42 Tahun Jadi Wartawan, Haedar Nashir Akhirnya Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers
JAKARTA — Empat puluh dua tahun bukan waktu yang singkat bagi Prof. Haedar Nashir, untuk menapaki dunia jurnalistik. Sejak 1984, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Suara Muhammadiyah, media tertua di Indonesia yang telah terbit sejak 1915 dan masih eksis hingga sekarang menginjak usia 111 tahun.
Kini, setelah lebih dari empat dekade bergelut dengan dunia pers, Haedar akhirnya menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers. Pengakuan tersebut diserahkan dalam puncak peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah di Auditorium KH Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Kamis (13/8).
“Setelah 42 tahun menjadi wartawan, saya baru dapat kartu wartawan dari Dewan Pers. Ini sesuatu yang sudah lama saya impikan,” ujar Haedar.
Ia menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang membantu proses pengajuan kartu tersebut, terutama Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah serta Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Namun, bagi Haedar, kartu tersebut bukan sekadar tanda pengakuan profesi. Di baliknya terdapat perjalanan panjang, pengalaman, tempaan, sekaligus kecintaan terhadap dunia jurnalistik yang telah membentuk cara berpikir dan cara pandangnya.
Haedar mengawali perjalanan jurnalistiknya sebagai wartawan Suara Muhammadiyah pada 1984. Ketika itu, ia masih muda dan harus menjalani proses panjang untuk benar-benar ditempa menjadi wartawan lapangan.
Hampir lima tahun ia digojlok oleh redakturnya untuk mencari dan memungut berita dari berbagai tempat. Ia bepergian dengan bus, berjalan kaki, menggunakan kereta, hingga berbagai moda transportasi lainnya, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa. Pengalaman tersebut membentuk dirinya sebagai seorang wartawan.
Namun, menjadi wartawan pada masa itu tak mudah. Tidak semua tulisan yang dibuatnya langsung diterima. Bahkan, ia masih mengingat pengalaman ketika tulisannya dikembalikan atau disobek di hadapannya. Tak jarang pula dicoret dengan pulpen tinta merah untuk mengoreksi tulisannya secara langsung.
“Bayangkan masih muda dan ingin belajar, tapi diperlakukan seperti itu,” kenangnya.
Meski sempat membuatnya sakit hati, pengalaman tersebut justru menjadi sekolah penting baginya. Ia terus belajar, menulis kembali, memperbaiki kesalahan, hingga akhirnya tulisannya diterima.
“Dari situ saya belajar menulis,” ujarnya.
Dari pengalaman tersebut, Haedar kemudian berkembang menjadi redaktur dan mulai menulis kolom. Ia mengaku pengalaman ditempa secara ketat itulah yang kemudian membuat dirinya tidak toleran terhadap tulisan yang dibuat secara asal-asalan.
“Di situlah kemudian menjadi bagian dari mengontrol sebuah tulisan agar diterima dengan baik. Itulah perjalanan yang saya pegang,” katanya.
Kecintaan terhadap dunia pers bahkan tetap dipertahankan ketika ia dipercaya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah pada Muktamar ke-47 tahun 2015. Haedar mengaku pernah meminta agar tetap dapat menjalankan peran sebagai Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah.
“Saya minta ingin tetap bertahan menjadi Pemred Suara Muhammadiyah karena dunia saya di situ,” tuturnya.
Perjalanan Haedar tidak hanya di Suara Muhammadiyah. Ketika menjadi dosen muda di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ia mulai menulis untuk media nasional, termasuk Kompas. Menembus halaman Kompas bukan perkara mudah dan Ia harus berkali-kali mengirim tulisan sebelum akhirnya diterbitkan.
“Tidak banyak yang bisa menulis di Kompas karena menjadi salah satu standar tertinggi. Berkali-kali baru tembus dan kalau sudah tembus, selanjutnya mudah,” ujarnya.
Setelah tulisannya diterima, ia bahkan mulai mendapat permintaan untuk menulis. Bukan semata karena dirinya merupakan tokoh Muhammadiyah, tetapi karena kualitasnya sebagai penulis. Salah satunya di Republika, pada tahun 2000, di mana Haedar Nashir masuk dalam jajaran anggota PP Muhammadiyah, Ia diminta menjadi penulis refleksi secara rutin dan jika dihitung, ia telah menghasilkan sekitar 240 lebIh tulisan utuh di media tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan lanskap media turut memengaruhi kebiasaan menulisnya. Ketika Republika berubah menjadi media daring, Haedar mengaku semakin jarang menulis di sana.
“Saya masih konservatif. Media tulisan harus dicetak dan dibaca,” ujarnya sambil tersenyum. Sementara di Suara Muhammadiyah, ia tetap konsisten menulis. Setiap dua pekan, ia mengisi tulisan berupa tajuk maupun bingkai.
Perjalanan panjang tersebut membuat Haedar memiliki satu kesimpulan: menulis di media bukan sesuatu yang mudah karena ada proses seleksi dan penyuntingan. Berbeda dengan media sosial saat ini, siapa pun dapat menulis dan menyebarkan informasi tanpa melalui proses penyuntingan sebagaimana media konvensional.
“Dulu menulis tidak gampang,” tegasnya.
Salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan jurnalistiknya adalah ketika mewawancarai Mitsuo Nakamura, antropolog asal Jepang yang pernah melakukan penelitian tentang Muhammadiyah di Kotagede dan saat itu Haedar mewawancarainya dengan penuh kekaguman. Beberapa waktu kemudian, Nakamura kembali dan justru meminta Haedar untuk diwawancarai di kantor Suara Muhammadiyah.
Situasi tersebut menjadi pengalaman reflektif bagi Haedar. Orang yang dahulu ia wawancarai sebagai seorang wartawan, pada perjalanan waktu kemudian mewawancarainya dalam kapasitas sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.
“Itulah jalan hidup. Dulu wawancara dengan kagum, sampai beliau wawancara saya sebagai Ketua Umum,” ujarnya.
Bagi Haedar, perjalanan tersebut merupakan bagian dari jalan kehidupan yang telah Allah SWT gariskan.
“Itulah jalan Allah,” katanya.
Lebih jauh, Haedar memandang dunia pers sebagai dunia yang mulia. Dalam sejarah demokrasi modern, pers ditempatkan sebagai salah satu pilar penting kehidupan bernegara karena memiliki kekuatan menghadirkan informasi publik sekaligus menjadi alternatif dari kekuatan-kekuatan lainnya.
Menurutnya, pers memiliki tugas menghadirkan berbagai informasi dan perspektif kepada masyarakat. Karena itu, prinsip cover both sides menjadi penting dalam kerja jurnalistik.
Haedar menggunakan perspektif dramatologi untuk menjelaskan bahwa kehidupan sosial memiliki “panggung depan” dan “panggung belakang”.
Di depan, kehidupan sering kali penuh dengan drama, polesan, dan berbagai representasi yang tidak selalu sepenuhnya menggambarkan kenyataan. Sementara di belakang panggung terdapat realitas yang lebih sebenarnya.
“Kalau kita ingin tahu realitas sebenarnya, kita harus tahu keduanya, depan dan belakang, lalu cari titik tumpu kebenarannya di situ,” jelasnya.
Namun, menemukan kebenaran juga tidak selalu berarti berhenti pada persoalan benar dan salah. Dalam kehidupan sosial, terdapat dimensi etika yang harus dipertimbangkan.
“Boleh jadi ada yang benar, tapi tidak baik,” ujarnya.
Karena itu, Haedar menilai manusia perlu memadukan dimensi rasional dan spiritual. Pers juga perlu menjaga keseimbangan antara keberanian menyampaikan kebenaran dan tanggung jawab etis terhadap kehidupan bersama.
Haedar menyadari bahwa dunia pers saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Pers telah menjadi bagian dari industri yang di dalamnya terdapat kepentingan ekonomi, pemilik modal, hingga kepentingan politik.
Situasi tersebut semakin kompleks ketika pemilik media memiliki kekuatan ekonomi sekaligus politik.
“Di situlah bagaimana pers memainkan peran,” katanya.
Sementara itu, media sosial berkembang sebagai ruang informasi yang sangat terbuka dan cenderung sulit dikendalikan.
“Kalau media sosial, itu memang sudah liar, tapi itulah dunia kita saat ini,” ujar Haedar.
Karena itu, menurutnya, kemampuan literasi masyarakat menjadi semakin penting. Ia menilai keputusan menambahkan kata “literasi” dalam Hari Pers Muhammadiyah bukan tanpa alasan.
Islam sendiri, kata Haedar, memiliki tradisi literasi yang kuat. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad ﷺ diawali dengan perintah iqra atau membaca.
“Islam hadir melalui iqra melalui Surah Al-Alaq ayat 1. Artinya, Islam mempunyai tradisi literasi yang profetik,” jelasnya.
Haedar menegaskan bahwa profesi wartawan merupakan pekerjaan yang mulia karena memiliki mandat untuk menghadirkan informasi yang benar, baik, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Dunia wartawan, dunia pers adalah dunia yang mulia,” tegasnya.
Pers, menurut Haedar, harus terus menghadirkan alternatif narasi dan informasi yang dapat dipercaya masyarakat serta memberikan arah bagi kehidupan bersama.
Tantangannya memang tidak ringan. Ketika pers harus bergerak di antara kepentingan ekonomi, politik, dan tuntutan publik, para jurnalis seperti harus “mengayuh di antara banyak karang”.
Namun, ia percaya kecerdasan dan profesionalitas insan pers akan membuat media tetap mampu menjalankan perannya.
“Dengan kecerdasan, dengan kepiawaian kita dunia pers untuk tetap menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat, bagi publik, sesulit apa pun kita akan bisa menampilkan kebenaran,” katanya.
Ia juga menilai pemerintah dan seluruh lembaga negara membutuhkan pers. Eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI, Polri, maupun berbagai institusi lainnya membutuhkan informasi, masukan, dan kritik dari media massa.
Sebab, menurut Haedar, kehidupan sebuah bangsa justru dapat berkembang melalui kritik dan informasi yang beragam.
“Bangsa akan menjadi lebih maju,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap para elite bangsa memiliki kesadaran untuk terbuka, peduli, dan mau berbagi informasi dengan publik. Pers harus tetap menjalankan fungsi kritik, tetapi dengan etika dan orientasi pada kepentingan bangsa.
Pada akhirnya, Haedar menarik pengalaman panjangnya di dunia pers ke dalam konteks kehidupan kebangsaan.
Menurutnya, kebangsaan dibangun dari kehendak bersama. Perbedaan pandangan tidak harus menjadi sumber perpecahan, sebab Indonesia telah memiliki titik temu yang dikodifikasi melalui Pancasila dan UUD 1945.
“Kebangsaan punya persepsi masing-masing dan di situlah bangsa bisa hidup. Bangsa dihidupkan oleh kehendak bersama,” katanya.
Kehendak bersama tersebut, menurut Haedar, harus diarahkan pada cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi kemasyarakatan, dunia akademik, dan pers untuk terus menjaga arah kehidupan kebangsaan.
Kritik terhadap pemerintah, DPR, lembaga hukum, maupun institusi negara lainnya, menurut Haedar, semestinya ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk membuat Indonesia lebih maju. Ketika ormas keagamaan, ketika dunia akademik atau kampus, ketika dunia pers atau media memberi kritik terhadap langkah-langkah pemerintah, langkah-langkah DPR, langkah-langkah lembaga hukum, peradilan dan sebagainya, semuanya itu ingin membawa bangsa ini menjadi lebih maju.
Ia menilai persoalan Indonesia ke depan semakin berat sehingga membutuhkan kebersamaan yang tidak sekadar bersifat simbolik, tetapi diarahkan pada kerja produktif untuk menyelesaikan persoalan bangsa.
“Semangat kita adalah semangat untuk menampilkan kebenaran, kebaikan dan hal-hal yang penting untuk kepentingan bangsa dan negara,” tegasnya.
Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar menegaskan bahwa berbagai ikhtiar yang dilakukan Persyarikatan pada akhirnya diarahkan untuk kepentingan bangsa. Ia berharap Indonesia dapat tumbuh menjadi bangsa yang unggul dan mampu bersaing dengan negara-negara lain, sebagaimana cita-cita yang juga terus digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan para elite bangsa.
Untuk itu, kehidupan kebangsaan harus ditata berdasarkan prinsip-prinsip konstitusi dan kebersamaan yang substantif.
“Masalah Indonesia itu semakin berat, maka memerlukan kebersamaan dari kita,” katanya.
Bagi Haedar, pers memiliki posisi penting dalam ikhtiar tersebut. Dengan menghadirkan informasi yang benar, kritik yang konstruktif, serta narasi yang mencerdaskan, pers ikut menjaga agar bangsa tetap berjalan pada arah yang benar.
“Masyarakat yang jernih, termasuk pers dan ormas, tidak menuntut banyak. Hanya menuntut arah bangsa yang benar,” ujarnya.
Jika seluruh elemen bangsa mampu menyatukan kehendak bersama mengenai arah tersebut, Haedar optimistis Indonesia dapat melangkah lebih jauh.
Dalam konteks itulah, Muhammadiyah, kata Haedar, akan terus berada di garda terdepan membawa Islam Berkemajuan untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur sesuai prinsip Darul Ahdi wa Syahadah.
“Pers harus terus menjaga kebenaran, kebaikan, dan kepentingan bangsa,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow