Riduwan: Bisnis Muhammadiyah Harus Profesional, Bukan Sekadar Ikut Peluang

Riduwan: Bisnis Muhammadiyah Harus Profesional, Bukan Sekadar Ikut Peluang

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Riduwan, S.E., M.Ag., menekankan pentingnya penguatan tata kelola dan perencanaan bisnis yang matang dalam pengembangan Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM).

Hal tersebut ia sampaikan saat memantik diskusi dalam Focus Group Discussion (FGD) Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) PWM DIY mengenai penguatan tata kelola BUMM, Sabtu (7/3).

Riduwan menyoroti bahwa salah satu persoalan yang masih dihadapi dalam pengelolaan bisnis Muhammadiyah adalah komunikasi yang belum berjalan optimal antar unit dan level organisasi.

“Komunikasi ini perlu diperbaiki. Jangan sampai tersumbat, karena itu menjadi problem serius dalam pengembangan usaha,” ujarnya.

Menurutnya, Muhammadiyah memiliki potensi besar dalam bidang ekonomi melalui berbagai unit usaha yang dikelola di tingkat wilayah maupun daerah. Namun potensi tersebut perlu ditata melalui perencanaan bisnis yang lebih terstruktur dan terintegrasi.

Ia menilai penyusunan business plan menjadi fondasi penting untuk menata sistem holding company di tingkat PWM, sehingga berbagai unit usaha Muhammadiyah dapat berkembang secara sinergis. Riduwan juga menyinggung perlunya pemerataan peran dalam pengelolaan perusahaan agar tidak terjadi rangkap jabatan pada individu tertentu.

Di sisi lain, ia menyoroti fenomena yang selama ini kerap terjadi, yakni keberhasilan individu dalam bisnis pribadi yang belum tentu berbanding lurus dengan keberhasilan dalam mengelola bisnis Muhammadiyah.

“Sering kali orang berhasil dalam bisnisnya sendiri, tetapi belum tentu berhasil ketika menjalankan bisnis Muhammadiyah. Padahal seharusnya pengalaman itu bisa menjadi pengungkit,” katanya.

Menurut Riduwan, ukuran keberhasilan bisnis Muhammadiyah bukan hanya pada keberlanjutan usaha, tetapi juga pada kontribusinya terhadap organisasi. Salah satunya melalui target kontribusi kolektif 25 persen terhadap Rencana Anggaran Belanja (RAB) PWM DIY.

Dalam pengembangan bisnis, ia juga menegaskan pentingnya analisis pasar sebelum memulai usaha, bukan sekadar mengikuti peluang yang terlihat.

“Bisnis harus menjawab kebutuhan pasar. Karena itu analisis pasar menjadi penting, sehingga kita tahu kebutuhan apa yang bisa kita penuhi,” jelasnya.

Selain perencanaan bisnis, Riduwan juga mendorong penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) serta penguatan konsep Good Sharia Governance sebagai ciri khas pengelolaan bisnis Muhammadiyah.

Menurutnya, kepatuhan terhadap prinsip syariah menjadi bagian penting dalam memastikan bisnis Muhammadiyah berjalan secara profesional sekaligus tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarunit usaha Muhammadiyah agar tidak terjadi persaingan internal di sektor yang sama.

“Kolaborasi itu penting, tetapi perlu ada pembagian sektor yang jelas supaya tidak saling berhadapan dalam satu pasar,” ujarnya.

Riduwan berharap penguatan perencanaan, tata kelola, serta sinergi antar unit usaha dapat mendorong bisnis Muhammadiyah berkembang lebih modern dan berdaya saing.

“Sudah waktunya bisnis Muhammadiyah dikelola secara profesional seperti perusahaan modern, tetapi tetap membawa nilai-nilai persyarikatan,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow