Gita Danu Pranata: Tarwiyah dan Arafah sebagai Jalan Mencari Kebenaran

Gita Danu Pranata: Tarwiyah dan Arafah sebagai Jalan Mencari Kebenaran

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Momen Iduladha selalu lekat dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS. Dalam khutbah Iduladha 1447 H di Lapangan Kopertis Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta, Rabu (27/5), Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Gita Danu Pranata, S.E., M.M. mengulas makna tarwiyah dan arafah sebagai simbol perjalanan akal dan keyakinan dalam menjalankan perintah Allah.

Gita menjelaskan, kisah itu bermula ketika Nabi Ibrahim menerima mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, pada 8 Zulhijah.

“Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail,” ujarnya.

Namun, menurut Gita, Nabi Ibrahim tidak serta-merta mengambil keputusan. Ia terlebih dahulu merenung dan bertafakur untuk memastikan hakikat mimpi tersebut.

“Nabi Ibrahim memerlukan waktu untuk merenung dan memikirkan hakikat mimpi tersebut, apakah wahyu dari Allah atau bisikan iblis,” tuturnya.

Peristiwa itulah yang dikenal sebagai Tarwiyah. Gita menerangkan, kata tarwiyah berasal dari akar kata rawwa-yurawwi yang berarti berpikir atau merenung.

“Tarwiyah adalah simbol proses ikhtiar akal untuk mencari kebenaran,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, Nabi Ibrahim memperoleh keyakinan atas mimpi yang berulang tersebut melalui cahaya pengetahuan atau ‘arafah. Menurut Gita, arafah menjadi simbol keyakinan dan ilmu setelah melalui proses tabayun terhadap kebenaran wahyu yang diterima.

“Keduanya, tarwiyah dan arafah, mengajarkan kita bahwa dalam menjalani perintah Allah diperlukan ketenangan, perenungan, dan keyakinan yang mantap,” katanya.

Gita menegaskan, ibadah kurban tidak boleh berhenti sebagai ritual yang kering makna. Nilai pengorbanan, menurutnya, harus diwujudkan dalam kehidupan sosial dan pembangunan peradaban.

“Kita harus menarik maknanya ke bumi nyata, memperkuat muamalah, dan membangun peradaban. Allah telah memahat takdir kita sebagai umat terbaik (khairu ummah) dan pembawa rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin),” ulasnya.

Dalam khutbah tersebut, Gita juga mengajak umat Islam untuk mewujudkan masyarakat berkemajuan, khususnya di Yogyakarta, melalui lima pilar kemuliaan.

Pertama, membangun kesalehan digital dengan menjadikan media sosial sebagai ruang penyebaran kedamaian.

“Jadikan jemari kita sebagai penyebar kedamaian, bukan penebar hoaks dan kebencian,” tekannya.

Kedua, memperkuat simpul persatuan dengan merajut kembali ukhuwah yang renggang. Ketiga, menghadirkan wajah Islam yang ramah, teduh, dan menggembirakan.

Keempat, mengembangkan pandangan beragama yang wasathiyah atau moderat.

“Menjadi umat pertengahan yang adil, tidak ekstrem kanan maupun kiri,” jelasnya.

Kelima, menata ruang publik yang inklusif, termasuk menghadirkan masjid yang ramah bagi anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.

“Menjadikan masjid-masjid kita ramah terhadap anak-anak, perempuan, dan saudara-saudara kita yang disabilitas,” terangnya.

Di akhir khutbahnya, Gita mengingatkan umat Islam agar tidak gagap menghadapi perubahan zaman, terutama hadirnya Generasi Alpha yang lahir dan tumbuh bersama teknologi digital.

“Kita dituntut kreatif, tangkas, dan inovatif. Menyeimbangkan sujud di atas sajadah dengan ikhtiar di atas bumi,” tandasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow