Dari Seminar Natal Nasional STFT Jakarta, Tokoh Lintas Iman Serukan Keluarga sebagai Fondasi Bangsa dan Semesta

Dari Seminar Natal Nasional STFT Jakarta, Tokoh Lintas Iman Serukan Keluarga sebagai Fondasi Bangsa dan Semesta

Smallest Font
Largest Font

JAKARTA — Di tengah kompleksitas kehidupan kota metropolitan yang kian menekan, keluarga kembali ditegaskan sebagai fondasi utama ketahanan sosial, spiritual, dan kemanusiaan. Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Natal Nasional bertajuk Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan yang digelar Sabtu (3/1) di Aula Lantai 1 Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta.

Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian Natal Nasional 2025 dengan tema besar "Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga, terinspirasi dari Matius 1:21–24". Forum ini mengajak masyarakat merefleksikan kembali peran keluarga sebagai ruang pertama pembentukan iman, nilai, dan ketahanan sosial bangsa, terutama di tengah tekanan ekonomi, disrupsi digital, dan rapuhnya relasi sosial di kota besar.

Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. menegaskan bahwa keluarga merupakan inti bangunan peradaban. Ia menyebut, mustahil membangun negara yang kuat jika fondasi keluarga rapuh.

“Norma tentang keluarga jauh lebih banyak dibahas dalam Alkitab dan Alquran dibandingkan soal negara. Ini menunjukkan betapa sentralnya keluarga dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Nasaruddin juga menyoroti tingginya angka perceraian yang berdampak luas, terutama bagi anak-anak. “Yang paling merasakan luka perceraian adalah anak. Jika keluarga rusak, masyarakat ikut rusak, dan negara menjadi lemah,” katanya. Ia mengingatkan agar agama dipahami sebagai sumber persaudaraan, bukan perpecahan.

“Semakin dalam kita memahami kitab suci, semakin dekat kita satu sama lain,” tambahnya.

Dari perspektif pendidikan dan sains, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D., menyoroti tantangan keluarga metropolitan yang kerap luput disadari, yakni erosi komunikasi akibat kecanduan digital. Menurutnya, waktu berjam-jam di media sosial sering kali menggerus kualitas relasi dalam keluarga.

“Inti keluarga adalah nilai dan kenangan. Itu tidak lahir dari layar gawai, tetapi dari percakapan,” tegas Stella. Ia mengajak keluarga kembali pada praktik sederhana namun bermakna. “Ayo makan bersama dan berbicara. Di sanalah nilai dan kemanusiaan diwariskan.”

Sementara itu, Pendiri dan Pemimpin Yayasan Pelita Harapan Dr. (HC) James Riady menyoroti paradoks zaman modern.

“Manusia maju secara lahiriah, tetapi rapuh secara rohani,” ujarnya. Menurut Riady, keluarga adalah lembaga pertama tempat anak belajar kasih, disiplin, iman, kerja keras, dan pengampunan. “Jika keluarga melemah, negara pun ikut melemah,” katanya.

Dimensi keluarga juga diperdalam melalui perspektif lintas iman dan ekologis. Hening Parlan, M.Si., Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah sekaligus Koordinator Green Faith Indonesia, menegaskan bahwa keluarga tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan lingkungan hidup.

“Sejak bangun tidur kita menghirup oksigen, minum air, dan hidup dari sumber daya alam. Lingkungan hidup melekat dalam diri manusia,” ujarnya.

Hening menekankan bahwa kerusakan relasi manusia dengan alam akan berdampak langsung pada rusaknya relasi sosial dan spiritual. Ketika lingkungan dieksploitasi, keluarga menjadi pihak pertama yang merasakan akibatnya, mulai dari bencana hingga trauma sosial.

“Agama-agama hadir bukan saat kondisi baik-baik saja, tetapi justru ketika ada kerusakan dan luka yang membutuhkan pemulihan,” katanya. Menurutnya, agama berperan penting dalam penyembuhan pascabencana melalui dukungan psikososial dan spiritual agar trauma tidak diwariskan lintas generasi.

Seminar ini juga menghadirkan sejumlah tokoh lintas iman sebagai narasumber, di antaranya Ketua Umum PGI Pdt. Dr. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th., Ketua Pelaksana Harian Panitia Natal Nasional Pdt. Dr. Jason Joram Balompapuaeng, serta Komisi Keluarga KWI Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si.

Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait menegaskan bahwa seminar ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat kembali pada nilai kasih. “Dalam setiap persoalan keluarga, Allah hadir untuk menyelamatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor STFT Jakarta Prof. Binsar Jonathan Pakpahan selaku Koordinator Seminar Natal Nasional berharap rangkaian seminar ini melahirkan rekomendasi nyata bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan keluarga Indonesia.

Rangkaian Seminar Natal Nasional 2025 dijadwalkan berakhir pada 29 Januari 2026 di Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Dari forum ini mengemuka satu pesan penting: merawat keluarga berarti merawat kehidupan—manusia, iman, dan bumi tempat kita berpijak bersama.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow