Kurban Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Arif Jamali Muis: Sembelih Juga Ego dan Keserakahan

Kurban Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Arif Jamali Muis: Sembelih Juga Ego dan Keserakahan

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Arif Jamali Muis, M.Pd. mengajak umat Islam memaknai Iduladha sebagai jalan mendekat kepada Allah sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Pesan itu disampaikan dalam khutbah Salat Iduladha 1447 H di Lapangan Nogotirto, Gamping, Sleman, Rabu (27/5). Dalam khutbahnya, Arif menegaskan bahwa hakikat kurban bukan semata menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, keserakahan, dan kesombongan yang tumbuh dalam diri manusia.

“Kurban adalah keberanian menyembelih ego, keserakahan, dan kesombongan yang diam-diam tumbuh dalam diri kita,” ujarnya di hadapan jamaah.

Arif membuka khutbah dengan menggambarkan suasana Iduladha sebagai momentum spiritual yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Ia menyinggung jutaan jamaah haji di Tanah Suci Makkah yang melantunkan talbiyah sebagai simbol kepasrahan total kepada Allah Swt.

Menurutnya, Iduladha tidak dapat dilepaskan dari kisah agung Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s., dan Siti Hajar, sebuah keluarga yang diuji melalui pengorbanan besar demi ketaatan kepada Allah.

Ia mengutip Surah Ash-Shaffat ayat 102 yang menggambarkan dialog Nabi Ibrahim dan Ismail ketika perintah penyembelihan itu datang:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Arif menilai jawaban Nabi Ismail mencerminkan keteguhan iman dan kepasrahan yang luar biasa kepada kehendak Allah. Kemudian, dalam Surah Ash-Shaffat ayat 107, Allah berfirman:

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Menurutnya, ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tidak menghendaki darah manusia, melainkan ketulusan iman dan kemurnian hati.

“Kurban berasal dari kata qurb yang berarti dekat. Maka kurban sejatinya adalah perjalanan untuk mendekatkan hati kepada Allah,” katanya.

Selain itu, Arif mengingatkan bahwa rasa syukur atas nikmat Allah harus diwujudkan melalui ibadah dan kepedulian sosial. Mengutip Surah Al-Kautsar yang memerintahkan umat Islam mendirikan salat dan berkurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt.

Dalam khutbahnya, Arif menyampaikan tiga pesan penting Iduladha. Pertama, pesan ketaatan dan keikhlasan. Ia mengatakan Iduladha mengajarkan sikap taslim atau penyerahan diri total kepada Allah. Menurutnya, tantangan terbesar manusia hari ini bukan hanya mengorbankan harta, tetapi juga menundukkan ego dan keserakahan.

“Banyak orang mampu membeli sapi, tetapi belum tentu mampu ikhlas. Banyak yang sanggup berkurban kambing, tetapi belum tentu mampu mengorbankan keserakahan dalam dirinya,” ujarnya.

Kedua, pesan solidaritas dan kepedulian sosial. Arif menegaskan bahwa kurban adalah jembatan kemanusiaan yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya melalui pelayanan kepada sesama, terutama kaum dhuafa dan masyarakat yang membutuhkan.

Menurutnya, nilai utama kurban terletak pada ketakwaan dan kepedulian sosial, bukan pada banyaknya hewan yang disembelih.

“Iduladha mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak boleh dimonopoli. Rezeki tidak boleh berhenti di meja-meja orang kaya,” katanya.

Ketiga, pesan keadilan dan pengorbanan demi kebaikan bersama. Arif menilai nilai-nilai kurban harus hadir dalam kehidupan sosial, termasuk dalam tata kelola bangsa dan pemerintahan. Dalam Surah An-Nahl ayat 90, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan.”

Menurutnya, bangsa akan rapuh jika keadilan hanya menjadi pidato tanpa diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia menyinggung maraknya praktik korupsi yang lahir karena manusia lebih mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan bersama.

“Kurban mengajarkan bahwa hidup bukan untuk mengambil sebanyak-banyaknya, melainkan memberi seluas-luasnya,” tegasnya.

Menutup khutbah, Arif berharap Iduladha menjadi momentum membersihkan hati manusia dari kesombongan, kebencian, kerakusan, dan kezaliman.

“Semoga Iduladha menjadikan kita manusia yang lebih lembut hatinya, lebih kuat kepeduliannya, dan lebih adil dalam memperlakukan sesama,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow