Ahli Geoteknik UMY Ungkap Akar Bencana di Indonesia: Deforestasi dan Tata Ruang yang Buruk
YOGYA - Duka masih menyelimuti berbagai wilayah Indonesia serta sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara akibat rangkaian banjir besar dan tanah longsor yang menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur. Namun di tengah maraknya narasi publik yang menyalahkan hujan ekstrem dan siklon tropis sebagai penyebab utama bencana, Guru Besar Teknik Sipil sekaligus pakar geoteknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D., mengajak masyarakat melihat persoalan ini melalui sudut pandang ilmu pengetahuan dan wahyu Al-Qur’an.
Dalam kajian ilmiah bertema “Pandangan Al-Qur’an terhadap Sumber Daya Alam” yang digelar di Masjid Ahmad Dahlan UMY pada Kamis (04/12), Prof. Agus menegaskan bahwa bencana bukan semata-mata akibat fenomena alam. Baik dalam kajian ilmiah maupun perspektif Al-Qur’an, manusia memiliki kontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan yang kemudian memicu bencana.
“Kita sering terburu-buru menimpakan kesalahan kepada alam. Padahal tugas kita sebagai khalifah adalah menjaga dan mengharmonisasikan bumi agar tetap seimbang,” ujarnya.
Ia mengutip Surat Ar-Rum ayat 41 untuk menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut merupakan akibat ulah manusia, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, pengabaian tata ruang, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Sebagai pakar dalam bidang tanah longsor dan forecasting disaster, Prof. Agus menjelaskan bahwa dalam literatur ilmiah klasik hingga modern, hujan, angin, dan gempa bukan dikategorikan sebagai penyebab bencana, melainkan pemicu (triggering factors). Faktor utama yang membuat suatu wilayah rentan justru perubahan yang dilakukan manusia terhadap struktur dan ekosistem alam.
“Seperti SPBU, ia punya potensi kebakaran. Tapi tanpa pemantik, tidak akan terbakar. Pemantiknya adalah tindakan manusia,” jelasnya.
Menurutnya, kesalahan paradigma ini membuat masyarakat mudah menyalahkan hujan sambil mengabaikan akar persoalan, seperti deforestasi, tata ruang yang keliru, pembangunan di zona rawan, dan minimnya perencanaan risiko jangka panjang.
Al-Qur’an Mengajarkan Prinsip Keseimbangan Alam
Prof. Agus mengingatkan bahwa seluruh ciptaan Allah berjalan berdasarkan hukum keseimbangan (mizan). Gunung yang berfungsi sebagai pasak bumi, siklus hidrologi yang menggerakkan air, hingga pergerakan angin yang membentuk awan, semuanya adalah bagian dari sistem alam yang sempurna.
Ia menekankan ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk Surah An-Nur ayat 43, yang menggambarkan proses terbentuknya hujan sebagai sunnatullah, yakni hukum alam yang teratur dan bukan peristiwa kebetulan.
“Alam mengambil haknya untuk kembali seimbang ketika manusia merusaknya. Bencana bukan cacat ciptaan, tetapi konsekuensi dari ketidakharmonisan kita dengan alam,” tuturnya.
Dengan pengalaman riset mengenai siklon tropis di Taiwan, Prof. Agus menjelaskan bahwa kejadian meteorologi ekstrem dapat diprediksi melalui teknologi dan riset multidisiplin. Namun Indonesia masih tertinggal dalam kesiapsiagaan karena kurangnya integrasi keilmuan dan minimnya perencanaan kebencanaan yang komprehensif.
“Tugas manusia adalah berikhtiar dengan ilmu, bukan pasrah lalu menyalahkan fenomena alam,” tegasnya.
Mengakhiri kajian, Prof. Agus mengajak jamaah untuk memperbaiki cara pandang terhadap hujan dan fenomena alam.
“Tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang menyebut hujan sebagai musibah. Hujan adalah rahmat. Yang menjadikannya musibah adalah manusia yang tidak mengelolanya,” ujarnya.
Ia pun menutup dengan pesan mendalam. “Jangan mudah mengeluh. Ketika hujan turun, Rasulullah justru mengajarkan kita untuk berdoa. Karena itu tanda rahmat, bukan bencana,” pungkasnya. (Jeed)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow