Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY Tegaskan Keadaban Ekologis sebagai Agenda Ideologis Muhammadiyah

Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY Tegaskan Keadaban Ekologis sebagai Agenda Ideologis Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menyelenggarakan Pengajian Ramadan 1447 H pada Sabtu dan Ahad (28/2 - 1/3) di Amphitarium Lantai 9 Gedung KH. Ahmad Dahlan Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Pengajian Ramadan tahun ini mengangkat tema besar “Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta.” Tema ini ditegaskan bukan sekadar pilihan teknis, melainkan penegasan sikap ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM DIY, Andy Putra Wijaya, M.S.I., menegaskan bahwa Muhammadiyah memandang pembangunan kesadaran ekologis sebagai fondasi masa depan peradaban.

“Menjaga bumi bukan hanya urusan ilmiah atau kebijakan publik semata, tetapi merupakan amanah keagamaan yang bersumber dari ajaran tauhid dan mandat kekhalifahan manusia di muka bumi,” ujarnya.

Menurutnya, meningkatnya bencana ekologis dan menurunnya kualitas ruang hidup manusia menuntut respons ideologis sekaligus praksis dari gerakan Islam. Karena itu, Pengajian Ramadan tahun ini dihadiri beragam unsur, mulai dari akademisi berbagai perguruan tinggi, aktivis lingkungan hidup, praktisi dan unsur pemerintahan, lembaga mitra, pimpinan persyarikatan tingkat wilayah dan daerah, pimpinan amal usaha Muhammadiyah, hingga warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-DIY.

“Keadilan berbagai unsur ini menunjukkan bahwa isu ekologis bukan urusan satu disiplin atau satu kelompok saja, melainkan agenda bersama untuk masa depan kita,” tegasnya.

Untuk memperkaya gagasan dan memperkuat arah gerakan, panitia menghadirkan narasumber dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang memberikan perspektif Islam berkemajuan dalam merespons krisis ekologis. Selain itu, narasumber dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah turut dihadirkan untuk menegaskan peran perempuan dan kesadaran ekologis berbasis keadilan dan gender.

Dari unsur pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup DIY diundang untuk menghadirkan perspektif kebijakan dan arah pembangunan berkelanjutan. Sementara para aktivis lingkungan membawa data empiris, pengalaman advokasi, serta solusi konkret atas berbagai persoalan ekologis.

“Kombinasi ini diharapkan melahirkan simpul gagasan kuat antara teologi lingkungan, etika ekologis, dan ilmu pengetahuan modern,” jelas Andy.

Melalui forum ini, PWM DIY berharap tumbuh kesadaran ekologis yang lebih kokoh dalam kehidupan beragama warga Muhammadiyah, terbangunnya praktik-praktik ramah lingkungan di amal usaha—sekolah, kampus, masjid, dan komunitas, serta terciptanya kolaborasi akademik, advokasi, dan aksi ekologis yang berkelanjutan.

Tak hanya diskusi, Pengajian Ramadan juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PWM DIY dan Balai Perhutanan Sosial DIY, serta peluncuran buku "Ekologi Berkemajuan" dari Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY sebagai bagian dari penguatan literasi gerakan ekologis.

Pada hari kedua, Ahad (1/3), agenda dilanjutkan dengan wisuda mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah (SIM) angkatan pertama. Program ini diharapkan menjadi pilar penguatan ideologi persyarikatan lintas generasi.

Andy menyampaikan apresiasi kepada Direktur SIM dan jajaran yang telah mengelola sekolah ideologi secara progresif dan berkelanjutan. “Sekolah ideologi ini akan terus kita kawal bersama. Pergantian generasi tidak boleh melemahkan penjagaan terhadap ideologi Muhammadiyah,” ujarnya.

Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Muchlas, M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa kesadaran ekologis telah menjadi bagian dari kebijakan global. Bahkan, paradigma industri modern kini menempatkan faktor lingkungan dan keberlanjutan sebagai pertimbangan utama.

“Karena itu Muhammadiyah sudah seharusnya membangun etos peradaban ekologis secara masif, dimulai dari keluarga, amal usaha, hingga ruang publik,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa menjadi warga Muhammadiyah harus dijalani dengan kegembiraan dan semangat kolektif. Tantangan dalam mengelola persyarikatan, menurutnya, adalah bagian dari ibadah dan perjuangan.

Prof. Muchlas menyampaikan selamat kepada para peserta Sekolah Ideologi Muhammadiyah yang akan diwisuda. Ia berharap para lulusan menjadi penjaga ideologi yang kokoh, mampu berdiaspora ke berbagai ruang kehidupan bangsa tanpa kehilangan jati diri Muhammadiyah.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    3
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow