Apresiasi Milad LAZISMU, Kemenag: Tujuan LAZ Mengentaskan Kemiskinan dan Mewujudkan Kesejahteraan
JAKARTA — Tema "Integrasi Menguatkan Dampak" yang diusung dalam Milad ke-24 LAZISMU dinilai sangat relevan dengan tantangan pengelolaan zakat di Indonesia. Namun, mewujudkan integrasi tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah.
Hal itu disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Waryono Abdul Ghafur, saat memberikan sambutan pada Resepsi Milad ke-24 LAZISMU di Jakarta Pusat.
Menurut Waryono, selama ini banyak pihak berbicara mengenai pentingnya integrasi, tetapi implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Bahkan, mengintegrasikan data saja tidak mudah, apalagi mengintegrasikan berbagai sumber daya yang dimiliki lembaga pengelola zakat.
Ia menegaskan bahwa sasaran utama badan maupun lembaga amil zakat adalah fakir dan miskin. Karena itu, ukuran keberhasilan lembaga zakat tidak hanya terletak pada besarnya penghimpunan dana, tetapi juga pada kemampuannya meningkatkan taraf hidup para penerima manfaat.
"Bagaimana menaikkan kelas fakir dan miskin itu tidak mudah. Pengukurannya juga membutuhkan berbagai instrumen. Di sisi lain, penguatan muzaki juga penting karena besarnya penghimpunan sangat dipengaruhi oleh para muzaki," ujarnya.
Waryono mengungkapkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan Amelia Fauzia, lebih dari 50 persen muzaki di Indonesia masih menyalurkan donasinya secara langsung di luar lembaga amil zakat. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi lembaga zakat untuk terus meningkatkan kepercayaan publik melalui tata kelola yang profesional.
Ia pun mengapresiasi perjalanan LAZISMU yang telah memasuki usia ke-24 tahun. Menurutnya, usia tersebut menunjukkan kematangan lembaga dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah.
"Saya berterima kasih karena ada lembaga-lembaga amil zakat yang berdiri sebagai bagian dari organisasi kemasyarakatan keagamaan. Kehadiran mereka membantu Kementerian Agama dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan," katanya.
Waryono menambahkan, tata kelola lembaga amil zakat yang baik juga turut meringankan tugas negara.
"Tanpa harus selalu diaudit, tata kelola yang baik sebenarnya sudah dapat dipantau. Artinya, keberadaan lembaga amil zakat ikut meringankan tugas negara," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keberhasilan badan maupun lembaga amil zakat harus diukur dari dampak yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, lembaga zakat tidak boleh hanya berbangga dengan tingginya penghimpunan dana apabila angka kemiskinan di sekitarnya masih tinggi.
"Jangan sampai kita bangga dengan pengumpulan dana yang besar, tetapi di kanan-kiri kita masih banyak orang miskin. Itu berarti program yang dijalankan belum benar-benar berdampak," tegasnya.
Untuk memperkuat efektivitas program, Kementerian Agama tengah menyiapkan dashboard bersama yang akan terintegrasi dengan sistem informasi data kemiskinan. Seluruh badan dan lembaga amil zakat nantinya diharapkan dapat memanfaatkan sistem tersebut sebagai dasar penyusunan program.
Melalui sistem itu, perkembangan dan perubahan kondisi penerima manfaat dapat dipantau secara real time, sehingga evaluasi dampak program menjadi lebih akurat. Kementerian Agama juga akan terus berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga lainnya untuk mengorkestrasi berbagai program pemberdayaan agar memiliki tujuan yang sama.
"Tidak lain tujuan itu adalah mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat," pungkas Waryono.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow