Ikhwan Ahada: Muktamar Harus Menjadi Ajang Menebar Kebaikan, Bukan Merebut Kekuasaan
YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., memberikan pesan penting kepada Nasyiatul 'Aisyiyah (NA) DIY agar menjadikan Muktamar bukan sebagai arena perebutan jabatan, melainkan ruang untuk memperluas nilai-nilai dakwah, silaturahmi, dan pengabdian. Pesan tersebut disampaikannya saat melepas Kontingen PWNA DIY menuju Muktamar XV Nasyiatul 'Aisyiyah di Aula Gedung Muhammadiyah DIY, Selasa (4/8).
Menurut Ikhwan, Muktamar merupakan forum untuk berkontestasi secara sehat sekaligus mempererat ukhuwah dalam mencari jalan terbaik bagi masa depan organisasi dengan semangat kolektif-kolegial yang menjadi karakter Muhammadiyah sehingga sangat mustahil untuk terpecah belah.
"Di Muhammadiyah tidak dikenal istilah Nasyiatul 'Aisyiyah perjuangan, IMM perjuangan, Pemuda perjuangan, apalagi Muhammadiyah perjuangan. Yang ada adalah satu gerakan dengan semangat yang sama untuk memajukan persyarikatan," ujarnya.
Ia menilai, nilai-nilai autentik yang diwariskan sejak berdirinya Nasyiatul 'Aisyiyah harus terus dijaga di tengah dinamika organisasi yang semakin kompleks. Menurutnya, tantangan internal maupun eksternal dewasa ini menuntut seluruh kader untuk tetap berpegang teguh pada ideologi dan nilai dasar persyarikatan.
"Semakin ke sini, nilai otentik persyarikatan justru dihadapkan pada berbagai kekuatan yang aneh dan kadang tidak sejalan dengan ruh Muhammadiyah. Karena itu, dinamika, suasana, atmosfer di tubuh persyarikatan dan organisasi otonom perlu mendapatkan pencerahan, perlu di-refresh, dan mungkin di-restart, bahkan kemudian di-setting pula agar tetap menjadi pegangan dalam berorganisasi," katanya.
Ikhwan menegaskan bahwa meski Daerah Istimewa Yogyakarta hanya terdiri atas empat kabupaten dan satu kota, DIY memiliki posisi strategis sebagai representasi ideologis Muhammadiyah. Ia berharap kontingen DIY mampu menunjukkan karakter tersebut di tingkat nasional.
Ia menyebut DIY sebagai wilayah yang "small, beautiful, but powerful". Menurutnya, ukuran wilayah bukanlah penentu keberhasilan, melainkan kemampuan menghadirkan gagasan, integritas, dan pengaruh positif bagi organisasi.
"Kecil tidak apa-apa, tetapi bermain dengan indah dan penuh kekuatan. Kemenangan bukan soal jumlah ataupun kekuatan yang tampak. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya," ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Ikhwan juga mendorong kader-kader terbaik DIY agar berikhtiar mengemban amanah di tingkat Pimpinan Pusat Nasyiatul 'Aisyiyah. Namun, menurutnya, ikhtiar tersebut tidak boleh didasari ambisi kekuasaan, melainkan semangat memperluas kebermanfaatan.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 26, ia menjelaskan bahwa jabatan dalam Muhammadiyah bukan sesuatu yang harus dikejar dengan menghalalkan segala cara. Amanah, katanya, harus dipandang sebagai sarana memperluas dakwah dan menghadirkan nilai-nilai kebaikan bagi masyarakat.
"Kalau amanah itu datang, maka jalankanlah dengan sebaik-baiknya. Yang kita perjuangkan bukan kekuasaan, melainkan agar nilai-nilai kebaikan dapat menjangkau ruang yang lebih luas," jelasnya.
Menurut Ikhwan, ketika seorang kader memperoleh amanah di tingkat wilayah, maka dampak kebaikannya akan dirasakan di lingkup wilayah. Sebaliknya, apabila kader dipercaya di tingkat pusat, maka kesempatan menyebarluaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan juga akan semakin besar.
Ia mengingatkan seluruh peserta Muktamar menjadikan konsep al-birru manit taqaa yang berlandaskan ketakwaan sebagai orientasi perjuangan organisasi. Semangat memperluas kebaikan, katanya, harus menjadi pembeda antara ikhtiar memperoleh amanah dengan ambisi mengejar kekuasaan.
Pada kesempatan ini, Ikhwan mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin berat, terutama akibat derasnya arus informasi di internet, media sosial, dan grup percakapan (WhatsApp, Telegram, dsb). Ia menyinggung fenomena rage bait atau umpan kebencian yang mendorong masyarakat mudah terprovokasi oleh narasi negatif, hoaks, maupun ujaran yang tidak beradab.
Karena itu, menurutnya, Nasyiatul 'Aisyiyah harus terus menjadi ruang kaderisasi yang menghadirkan atmosfer kebaikan, memperkuat pendidikan karakter, serta membentuk generasi muda yang berakhlak dan berintegritas.
Sebagai penutup, Ikhwan mengajak seluruh kader untuk merawat nilai-nilai autentik persyarikatan yang terbuka, adil, moderat, dan penuh kehati-hatian.
"Jabatan yang diperjuangkan dengan niat berdakwah dan menebarkan kebaikan insyaallah akan mengangkat bukan hanya pribadi, tetapi juga persyarikatan. Muhammadiyah harus tetap menjadi benteng peradaban Indonesia dan umat Islam ke depan. Selamat jalan dan sukses sehat semuanya. Bergembira sampai nanti selesai dan pulang di rumah masing-masing." tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow