Wamendiktisaintek Stella Ajak Kader NA Tepis Bias Gender dan Mitos Kemampuan STEM Perempuan

Wamendiktisaintek Stella Ajak Kader NA Tepis Bias Gender dan Mitos Kemampuan STEM Perempuan

Smallest Font
Largest Font

SURAKARTA — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Stella Christie, menegaskan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan alamiah antara perempuan dan laki-laki dalam bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics - STEM). Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Forum Strategis I Muktamar ke-15 Nasyiatul ‘Aisyiyah yang mengusung tema "Meningkatkan Kapasitas Perempuan Muda di Era Society 5.0 Mewujudkan Kebijakan yang Responsif Gender", Jumat (7/8) di Surakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Stella mematahkan stigma historis yang pernah dilontarkan oleh mantan Rektor Harvard University, Larry Summers, pada 2005 lalu yang menyebut kemampuan sains dan matematika perempuan secara genetik lebih rendah dibanding laki-laki. Stella membeberkan serangkaian riset dan data empiris dari pakar sains kognitif Harvard University, Prof. Elizabeth Spelke, guna membuktikan bahwa prasangka tersebut tidak berdasar.

"Bukti empiris menunjukkan bahwa sejak usia dini, tidak ada perbedaan signifikan secara statistik antara anak perempuan dan laki-laki dalam pemahaman angka, estimasi matematika, maupun geometri dasar. Bahkan pada beberapa kategori seperti performa tinggi (high performance) dan kemampuan navigasi spasial, anak perempuan sering kali mencatatkan hasil yang lebih unggul," ujar Stella di hadapan ratusan peserta forum.

Ia menambahkan bahwa sejak lahir, manusia telah dibekali kemampuan kognitif numerik yang setara tanpa membedakan gender. Oleh karena itu, ia mengimbau para pendidik, khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), untuk tidak menerapkan pola pengajaran yang diskriminatif atau berprasangka bahwa anak laki-laki lebih unggul dalam mata pelajaran berbasis STEM.

Meskipun secara kognitif setara, fakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan (gender gap) yang lebar pada partisipasi perempuan di sektor STEM. Berdasarkan data survei global yang dipaparkan, persentase lulusan STEM perempuan di Indonesia hanya mencapai 12,39 persen, berbanding jauh dengan lulusan pria yang mencapai 29,3 persen.

Stella menegaskan bahwa ketimpangan ini bukan disebabkan oleh perbedaan kapasitas otak, melainkan akibat bias gender dan stereotip sosial yang tertanam di masyarakat. Hal ini berdampak pada diskriminasi proses rekrutmen kerja hingga penawaran tingkat gaji yang lebih rendah bagi perempuan.

Lebih lanjut, ia memeringatkan agar masyarakat tidak mengandalkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai solusi netral untuk menghapus bias.

"Penggunaan AI dalam rekrutmen atau pengambilan keputusan justru berpotensi memperburuk bias gender jika data histori yang digunakan untuk melatih sistem tersebut sudah terpolusi oleh stereotip manusia. AI mengambil keputusan berbasis data historis, sehingga sampah yang masuk akan menghasilkan sampah yang keluar (garbage in, garbage out)," terangnya.

Ketimpangan partisipasi perempuan di sektor produktif dinilai memberikan dampak negatif langsung terhadap efisiensi ekonomi dan sosial negara. Padahal, dari sisi partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia, perempuan memegang proporsi sebesar 56 persen dari total mahasiswa. Namun, angka tersebut merosot tajam ketika memasuki dunia kerja, khususnya pada industri sains dan teknologi.

Menutup keterangannya, Prof. Stella mengajak seluruh elemen masyarakat dan organisasi perempuan untuk aktif mengikis stereotip gender dari tingkatan keluarga hingga profesional. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada penguatan pendidikan STEM di Indonesia, termasuk melalui pengembangan sekolah-sekolah unggulan.

"Kemampuan yang diberikan Tuhan kepada perempuan harus kita kembangkan seoptimal mungkin. Sosok seperti Marie Curie membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi satu-satunya ilmuwan di dunia yang meraih dua Hadiah Nobel di dua bidang sains berbeda. Kita semua bertanggung jawab untuk menghentikan penurunan bias ini kepada generasi mendatang demi kejayaan bangsa," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow