Bersama Haji Rhoma dan Ustazah Oki, Ketua LDK PWM DIY Raih Anugerah Dai Komunitas Inspiratif Nasional

Bersama Haji Rhoma dan Ustazah Oki, Ketua LDK PWM DIY Raih Anugerah Dai Komunitas Inspiratif Nasional

Smallest Font
Largest Font

SEMARANG — Berawal dari kepedulian terhadap sampah di lingkungan masjid, dakwah yang dijalani Ananto Isworo, S.Ag. kini mendapat pengakuan nasional. Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) tersebut dianugerahi Dai Komunitas Inspiratif Nasional bidang pembinaan komunitas lingkungan hidup dalam ajang Anugerah Insan Dakwah untuk Negeri 2026.

Penghargaan diserahkan oleh LDK PP Muhammadiyah dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LDK PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (29/1).

“Alhamdulillah, ini menjadi kebahagiaan sekaligus amanah yang besar. Bagi kami, penghargaan ini bukan tujuan akhir, tetapi langkah awal untuk memperkuat dakwah komunitas, khususnya dakwah lingkungan,” ujar Ananto.

Dalam ajang tersebut, Ananto sejajar dengan tokoh-tokoh nasional seperti Haji Rhoma Irama, Ustazah Oki Setiana Dewi, dan Koh Dennis Lim sebagai Dai Komunitas Inspiratif Nasional.

Menurut Ananto, penghargaan yang diterimanya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang dakwah lingkungan yang ia rintis sejak lebih dari satu dekade lalu. Sejak 2013, ia memelopori gerakan Sedekah Sampah berbasis masjid melalui program Sekolah Sedekah Sampah (S3) yang mendorong masjid menjadi pusat edukasi dan aksi pengelolaan lingkungan.

“Awalnya sederhana, bagaimana masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat solusi persoalan lingkungan. Dari situ lahir sedekah sampah berbasis masjid, lalu berkembang ke sekolah, pesantren, dan masyarakat,” jelasnya.

Gerakan tersebut telah diikuti ratusan masjid di berbagai daerah di Indonesia, bahkan lintas agama. Dari pengelolaan sampah, Ananto kemudian mengembangkan konsep Eco Masjid, dengan Masjid Al Muharram Brajan, Tamantirto, Bantul, sebagai salah satu pelopornya.

“Eco Masjid ini bukan sekadar label, tetapi praktik nyata bagaimana masjid ramah lingkungan, hemat energi, peduli sampah, dan berkontribusi bagi ketahanan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Komitmen dan konsistensi inilah yang menjadi salah satu indikator penilaian LDK PP Muhammadiyah. Penilaian tidak hanya melihat aktivitas personal, tetapi juga dampak, keberlanjutan, serta kemampuan membangun kolaborasi lintas elemen.

“Yang dilihat bukan seremonial, tetapi pendampingan yang kontinu, sinergi antar-lembaga, serta hasil nyata di komunitas,” kata Ananto.

Setelah bergabung dan dipercaya memimpin LDK PWM DIY, gerakan dakwah lingkungan yang sebelumnya bersifat personal menjadi lebih kuat secara kelembagaan. Program sedekah sampah diperluas melalui LDK dengan menggandeng LAZISMU, rumah sakit Muhammadiyah, MPKS PWM DIY, hingga PCM dan PRM, serta berkolaborasi dengan pemerintah daerah.

Selain penghargaan untuk Ananto secara personal, LDK PWM DIY juga dinobatkan sebagai LDK Terbaik Nasional bidang pembinaan dakwah lingkungan, sementara LDK PDM Kabupaten Kulon Progo meraih penghargaan LDK Terbaik pembinaan komunitas muallaf.

Untuk dakwah lingkungan, LDK PWM DIY mengembangkan sedekah sampah berbasis sekolah, masjid, dan masyarakat. Ananto juga memperkenalkan konsep S6, yakni Sedekah Air, Sedekah Tanah, Sedekah Oksigen, Sedekah Sampah, Sedekah Panel Surya, dan Sedekah Bibit Tanaman, sebagai ajakan agar komunitas ikut berperan aktif menjaga lingkungan.

“Isu lingkungan ini isu besar, tapi tidak banyak yang mau mengeluti. Padahal dampaknya langsung dirasakan, mulai dari bencana hingga perubahan iklim,” tegasnya.

Dakwah lingkungan yang dirintis Ananto bahkan menginspirasi LDK PP Muhammadiyah untuk memasukkan isu lingkungan sebagai salah satu pilar dakwah komunitas. Pada akhir 2025, LDK PP Muhammadiyah menyusun buku panduan pendampingan dakwah komunitas lingkungan sebagai rujukan nasional.

Ke depan, Ananto berkomitmen untuk terus memperluas jejaring dakwah lingkungan dan menyiapkan kader dai lingkungan hidup. Ia mendorong agar ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis tidak berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata.

“Teruslah bergerak dan menginspirasi. Jadikan ayat Al-Qur’an sebagai proyek nyata, agar dakwah benar-benar menjadi solusi bagi persoalan umat,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow