Ikhwan Ahada: Muhammadiyah Tak Bersumbu Pendek, Tetapi Berpikir Panjang

Ikhwan Ahada: Muhammadiyah Tak Bersumbu Pendek, Tetapi Berpikir Panjang

Smallest Font
Largest Font

KULON PROGO — Rangkaian Program Kampung Berkemajuan LAZISMU Daerah Istimewa Yogyakarta berlanjut dengan Pengajian dan Doa Bersama yang digelar di Masjid Muttaqin LKSA Muhammadiyah Nanggulan, Ahad (16/11). Kegiatan ini menjadi peneguhan keislaman dan kemuhammadiyah sekaligus penguatan komitmen kebangsaan, setelah sebelumnya dilaksanakan penanaman 1.000 bibit pohon pisang di tanah wakaf Muhammadiyah di Padukuhan Grubug, Jatisarono.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., hadir sebagai penceramah dan menyampaikan refleksi sejarah serta peran Muhammadiyah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Ikhwan mengawali tausiyah dengan mengingatkan bahwa bulan November adalah momen penting bagi Muhammadiyah, karena persyarikatan genap berusia 113 tahun sejak didirikan KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 M.

“Muhammadiyah sudah lebih sepuh dibanding Republik Indonesia. Sejak awal, Muhammadiyah telah menjadi komponen bangsa yang ikut melahirkan Indonesia,” ungkapnya.

Ia menyebut sejumlah tokoh Muhammadiyah yang menjadi pahlawan nasional, termasuk KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, serta Ir. Juanda yang menetapkan konsep Kepulauan Indonesia yang kini dikenal sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Ikhwan juga mengingatkan bahwa 10 November sebagai Hari Pahlawan seharusnya menjadi momentum menghidupkan kembali kesadaran kebangsaan.

“Muhammadiyah itu ikut melindungi dan menjaga NKRI melalui 10 sifatnya. Sifat ke-9 yaitu membantu pemerintah yang sah, menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak berhenti pada slogan NKRI Harga Mati, tetapi mengamalkannya dalam tindakan nyata,” tegasnya.

Ikhwan menegaskan bahwa kontribusi Muhammadiyah terhadap bangsa telah terbukti melalui ribuan amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Ada lebih dari 20 ribu TK ‘Aisyiyah, belum lagi ribuan sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga menengah, sampai universitas yang dikelola Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Di bidang kesehatan, Muhammadiyah memiliki lebih dari 460 rumah sakit dan klinik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa panti asuhan dan lembaga kesejahteraan sosial Muhammadiyah telah sejak lama merawat anak-anak yatim, fakir, dan miskin tanpa menuntut status apa pun.

“Ini bukti bahwa Muhammadiyah bersama komponen bangsa lainnya mengangkat harkat dan martabat masyarakat,” katanya.

Dalam pengajian tersebut, Ikhwan menyampaikan tiga konsekuensi dasar bagi warga Muhammadiyah: menguatkan iman, mengoptimalkan akal sehat, dan memantapkan amal shaleh.

“Bermuhammadiyah itu menggembirakan dalam berjamaah. Kita harus menjadi orang yang dirasakan, dibutuhkan, dan memberi manfaat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah selalu hadir secara legal, santun, dan dewasa dalam menyikapi persoalan kebangsaan, termasuk melalui jalur resmi seperti judicial review bila diperlukan.

“Muhammadiyah bukan bersumbu pendek, tetapi berpikir panjang. Itulah tanda kedewasaan Muhammadiyah,” ujarnya.

Ikhwan menutup pengajian dengan harapan agar nilai-nilai tersebut mampu mengantarkan warga Muhammadiyah menuju jannatun na‘im. Acara pun ditutup dengan lantunan “Cirine Wong Muhammadiyah”, menambah kehangatan suasana kebersamaan warga sekitar dan anak-anak panti.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow