Amal Usaha Muhammadiyah Harus Dijaga dengan Kaderisasi, Profesionalisme, dan Semangat Kemaslahatan

Amal Usaha Muhammadiyah Harus Dijaga dengan Kaderisasi, Profesionalisme, dan Semangat Kemaslahatan

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Seluruh amal usaha Muhammadiyah lahir dari semangat filantropi, kedermawanan, dan mental berkecukupan yang dimiliki warga Muhammadiyah. Karena itu, semangat keislaman Muhammadiyah harus terus dipelihara dan disuburkan agar mampu menjaga keberlangsungan Persyarikatan.

Jika diibaratkan, Muhammadiyah seperti benih unggul. Benih yang baik tidak cukup hanya dipilih dan ditanam, tetapi juga harus dipupuk serta dirawat secara berkelanjutan.

"Jangan sampai kita hanya semangat membangun, tetapi tidak semangat merawat. Membangun memang penting, tetapi merawat jauh lebih penting agar amal usaha tetap berkembang dan memberi manfaat," kata Dr. H. Ahmad Munir, M.Ag. dalam Pengajian Hari Ber-Muhammadiyah 2026 di Museum Gunung Merapi, Sleman, Sabtu (1/8).

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo periode 2010–2015 itu menjelaskan bahwa kaderisasi menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan amal usaha Muhammadiyah. 

Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki ratusan rumah sakit dan perguruan tinggi. Namun, keberhasilan tersebut harus diiringi dengan lahirnya kader-kader Muhammadiyah yang mampu mengelola dan mengembangkan amal usaha tersebut.

"Kita memiliki ratusan rumah sakit dan perguruan tinggi. Tantangannya adalah bagaimana amal usaha itu dikelola oleh kader-kader Muhammadiyah yang memiliki visi Persyarikatan. Setelah membangun, tugas berikutnya adalah merawat melalui kaderisasi," katanya.

Ia juga mengingatkan agar aset-aset Muhammadiyah tidak dibiarkan dikelola pihak lain hanya karena kurangnya perhatian dari warga Persyarikatan. Menurutnya, tidak sedikit masjid maupun musala Muhammadiyah yang pada akhirnya berpindah pengelolaan akibat lemahnya proses perawatan dan pembinaan.

Lebih lanjut, Ahmad Munir menegaskan bahwa seluruh aset dan amal usaha Muhammadiyah merupakan amanat dari para pewakif dan donatur terdahulu. Oleh sebab itu, seluruh warga Muhammadiyah berkewajiban menjaga dan mengembangkannya agar manfaatnya terus dirasakan masyarakat.

"Semua aset dan amal usaha adalah wujud filantropi dan kedermawanan warga Muhammadiyah. Ini adalah amanat dari para pewakif dan donatur yang telah mendahului kita. Karena itu harus dijaga agar terus memberi manfaat, sehingga pahala mereka tetap mengalir," ungkapnya.

Ia menambahkan, perkembangan amal usaha Muhammadiyah tidak terlepas dari budaya profesionalisme dan tertib administrasi yang telah menjadi karakter Persyarikatan sejak awal. Menurutnya, Islam sendiri mengajarkan pentingnya literasi dan administrasi yang baik, sebagaimana tercermin dalam perintah membaca (iqra') dalam Surah Al Alaq ayat 1 serta ayat terpanjang dalam Al-Qur'an, yakni Surah Al Baqarah ayat 282 yang mengatur tentang pencatatan transaksi.

Selain profesionalisme, Ahmad Munir juga menekankan pentingnya akhlak dan sikap tasamuh dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak memandang keberagaman sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang dakwah dan kemaslahatan.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengajak Muhammadiyah mengambil peran lebih besar dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, setiap masjid, musala, sekolah, maupun amal usaha Muhammadiyah perlu menjadi pelopor penghijauan dengan menanam pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis iklim.

"Muhammadiyah harus ikut merawat bumi. Menanam pohon bukan sekadar menghijaukan lingkungan, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam mengurangi dampak pemanasan global," katanya.

Ahmad Munir juga menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah selalu mengedepankan akal sehat, nilai filosofis, dan kemaslahatan dalam berijtihad. Sikap tersebut, menurutnya, telah diwariskan sejak masa KH Ahmad Dahlan yang berani melakukan pembaruan meski menghadapi berbagai penolakan.

Ia mencontohkan, Muhammadiyah sejak awal tidak ragu memanfaatkan berbagai sarana modern untuk pendidikan dan dakwah, meskipun dahulu sempat mendapat tudingan dan penolakan. Semangat pembaruan itu harus terus dijaga dengan tetap berpegang pada Al-Qur'an dan Sunah, sekaligus berorientasi pada kemaslahatan umat.

Menutup ceramahnya, Ahmad Munir mengajak warga Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas keberagamaan, tidak berhenti pada kepatuhan ritual semata, tetapi bergerak menuju keberagamaan yang sadar tujuan dan berdampak sosial.

"Kita perlu bergerak dari sekadar beragama karena patuh menjadi beragama yang memiliki tujuan dan kesadaran. Jangan hanya berhenti pada perdebatan dalil, tetapi beranilah berijtihad untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow