Profesor Ketua PCM ini Paparkan Upaya Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk Menjaga Alam
YOGYAKARTA — Krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga persoalan etika dan iman. Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., pada Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY hari Ahad (1/3) dalam materi “Etika Islam & Edu-Ekologi dalam Menjaga Keseimbangan Alam" menekankan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab keislaman.
Guru Besar sekaligus Kepala Biro Sarana dan Prasarana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sleman ini menjabarkan lima prinsip utama etika Islam dalam menjaga keseimbangan alam.
Pertama, menjaga dan melindungi alam. Ia merujuk pada QS. Ar-Rum: 41 yang menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. “Ayat ini menjadi peringatan bahwa krisis lingkungan adalah konsekuensi moral,” ujarnya.
Kedua, menghargai alam sebagai subjek, bukan sekadar objek eksploitasi. QS. Al-A’raf: 56 melarang manusia berbuat kerusakan setelah bumi ditata dengan baik. Sementara QS. An-Nahl: 112 mengingatkan bahaya kufur nikmat yang berujung pada bencana sosial-ekologis.
Ketiga, memiliki tanggung jawab moral menjaga kelestarian alam. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menegaskan kesucian wilayah tertentu yang tidak boleh dirusak ekosistemnya.
Keempat, menumbuhkan solidaritas terhadap sesama makhluk hidup. Ia mencontohkan kisah perempuan yang memberi minum anjing kehausan dan diampuni dosanya oleh Allah, sebagai gambaran bahwa kepedulian ekologis bernilai ibadah.
Kelima, hidup sederhana dan tidak boros. Hadis riwayat Ahmad tentang larangan berlebihan saat berwudu, bahkan di sungai yang mengalir, menjadi landasan gaya hidup berkelanjutan.
“Islam sudah meletakkan fondasi ekologis sejak awal. Tantangannya adalah bagaimana nilai ini diinstitusionalkan,” tegasnya.
Secara nasional, 67,8% sampah di Indonesia belum terkelola dengan baik. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, komposisi sampah didominasi sisa makanan (50,05%), plastik (24,39%), dan kertas/karton (14,61%). Menariknya, mahasiswa menyumbang 38% dari total sampah plastik di DIY, terbanyak kedua setelah sektor pasar.
“Artinya kampus tidak boleh menjadi bagian dari masalah. Perguruan tinggi harus menjadi center of excellence atau pusat keunggulan solusi lingkungan,” tegasnya.
Sebagai wujud komitmen, UAD membangun sistem pengelolaan lingkungan terpadu. Dengan pengelolaan sampah terukur, kampus memperoleh data yang menunjukkan tren positif. Dari 2024 residu sampah sebesar 72% (98.786 kg) ke tahun 2025 jadi turun menjadi 29% (52.066 kg). UAD mempunyai target di tahun 2026 untuk menurunkan residu sampah lebih signifikan.
Dalam penerapannya, sampah organik diolah menjadi kompos bermerek “PupukMu 100% Produk Kompos Organik”, melalui proses pencacahan, pengeringan, penggilingan, hingga pengomposan.
Sementara sampah plastik residu diolah menggunakan teknologi pirolisis, mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak (bio-oil) yang telah diuji parameter fisika-kimianya di laboratorium.
Tidak hanya sampah, UAD juga menerapkan sistem pengelolaan air berkelanjutan. Melalui deepwell untuk kebutuhan domestik kampus. Ditambah rainwater harvesting dengan kapasitas tampung hingga 2.500 m³ di Kampus 4. Hingga Sewage Treatment Plant (STP) dengan metode extended aeration process. Tak hanya itu, air limbah hasil olahan dimanfaatkan kembali untuk flushing toilet, penyiraman tanaman, dan sistem hidran.
UAD juga sangat memperhatikan penggunaan listrik dan energi. Kampus menargetkan efisiensi energi listrik hingga 15% dalam setahun melalui langkah-langkah seperti penerapan 5 hari kerja untuk mengurangi durasi penggunaan fasilitas kampus, pembatasan suhu minimal AC di 20 °C dan penggunaan teknologi AC Inverter, hingga transisi ke lampu LED dan pembiasaan penggunaan cahaya matahari alami.
Kampus juga memperhatikan perilaku dan mobilitas melalui kampanye penggunaan tangga untuk mengurangi beban elevator serta optimalisasi penggunaan dispenser dan ruang. Di samping itu, juga menggunakan energi terbarukan lewat pemasangan panel surya sebagai sumber energi alternatif.
Agar penggunaan listrik dan energi hemat daya lebih optimal, UAD memiliki desain bangunan yang dioptimalkan untuk mengurangi ketergantungan pada perangkat elektronik. Dengan menggunakan struktur "sirip" pada eksterior gedung untuk mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk namun tetap menjaga aliran udara. Desain ini memungkinkan sirkulasi udara silang agar ruangan tidak pengap tanpa harus selalu bergantung pada AC.
UAD juga fokus pada aspek ekologis untuk menciptakan lingkungan belajar yang asri. Ada hutan kampus yang menyediakan area hijau sebagai paru-paru lingkungan universitas ditambah terdapat tanaman dinding (vertical garden) yang memanfaatkan bidang vertikal gedung untuk vegetasi guna menurunkan suhu mikro di sekitar bangunan.
Pihak kampus juga konsisten melakukan konservasi terhadap jenis tumbuh-tumbuhan yang sudah jarang ditemukan.
Sementara itu, edukasi dan budaya lingkungan diperkuat dalam kampus melalui larangan plastik sekali pakai, kewajiban membawa tumbler dan wadah makan, sampai tanggung jawab vendor terhadap sampah. UAD juga mempunyai sistem tim pengelolaan profesional (edukasi, operasional, sarpras, pembinaan santri), dibantu oleh kampanye digital bersama komunitas. Bahkan, menjadi rujukan pembelajaran bagi Dinas Lingkungan Hidup Bantul, DPRD Bantul, kelurahan, hingga sekolah/madrasah.
Dengan semua upaya yang dilakukan oleh UAD, Zahrul menegaskan, menjaga lingkungan bukan sekadar program kampus, tetapi bagian dari dakwah peradaban.
“Etika Islam tidak berhenti pada ibadah ritual. Ia harus hadir dalam cara kita mengelola sampah, air, dan sumber daya. Inilah edu-ekologi: pendidikan yang melahirkan kesadaran ekologis berbasis iman,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow