada keluarga, rekan-rekan jurnalis, dan komunitas pers yang terus menunggu serta mendoakan mereka. Kami juga memberikan dukungan kepada keluarga yang saat ini tentu berada dalam situasi yang sangat berat,” katanya.
PFI Yogyakarta juga menyampaikan apresiasi kepada Basarnas dan seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian. Hingga hari keempat, pencarian masih dilakukan dengan menyisir sejumlah pulau kecil di sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Kami juga mendoakan Tim Basarnas maupun relawan yang saat ini terus melakukan pencarian kepada rekan-rekan kami,” ujar Andre.
Andre menegaskan, pekerjaan jurnalistik memang menuntut jurnalis hadir di lapangan untuk memperoleh informasi dan mendokumentasikan berbagai peristiwa. Namun, tuntutan tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan.
“Kerja jurnalistik memang menuntut kami untuk hadir di lapangan. Tetapi keselamatan tetap menjadi hal yang utama. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keselamatan jurnalis harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.
Menurutnya, keselamatan dalam peliputan, terutama di wilayah rawan bencana, perlu menjadi bagian penting dalam peningkatan kompetensi jurnalis.
Anggota PFI Yogyakarta yang dituakan, Becky Subekhi, mengatakan doa bersama juga dilakukan PFI di sejumlah daerah lain, di antaranya Malang dan Surabaya. Menurutnya, doa dan dukungan dari sesama jurnalis menjadi energi moral bagi keluarga maupun proses pencarian.
“Saya meyakini bahwa kelima rekan kita yang sampai saat ini belum ada kepastian kabar keselamatannya, apa yang kita lakukan di sini dan ribuan teman-teman menjadi penguat untuk mengumpulkan tenaga,” kata Becky.
Ia menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi awak media, khususnya pewarta foto, mengenai pentingnya aspek keamanan ketika melakukan peliputan di wilayah bencana.
“Ini tamparan juga bagi PFI. Sepenting-pentingnya kejadian dan momen, lebih penting nyawa. Ada wacana keamanan peliputan akan dimasukkan pada materi uji kompetensi,” ujarnya.
Sementara itu, anggota PFI Yogyakarta, Dwi Oblo, mengaku mengenal kelima jurnalis yang hilang kontak tersebut. Secara khusus, ia memiliki kedekatan dengan Ari Basuki atau yang akrab disapa Arbas.
Oblo mengenal Arbas lebih dari 20 tahun. Keduanya pernah menjalankan tugas jurnalistik bersama, salah satunya saat meliput erupsi Gunung Merapi pada 2006 ketika Arbas masih bekerja untuk Majalah Tempo.
Ia mengenang Arbas sebagai sosok yang supel dan gemar bercanda. Namun, di balik karakternya yang hangat, Arbas juga dikenal sangat memperhatikan aspek keamanan ketika menjalankan peliputan bencana.

“Foto-fotonya memang dahsyat. Saya kagumi foto-fotonya. Dua tahun lalu sempat menang award, dapat penghargaan,” ujar Oblo.
Menurutnya, Arbas selalu memikirkan langkah mitigasi ketika berada di lokasi bencana, termasuk kemungkinan yang harus dilakukan apabila terjadi situasi darurat.
“Sangat peduli dan memikirkan kalau ada sesuatu, lari ke mana. Sangat peduli dengan itu,” katanya.
Karena itu, kabar hilangnya kontak rombongan tersebut membuat Oblo terkejut dan sedih. Ia berharap seluruh rombongan segera ditemukan dalam kondisi selamat.
“Harapannya tim SAR bisa menemukan. Paling tidak mungkin terdampar karena di sekitar Krakatau ada pulau-pulau. Harapannya bisa ditemukan di salah satu pulau dan terdampar. Itu harapan kita semua,” pungkasnya.
Di tengah proses pencarian yang masih berlangsung, PFI Yogyakarta mengajak insan pers dan masyarakat untuk bersama-sama mendoakan keselamatan kelima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut.
PFI juga mengimbau masyarakat dan media agar perkembangan pencarian disampaikan berdasarkan keterangan resmi dari pihak berwenang. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah beredarnya informasi yang belum terverifikasi dan berpotensi menambah beban psikologis keluarga.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow