Suasana Berhaji Dirasakan di LP Wirogunan, Seratus Santri Bertalbiyah hingga Menangis
YOGYAKARTA — Suasana haru dan khusyuk menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta saat 100 warga binaan mengikuti manasik haji yang digelar di lingkungan lapas, Sabtu (30/5). Meski berada di balik jeruji besi, para peserta mengaku dapat merasakan nuansa spiritual layaknya berada di Tanah Suci.
Kepala Lapas Kelas IIA Wirogunan, Marjiyanto, menyebut para warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai “santri”. Dengan mengenakan kain ihram dan tanpa alas kaki, mereka menjalani setiap rangkaian manasik dengan penuh kesungguhan. Bahkan, beberapa peserta yang bertubuh penuh tato tampak larut dalam kekhusyukan saat melantunkan talbiyah.
Kegiatan diawali di Masjid Al Fajar dengan pengantar dan refleksi tentang wukuf di Arafah yang disampaikan oleh Ustaz Munif Tauhid, Kalapas Marjiyanto, Taufik Ridwan, serta salah satu santri binaan, Nur Ahmad Afandi. Suasana semakin syahdu ketika seluruh peserta bersama-sama melantunkan shalawat.
Air mata mulai menetes dari sejumlah peserta saat talbiyah dikumandangkan berulang kali. Momen tersebut menjadi pengingat akan perjalanan hidup sekaligus harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Direktur Utama Latifa Haramain, H. Taufik Ridwan, memandu para peserta menjalani rangkaian manasik. Mereka diajak mengambil simbolis “kerikil” yang kemudian diganti dengan biji jagung untuk prosesi lempar jumrah ula, wusta, dan aqabah.
Bagi para santri binaan, prosesi lempar jumrah memiliki makna yang mendalam. Mereka memaknainya sebagai simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, godaan setan, dan berbagai kesalahan masa lalu yang mengantarkan mereka menjalani masa pembinaan di lapas.
Tak sedikit peserta yang menangis saat menjalani prosesi tersebut. Beberapa di antaranya mengaku teringat berbagai peristiwa yang telah menghancurkan keharmonisan keluarga dan masa depan mereka.
Setelah lempar jumrah, peserta melanjutkan rangkaian tawaf mengelilingi replika Ka'bah dan sa'i. Dalam suasana doa yang khusyuk, banyak santri kembali tak mampu menahan haru.
“Saya sangat berharap kelak setelah keluar dari Wirogunan bisa berangkat ke Tanah Suci, baik untuk umrah maupun haji,” ujar Mery, salah satu santri binaan yang telah menghafal 13 juz Al-Qur'an.
Menurut pengelola pembinaan keagamaan, banyak warga binaan di Lapas Wirogunan yang memanfaatkan waktu selama masa pembinaan untuk memperdalam ilmu agama. Sejumlah santri tercatat telah menghafal lebih dari lima juz Al-Qur'an, bahkan ada yang mengaku telah mengkhatamkan Al-Qur'an hingga 217 kali.
Ustaz Munif Tauhid menegaskan bahwa kehidupan di dalam lapas tidak selalu identik dengan penderitaan. Menurutnya, banyak warga binaan justru menemukan ruang untuk memperbaiki diri melalui berbagai kegiatan pembinaan keagamaan yang rutin dilaksanakan.
“Jangan mengira orang yang menjalani kehidupan di dalam penjara itu hanya hidup dalam kesengsaraan. Banyak hikmah yang bisa didapat. Mereka bisa lebih fokus mengaji, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam karena hampir setiap hari ada kajian keislaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai aktivitas pembinaan tersebut juga dapat disaksikan keluarga melalui siaran Vertizone TV, sehingga keluarga di rumah dapat mengetahui perkembangan positif anggota keluarganya selama menjalani masa pembinaan.
Kegiatan manasik haji yang berlangsung di halaman tengah Lapas Wirogunan itu ditutup dengan makan bersama yang dihadiri para peserta dan didampingi sejumlah pengurus Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Daerah Istimewa Yogyakarta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
1
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow