Altruisme dan Al Ma'un Jadi Ruh Gerakan, Aisyiyah DIY Harus Perkuat Kepemimpinan Berkemajuan

Altruisme dan Al Ma'un Jadi Ruh Gerakan, Aisyiyah DIY Harus Perkuat Kepemimpinan Berkemajuan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Aktivitas Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, mulai dari pengambilan keputusan, pendirian amal usaha, hingga berbagai program sosial, pada dasarnya berorientasi pada kemanfaatan. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Nominasi Cabang Unggul Aisyiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta yang digelar Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) DIY di Aula Lantai 5 Gedung AR Fachrudin Unit A Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (22/8).

Dalam pemaparannya, Ikhwan mengatakan gerakan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari semangat altruisme, yakni dorongan untuk terus menghadirkan kebaikan, kemanfaatan, dan kesejahteraan bagi orang lain. Semangat tersebut dalam gerakan Muhammadiyah dikenal melalui teologi Al-Ma'un.

"Altruisme itu bahasa psikologi yang maknanya terus berbuat kebaikan untuk kesejahteraan, untuk perdamaian, untuk kenyamanan. Dalam konteks Muhammadiyah disebut dengan teologi Al-Ma'un," jelasnya.

Menurutnya, semangat tersebut membuat gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak berhenti pada kepentingan organisasi, tetapi diarahkan untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan, negara, hingga alam semesta.

Karena itu, berbagai agenda organisasi yang dilakukan 'Aisyiyah seharusnya senantiasa bermuara pada upaya menghadirkan kebaikan. Mulai dari perhatian terhadap pendidikan anak yatim, pemberdayaan perempuan, kepedulian terhadap kelompok lanjut usia, hingga berbagai aktivitas sosial kemanusiaan.

"Kalau rapat 'Aisyiyah yang dibicarakan apa? Esensinya adalah kebaikan. Anak yatim itu bagaimana caranya bisa mendapatkan pendidikan. Semua itu dalam rangka altruisme, teologi Al-Ma'un," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak kader 'Aisyiyah memahami bahwa perjuangan persyarikatan memiliki dampak yang jauh melampaui kepentingan sesaat.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai tujuan eudaimonik, yakni kebahagiaan yang memberikan dampak panjang dan berkelanjutan. Dalam konteks Muhammadiyah, orientasi perjuangan tidak hanya mengejar kebahagiaan duniawi yang bersifat sementara, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi umat.

Menurutnya, cita-cita tersebut tercermin dalam tujuan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sekaligus menghantarkan umat Islam menuju kehidupan akhirat yang baik.

"Itu 'Aisyiyah, itu Muhammadiyah, itu IPM, itu IMM, itu Hizbul Wathan, itu Tapak Suci. Pertanyaannya, mampukah kita menjalankan itu? Karena ini janji persyarikatan," tegasnya.

Untuk menjalankan amanah tersebut, kader Muhammadiyah dan 'Aisyiyah setidaknya perlu menguatkan empat hal, yakni akidah, ibadah, amal saleh, serta kegembiraan dalam berjamaah. Menurutnya, kader tidak cukup hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga harus mampu menghadirkan agama sebagai solusi bagi kehidupan masyarakat.

"Menjadi kader Muhammadiyah dan Aisyiyah memang berat. Karena itu empat hal harus kita tegakkan: menguatkan akidah, meluruskan ibadah, mengoptimalkan amal saleh dan yang terpenting menggembirakan dalam berjamaah," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ikhwan juga mengaitkan ideologi Muhammadiyah dengan karakter kepemimpinan yang harus dibangun di lingkungan persyarikatan. Ia menjelaskan bahwa ideologi Muhammadiyah memiliki landasan historis yang kuat, antara lain melalui pemikiran KH Ahmad Dahlan dan para tokoh generasi awal Muhammadiyah yang kemudian menginspirasi penyusunan Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

Mukadimah tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi arah gerakan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Di dalamnya terdapat prinsip tauhid, kehidupan bermasyarakat, menjadikan hukum Allah sebagai sendi kehidupan, serta kewajiban memperjuangkan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dari prinsip tersebut, menurutnya, lahir karakter kepemimpinan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Pertama, kepemimpinan harus dilandasi keikhlasan. Kedua, pemimpin harus terbuka dan inklusif. Ketiga, kepemimpinan dijalankan secara kolektif-kolegial melalui musyawarah. Keempat, pemimpin harus memiliki karakter transformatif, yakni mampu mengembangkan potensi kader. Kelima, pemimpin harus memiliki semangat melayani atau servant leadership.

"Di Muhammadiyah itu konsepnya melayani. Siapa yang kita layani? Masyarakat, umat yang harus kita layani. Bukan kita minta dilayani. Itulah konsep yang ada di Muhammadiyah, di Aisyiyah," katanya.

Ia menekankan, kader yang memiliki kemampuan dan potensi tidak seharusnya dipandang sebagai pesaing. Sebaliknya, mereka harus diberi ruang untuk berkembang dan berkontribusi lebih besar bagi organisasi.

"Kalau ada kader yang punya ide, gagasan, dan potensi baik, lebih baik kita manfaatkan kepandaian mereka. Bukan malah dianggap saingan," ujarnya.

Karakter kepemimpinan tersebut, lanjutnya, diperlukan agar Muhammadiyah dan Aisyiyah mampu terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasar persyarikatan. Organisasi harus terbuka terhadap perkembangan teknologi, sistem administrasi, tata kelola, serta berbagai inovasi yang dapat memperkuat transparansi dan efektivitas gerakan.

"Organisasi kita Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak ketinggalan dan tidak ditinggalkan oleh umat. Cirinya, Muhammadiyah dan Aisyiyah terus bergerak dan bertransformasi sesuai dengan zaman dan kekinian," ungkapnya.

Dengan demikian, kepemimpinan di Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan sekadar persoalan jabatan struktural. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan amanah untuk menjaga nilai, mengembangkan kader, melayani umat, dan memastikan gerakan terus memberikan manfaat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow