Irfan Amalee Tegaskan Ekoteologi Harus Jadi Budaya dan Bukan Sekadar Ceramah

Irfan Amalee Tegaskan Ekoteologi Harus Jadi Budaya dan Bukan Sekadar Ceramah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Pimpinan Pondok Pesantren Welas Asih Garut, Irfan Amalee, M.A., menyampaikan bahwa ekoteologi tidak cukup berhenti pada wacana. Ia harus hadir sebagai sistem, budaya, dan kebiasaan sehari-hari. Pesan penting ini ia sampaikan dalam Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY, Sabtu (28/2).

Irfan membuka paparannya dengan data pengelolaan sampah sejak Januari 2025. Total sampah yang terpantau mencapai 27.852 kilogram, setara 5,57 gajah Afrika atau jika ditumpuk bisa mencapai 90 meter, setinggi gedung 30 lantai.

“Tidak mungkin kita mengurangi sampah kalau kita terus memproduksinya tanpa kontrol,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut masjid sebagai salah satu produsen sampah terbesar, terutama saat kegiatan buka bersama. Dalam data konsumsi energi, masjid disebutnya berada di posisi ketiga paling boros setelah mal dan hotel.

Karena itu, ia menggagas agar isu sampah menjadi tema utama khutbah dan budaya masjid.

“Saya ingin tempat sampah ada di depan, bukan disembunyikan di belakang. Biar yang dibahas itu soal sampah,” ujar Direktur Eksekutif Peace Generation Indonesia itu.

Saat ini ia tengah membangun masjid berbahan panel hasil olahan sampah plastik. Targetnya, enam bulan ke depan bangunan tersebut sudah bisa dilihat publik.

Irfan menjelaskan bahwa perubahan ekologis harus dibangun melalui tiga pilar. Pertama, idarah (manajemen dan kebijakan). Kekuatan pertama ada pada pengambil keputusan, seperti kepala keluarga, pimpinan pesantren, atau takmir masjid.

Jika pimpinan menetapkan kebijakan pro-lingkungan, menyediakan anggaran, dan meningkatkan kapasitas SDM, maka perubahan bisa dimulai dari rumah.

“Kalau kita tidak punya kuasa di tempat lain, kita punya kuasa di rumah,” katanya.

Kedua, imarah (kegiatan dan kurikulum). Semua aktivitas harus diarahkan pada kesadaran ekologis. Di pesantrennya, ia mengganti materi Arba’in Nawawi menjadi “40 Hadis Hijau”.

Kegiatan belajar, festival, hingga sistem pembagian rapor diarahkan agar ramah lingkungan. “Khutbah, pengajian, sampai raport, semuanya harus menuju ke sana,” ujarnya.

Ketiga, riayah (Fasilitas dan Sarana). Komitmen tidak cukup tanpa fasilitas. Jika kepala keluarga sudah memutuskan memilah sampah, maka harus tersedia tempat sampah terpilah. Jika pesantren ingin mengolah limbah, maka sarana pendukungnya harus ada.

Dalam konteks budaya sekolah, Irfan menekankan pentingnya hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi, yakni nilai yang diajarkan lewat kebiasaan.

Ia mengajarkan santri memahami bahwa tidak ada benda mati. Semua harus dihormati sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Aktivitas beres-beres dilatih sebagai bentuk ikram (penghormatan), bukan sekadar kebersihan.

Ia merujuk pada gerakan hidup minimalis seperti The Minimalists serta buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo, yang mengajarkan relasi sadar antara manusia dan barang.

“Ekoteologi itu bukan teori. Ia harus menjadi budaya dan ekosistem yang konsisten,” tegasnya.

Menurut Irfan, perubahan ekologis harus dimulai dari diri, keluarga, dan komunitas terkecil. Dari sanalah lahir peradaban yang lebih ramah bumi.

“Kalau kita serius mengubah kebiasaan, maka sampah bukan lagi masalah. Ia menjadi pintu masuk membangun cinta pada semesta,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow